Terkini...




0

Buah Cahaya Dan Kelazatan

Assalamaualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Ketahuilah bahwa ramai orang yang kehilangan neraca kebenaran dalam memandang fenomena zahir sebagai pengaruh iman, ibadah yang benar dan mujahadah.
Hasilnya, mereka terjerumus dalam berbagai kekeliruan berbahaya yang mengancam keselamatan aqidah, konsep dan perilaku mereka dalam hidup ini.
Akibat dari fahaman tersebut, rosaklah ucapan, perbuatan dan jalan yang menghantarkan mereka kepada Allah dan jadilah mereka golongan yang binasa.
Imam Hasan Al Banna menyebut usul ketiga dari dua puluh usul yang terkandung dalam Rukun Faham (Al Fahmu) seperti berikut : 
"Iman yang tulus, ibadah yang benar dan mujahadah adalah cahaya dan kelazatan yang Allah percikkan ke dalam hati hamba-hambaNya yang Ia kehendaki. Akan tetapi ilham, lintasan hati, kasyaf dan mimpi, itu semua tidak termasuk sumber hukum syariat Islam dan tidak pula diperhitungkan (diperhatikan), kecuali dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama dan nash-nashnya."
Iman yang tulus ialah iman yang merangkumi pengertian dan ciri-ciri keimanan, seperti bersih dari syirik, ria dan kelemahan. Iman yang tulus akan meresap ke dalam hati dan bertakhta di jiwa anggota zahir untuk melakukan taat  kepada Allah dan menjadikan perkara-perkara ghaib seolah-olah hadir di depan mata.
Ia akan memenuhi jiwa dengan perasaan tenang, tabah dan tetap pendirian hingga :
  1. Memudahkan mereka yang mempunyai iman seperti ini berkorban apa sahaja demi jalan  Allah.
  2. Menambahkan pergantungan, kepercayaan, tawakkal, takut dan penyerahan mereka kepada Allah. 
Apabila pengertian iman yang seperti ini memenuhi hati seorang Muslim, jiwanya akan ringan melakukan segala bentuk ibadah dan ikhlas kerana Allah semata-mata. Ibadah dan iman yang seperti ini mempunyai pengaruh dan kesan yang besar dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Kehidupan akan dipenuhi  dengan kebahagian, kegembiraan dan ketenangan yang meresap ke seluruh dinding jiwa. Kegemilangan yang sungguh indah dan cahaya yang terang akan memenuhi batin seorang Muslim.
Apabila cahaya batin ini bertambah, sinarnya akan melimpah pada wajah seseorang Muslim; sinar yang dapat dilihat pada  wajah orang-orang yang beriman walaupun kulit seorang Muslim itu hitam atau sawo matang. Manakala di akhirat pula kemanisan iman ini akan dapat dirasakan lebih manis dari madu. 
Sebahagian dari tanda-tanda zahir bagi kemanisan iman ialah kecintaan seorang Mukmin untuk melakukan ibadah di mana mereka :
  1. Merasa selesa dan tenang melakukannya.
  2. Merasa rindu dan lapang dada terhadapnya.
Kita jangan  merasa pelik dan menganggap bahawa perkara ini hanyalah khayalan semata-mata kerana iman mempunyai kelazatan yang dapat dirasakan oleh roh sebagaimana lidah dapat merasakan kelazatan zat makanan.
Hadith yang mulia telah  menyebutkan : 
"Jika terdapat tiga perkara ini pada seseorang beliau akan merasakan kelazatan iman. Beliau mengasihi Allah dan rasulnya lebih dari sesuatu. Beliau benci kembali kepada kekufuran, setelah Allah melepaskan beliau darinya, sebagaimana beliau benci dicampakkan ke dalam neraka. Beliau mengasihi seseorang bukan kerana sesuatu, tetapi hanyalah kerana Allah".
Iman adalah kelazatan dan kelazatan ini akan bertambah apabila iman bertambah kuat dan terpatri dengan kukuh di dalam jiwa manusia.
Syeikh Abdullah Qasim Al-Wasyli mengungkapkan dalam syarahnya berkenaan usul diatas seperti berikut :
PERTAMA : IMAN YANG TULUS
Iman yang tulus bererti :
  1. Mengikrarkan dengan lisan.
  2. Membenarkan dengan hati.
  3. Beramal dengan anggota badan.
Imam Syafi'i dalam kitabnya 'Al-Umm' berkata :
"Kesepakatan para sahabat, tabi'in, dan generasi sesudah mereka yang kami ketahui, mengatakan bahwa iman adalah ucapan, perbuatan, dan niat, salah satu di antara ketiganya tidak mencukupi kecuali dengan yang lain."
Imam Ahmad berkata :
"Oleh kerana itu, menurut "Ahlus Sunnah", ungkapan yang mengatakan bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan termasuk syiar-syiar Sunnah."
Nash-nash Al-Quran dan hadits yang menunjukkan pengertian di atas sangat banyak dan terkenal. Mereka sepakat bahwa orang yang mengikrarkan keimanan dengan lisannya secara nyata, namun mendustakan dengan hatinya, tidak termasuk seorang mukmin.
Orang seperti inilah yang disebut munafik, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya :
"Dan di antara sebahagian manusia ada segolongan yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir." Padahal mereka tidak termasuk orang-orang yang beriman." (QS Al-Baqarah : 8 )
Dalam firman-Nya yang lain, Allah menjelaskan bahwa bagi mereka disediakan azab yang lebih berat daripada orang yang jelas-jelas menentang (kufur), dengan memasukkan mereka pada tingkatan neraka yang paling rendah :
"Sesungguhnya orang-orang munafik berada pada tingkatan yang paling rendah dari neraka." (QS An-Nisaa' : 145)
Para ulama' sepakat bahwa pengakuan dengan hati sahaja tidak cukup untuk merealisasikan makna iman. Oleh yang demikian, pengakuan mestilah diikuti oleh ikrar dengan lisan.
Fir'aun dan kaum-nya mengakui kebenaran Musa dan Harun as namun mereka adalah kafir.
Allah swt berfirman tentang perkataan Musa kepada Fir'aun :
"Sesungguhnya kamu (Fir'aun) telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu, kecuali Tuhan Yang Memelihara langit dan bumi sebagai bukti yang nyata." (QS Al-Isra': 102)
Orang-orang Ahli Kitab dahulu mengenal dan mengakui Nabi kita saw, namun mereka tidak beriman kepadanya.
Allah swt berfirman :
"Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mengenal-nya (Muhammad) sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka tidak beriman." (QS Al-An'aam : 20)
Bahkan iblis juga mengenal Allah, tetapi ia tetap menjadi pemimpin orang-orang kafir.
Para ulama' sepakat bahwa apabila seorang hamba telah membenarkan dengan hatinya dan mengikrarkan dengan lisannya, namun menolak untuk beramal, maka ia termasuk orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya dan berhak mendapatkan ancaman siksa yang Allah sebutkan dalam kitab suci-Nya dan diberitahukan oleh Rasul-Nya saw. Selain itu, ia juga mendapat hukuman di dunia.
Tidak ada perbezaan pendapat di kalangan ahlus sunnah bahwa dengan melihat rahmat dan janji Allah, iman yang mencakupi pembenaran, pernyataan dan amal menjadikan seseorang masuk syurga dan tidak kekal di neraka.
Sedangkan menurut pandangan hukum dunia, iman adalah cukup dengan mengikrarkan dua kalimat syahadah. Siapa yang mengikrarkan keduanya diperlakukanlah hukum dunia kepadanya. la dituntut untuk komitmen dengan akibat-akibatnya, mendapat hak-haknya, dan ia tidak dihukum sebagai kafir, kecuali apabila melakukan ucapan ataupun perbuatan yang merosak syahadahnya.
Prinsip ini berdasarkan kepada sabda Rasulullah saw :
"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Jika mereka mahu mengatakannya, ertinya mereka telah menjaga darah dan harta-harta mereka dari (tindakan)ku kecuali dengan haknya." (HR Muslim)
Jika kita telah memahami ini, maka ketahuilah bahwa iman yang benar adalah mencakupi ketiga-tiga makna di atas tanpa terpisah-pisah.
Allah swt berfirman :
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS Al-Hujurat : 15)
KEDUA : IBADAH YANG BENAR
Ibadah yang benar adalah buah dari keimanan yang benar.
Para ulama' mendefinisikan bahwa ibadah adalah sebuah perkataan yang mencakupi segala perkara yang dicintai dan diridhai Allah, berupa ucapan dan perbuatan zahir ataupun batin.
Ibadah adalah tujuan yang dicintai dan diridhai Allah swt dan untuk itulah Allah menciptakan makhluk-Nya :
"Sesungguhnya Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah-Ku." (QS Az-Zaariyat : 56)
Untuk tujuan itu pula Allah swt mengutus rasul-rasul-Nya :
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada seorang rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu," maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya." (QS An-Nahl : 36)
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu,. melainkan Kami wahyukan kepadanya, "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku." (QS Al-Anbiya': 25)
Allah menjadikan ibadah itu sebagai sesuatu yang mesti dilakukan oleh Rasul-Nya sampai mati.
Allah swt berfirman :
"Dan sembahlah Tuhanmu hingga datang 'al-yaqin' (kematian)." (QS Al-Hijr : 99)
Secara keseluruhannya, agama termasuk ibadah berdasarkan hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Hanya, ibadah yang diperintahkan mencakupi dua makna sekaligus, iaitu kerendahan dan kecintaan.
Ibadah mengandungi makna puncak kehinaan dan kecintaan kepada Allah swt :
"Katakanlah, "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS At-Taubah : 24)
Jika ibadah yang benar adalah ibadah yang mencakupi makna-makna di atas, maka ibadah itu tidak benar dan tidak diterima di sisi Allah apabila belum dilakukan oleh seseorang hamba sesuai dengan syariat Allah.
Ini adalah kerana Allah tidak menerima amal perbuatan mahupun ucapan, kecuali yang disyariatkan dan diperintahkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Allah swt tidak akan menerima ibadah-ibadah baru yang diada-adakan oleh hamba-hamba-Nya.
Rasulullah saw bersabda :
"Barangsiapa membuat perkara-perkara yang baru (yang tidak termasuk) dalam agama kami, maka ia tertolak."
Dalam riwayat lain :
"Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dalam ajaran agama kami, maka ia tertolak."
Dalam riwayat yang lain :
"Sesungguhnya setiap yang baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah 'dhalalah' (sesat).
KETIGA : MUJAHADAH
Ibadah yang benar tidak mungkin dapat diwujudkan dan dicapai kecuali dengan "Mujahadatun nafs wal hawa." (Bersungguh-sungguh mengendalikan diri dan memerangi nafsu).
Allah swt berfirman :
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar menyertai orang-orang yang berbuat baik." (QS Al-'Ankabut : 69)
Orang yang memahami ayat ini secara seimbang, tepat, mengetahui maknanya dan mengamalkannya akan memperolehi kebaikan yang sangat banyak.
Rasulullah saw telah menjelaskan hakikat mujahadah ini dengan sabdanya :
"Mujahid adalah seseorang yang berjihad melawan diri dan hawa nafsunya." (HR Ahmad)
Berjihad melawan diri adalah mengarahkannya kepada perintah Allah dalam segala perkara, di antaranya berjihad melawan syaitan dan hawa nafsu.
LANGKAH PERTAMA :
Langkah pertama dalam mujahadah adalah :
  1. Beriman kepada Allah.
  2. Mengesakan-Nya.
  3. Mengakui kerasulan Nabi Muhammad saw.
Dalam lingkungan Islam, kadang-kadang orang tidak menyedari bahwa masalah ini termasuk dalam bab mujahadah, sehingga ia tidak perlu menyebutnya.
Ini jelas satu kesalahan besar. Sesuatu yang dianggap paling besar adalah jika seseorang mampu beralih dari kekafiran menuju keimanan atau menyatakan imannya pada lingkungan yang menentang iman dan merendahkan pemeluknya.
Allah swt berfirman :
"Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." (QS At-Taghabun : 11)
LANGKAH KEDUA :
Langkah kedua adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban sesuai dengan waktunya, seperti: solat, puasa, zakat, haji, nikah, bermuamalah dan lain-lain.
LANGKAH KETIGA :
Langkah yang ketiga adalah secara tertib menjalankan ibadah-ibadah sunnah seperti : solat, sedekah, puasa, haji, doa, zikir dan membaca Qur'an.
LANGKAH KEEMPAT :
Langkah keempat adalah mengendalikan diri untuk sentiasa melaksanakan perkara-perkara yang bersifat 'azimah (ibadah-ibadah dalam bentuknya yang ideal) serta mentarbiyahkannya dengan amal-amal berat yang bermanfaat seperti: khalwat (menyendiri), diam kecuali dalam perkara-perkara yang mewajibkan berbicara, berjaga malam untuk beribadah, solat, tilawah, zikir, lapar kerana melakukan puasa pada hari-hari yang disunnahkan dan amal-amal lain yang disyariatkan.
LANGKAH KELIMA :
Langkah kelima adalah perenungan terhadap diri, hati, menyingkap penyakit-penyakit hati dan mengubatinya. Inilah langkah terakhir dalam mujahadah, sekaligus merupakan salah satu hasilnya yang utama.
Dua langkah terakhir inilah yang mendominasi pembahasan dan pembicaraan ramai kalangan tentang mujahadah.
Iman yang benar lagi sempurna, ibadah yang sahih sesuai dengan petunjuk syara' dan mujahadah yang terbingkai dengan kaidah dan ajaran syara' akan menghasilkan pengaruh besar yang nampak pada diri manusia di dunia dan akhirat.
Ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Hasan Al-Banna di permulaan tadi iaitu
"…cahaya dan kenikmatan yang Allah percikan ke dalam hati hamba-hambanya yang Ia kehendaki".
 Cahaya (nur) adalah perkara yang diisyaratkan dalam firman Allah swt :
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan." (QS Al-An'aam : 122)
Hakikat dan pengaruh iman telah diungkapkan oleh Sayyid Qutb dalam tafsirnya :
"Seseorang akan mendapati cahaya ini didalam hatinya, sehingga ia mendapatkan kejelasan dalam segala urusan, hal dan kejadian.
  1. Mendapatkan kejelasan dalam jiwa dan niat-niatnya, lintasan-lintasan hatinya, langkah serta geraknya.
  2. Mendapatkan kejelasan dalam segala hal yang berlaku di sekitarnya, baik yang berupa sunnatullah, aktiviti-aktiviti manusia, niat dan langkah-langkah mereka, yang nampak mahupun yang tersembunyi.
  3. Mendapatkan tafsir berbagai peristiwa dan sejarah dalam jiwa dan akalnya serta dalam realiti kehidupan di sekitarnya, seakan-akan ia membaca buku.
Seseorang yang telah mendapatkan cahaya ini dalam hatinya akan mendapatkan kecemerlangan dalam lintasan-lintasan hati, perasaan dan kemahuannya, sehingga ia pun mendapatkan kenikmatan dan kesejukan dalam hati, suasana dan masa depannya.
Ia akan mendapatkan kelembutan dan kemudahan dalam mengatur segala urusan dan mengeluarkan keputusan serta dalam menghadapi mahupun melewati kejadian. Ia akan mendapatkan ketenangan, kepercayaan dan keyakinan dalam segala situasi dan bila-bila pun juga." 
Cahaya yang mempunyai pengaruh luas dalam diri manusia dan menghasilkan banyak perkara yang menakjubkan yang terserlah jelas dalam kehidupan seorang mukmin di mana kemungkinan terbentuknya telah :
  1. Ditunjukkan oleh Al-Quran dan As-Sunnah.
  2. Dinyatakan oleh para ulama'.
  3. Didukung oleh kejadian-kejadian yang nyata.
Oleh kerana itu, Imam Hasan Al-Banna rahimahullah menyebutkannya dalam usul ini sebagai pengakuan akan kebenarannya, sekaligus memberi bingkai syar'ie agar orang-orang tidak mendapatkan pencerahan dari sumber-sumbernya yang hanya melalui bisikan nafsu dan inspirasi syaitan yang melampaui batas.
Ya Allah, kurniakanlah kepada kami iman yang tulus yang akan menjadikan kami golongan manusia yang melaksanakan ibadah yang benar. Berilah kekuatan kepada kami supaya kami sentiasa mampu bermujahadah terhadap diri kami sehingga Engkau bukakan jalan-jalan yang memudahkan kami menuju ke hadhratMu.
Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS
 http://tinta-perjalananku.blogspot.com/

0 comments:

Post a Comment

Alamat Perhubungan

Pertubuhan IKRAM Malaysia (IKRAM) Daerah Kuala Langat
No. A-2-08, Blok A, Tingkat 2,
Jalan Bunga Pekan 9,
Pusat Perniagaan Banting Uptown,
42700 Banting, Selangor.

GPS: 2.811313,101.503486


Back to Top