Terkini...




0

Dunia Kebendaan yang Tercela


Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,
Salah satu fitnah zaman moden dewasa ini ialah merebaknya ideologi "materialisma" atau kebendaan.
Ideologi ini berdasarkan gagasan bahwa material iaitu harta atau kekayaan merupakan kayu ukur mulia atau tidaknya seseorang.
Semakin kaya seseorang bererti ia dipandang sebagai orang mulia dan semakin sedikit material atau harta yang dimilikinya bererti ia dipandang sebagai seorang yang hina dan tidak patut dihormati.
Maka di dalam sebuah masyarakat yang telah diwarnai oleh kebendaan, setiap anggota masyarakat akan berlumba-lumba mengumpulkan harta sebanyak mungkin dengan apa cara sekalipun samada dengan jalan halal, syubhah ataupun haram.
Dalam sebuah masyarakat yang berideologi kebendaan, semua orang menjadi sangat irihati dan bercita-cita menjadi kaya setiap kali melihat ada orang berlimpah ruah harta bendanya di dalam kehidupan mereka.
Keadaan ini persis sebagaimana masyarakat Mesir di zaman hidupnya seorang tokoh yang kaya raya bernama Qarun yang digambarkan di dalam Al-Qur'an :
"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar".(QS Al-Qashshash : 79)
Zaman kita dewasa inipun keadaannya agak mirip dengan zaman Qarun tersebut.
Berbagai kemewahan dari tokoh-tokoh yang kaya terdiri dari penguasa, ahli politik, ahli perniagaan, artis, jaguh sukan dan lain-lain dipertontonkan di televisyen dan media massa lainnya sehingga masyarakat berasa kagum dan tentunya menjadi irihati dan bercita-cita ingin menjadi hartawan seperti mereka pula.
Sebegitu kuatnya cita-cita tersebut sehingga kadang-kadang muncullah berbagai peristiwa dan aktiviti yang mengerikan di tengah-tengah masyarakat kita dek kerana mengejar kebendaan seperti perdagangan bayi, pengedaran dadah, penjualan organ tubuh, pelacuran, rasuah, pencurian, rompakan dan lain-lainnya. 
Semua itu dilakukan kerana terbuai dengan mimpi ingin secara spontan menjadi seorang yang kaya.
Bardasarkan suasana ini, amat patutlah apabila Rasulullah saw mengajarkan kita suatu prinsip yang penting dalam hal untuk menghindari berkembangnya kemungkinan faham kebendaan di tengah masyarakat.
Nabi saw justeru mengajarkan umat Islam agar sentiasa rajin memandang kepada  kalangan yang kurang beruntung secara material daripada diri kita sendiri. Perkara ini diharapkan akan menumbuhkan rasa syukur dan ridha di atas pemberian Allah swt.
"Pandanglah orang yang lebih rendah daripada kamu dan janganlah memandang orang yang di atas kamu. Maka yang demikian itu lebih layak untuk dilakukan agar kamu tidak menganggap remeh akan nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kamu." (HR Muslim)
Betapa dalamnya pesanan Nabi saw di atas. Andaikata setiap kita berpegang teguh kepada prinsip di atas, niscaya masyarakat akan terhindar dari ideologi kebendaan.
Tidak mungkin akan muncul suatu anggapan bahwa harta merupakan kayu ukur kemuliaan seseorang. Setiap orang akan sentiasa rajin mensyukuri segenap kurniaan Allah yang telah diterimanya.
Islam mengajarkan bahwa kayu ukur kemuliaan sejati ialah taqwa seseorang kepada Allah swt :
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu". (QS Al-Hujurat :13)
Allah tidak pernah berfirman:
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling berharta di antara kamu".
Tidak...! Allah secara tegas menyatakan bahwa taqwa merupakan kayu pengukur samada  mulia atau hinanya seseorang di sisi Allah.
Semakin bertaqwa seseorang bermakna semakin mulia dirinya di sisi Allah dan sebaliknya semakin tidak bertaqwa seseorang bermakna semakin hinalah dirinya di sisi Allah Yang Maha Mulia dan perkara ini tidak berkaitan dengan banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki oleh orang tersebut.
Boleh jadi seseorang itu berharta sedikit atau banyak, asalkan ketaqwaannya kepada Allah memang tinggi, bererti mulialah dirinya di sisi Allah.
Sebaliknya, berapapun kekayaan atau kemisikinan seseorang, apabila ketaqwaannya kepada Allah sangat tipis, apalagi tidak ada sama sekali, bererti orang tersebut hina di dalam pandangan Allah.
Taqwa merupakan timbangan sebenar samada bernilai atau tidaknya seseorang dalam pandangan Allah yang Maha Tahu dan Maha Teliti PengetahuanNya.
Maka hadits riwayat Imam Muslim di atas sudah semestinya menjadi pegangan seorang yang beriman.
Hendaklah jelas kepada kita apabila menyangkut urusan harta dan kekayaan, seorang muslim janganlah memandang silau kepada orang yang berada di atas dirinya. Tapi sepatutnya ia sibuk memandang mereka yang lebih rendah daripada dirinya sehingga rasa syukur dan ridha akan pemberian Allah sentiasa terpelihara di dalam dirinya.
Bila ia sibuk memandang kepada mereka yang lebih kaya daripada dirinya, niscaya yang muncul adalah keluhan dan ketidakpuasan akan pemberian Allah kepada dirinya.
Maka di zaman Qarun hidup, ada sebahagian masyarakat Mesir yang tetap bersikap benar dalam memandang Qarun.
Mereka inilah yang disebut oleh Allah di dalam Al-Qur'an sebagai orang-orang yang berilmu dan mereka sangat faham akan hakikat kemuliaan dan kehinaan di dalam kehidupan fana ini.
"Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan tidak diperolehi pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar".(QS Al-Qashshash : 80)
Orang-orang yang berilmu sangat sedar bahwa pahala dari Allah kerana iman dan amal soleh seseorang jauh lebih utama dan berharga daripada sekadar harta dan kekayaan duniawi seperti yang dikumpulkan oleh seorang Qarun. 
Itulah sebabnya tatkala pada akhirnya, Allah mencabut hak kekayaan Qarun dengan mendatangkan bencana yang menghancurkan segenap kekayaan dan diri Qarun, kemudian barulah orang awam yang jahil (bodoh) atau sempit wawasan itu memahami dan menyedari betapa bodohnya diri mereka kerana tergiur menginginkan seperti yang dimiliki oleh Qarun.
"Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). Dan jadilah orang-orang yang kelmarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu. berkata: "Aduhai. benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba- Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan kurnia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)". (QS Al-Qashshash : 81-82)
Peribadi Qarun dan sesiapapun yang memiliki mental dan sikap seperti dia adalah peribadi yang mengingkari nikmat Allah.
Mereka menyangka bahwa kekayaan yang mereka kumpulkan merupakan hasil prestasi dirinya dan tidak ada kaitan dengan Allah yang Maha Menentukan pembahagian rezeki manusia.
Mereka tidak pernah besyukur kepada Allah akan rezeki yang diterima dan mereka tidak pernah memohon rezeki kepada Allah ketika dirinya sedang mengalami kesulitan rezeki.
Mereka hanya bersandarkan kepada kemampuan diri mereka sendiri dalam urusan material. Mereka inilah kaum yang berideologi kebendaan.
Sungguh, materialisma adalah satu ideologi yang sama sekali tidak sama dengan Islam dan bersyukurlah kita orang yang beriman yang memiliki iman dan Islam sebagai pegangan hidup.
Saiyyidina Utsman bin `Affan ra berkata :

"Mencintai dunia itu kegelapan hati dan mencintai akhirat adalah cahaya hati." 

Memang dunia yang kita huni sekarang ini penuh dengan tarikan yang menakjubkan.

Oleh kerana itu manusia cenderung memburunya sampai ke tingkat :

a. Gelap mata.
b. Gelap hati.

Rasulullah saw bersabda :

"Dunia itu manis lagi hijau." 

Demikianlah Rasulullah saw melukiskan tentang kenikmatan dan keindahan dunia yang menjadi fokus pemburuan para penganut faham kebendaan.

Menurut Imam Al Ghazali, pesona dunia itu telah :

1. Menyibukkan hati manusia.
2. Menyibukkan fizikal manusia. 

Menyibukkan hati di sini berlaku disebabkan pesonanya yang dapat menarik cinta dan curahan perhatian hati sehingga tidak sedikit orang yang menjadi mabuk kerananya.

Menyibukkan fizikal kita dengan benda-benda dunia itu memerlukan pengolahan dan pengelolaan untuk kepentingan dirinya atau kepentingan orang lain. Tidak sedikit orang yang terbius oleh pesonanya sehingga ia melalaikan akhiratnya.

Keterbiusan itulah yang menjadi penyebab perjalanan hidup seseorang itu terjerumus ke dalam kegelapan sehingga orang yang memburunya cenderung untuk tidak mengindahkan norma dan tatacara yang benar sehingga menyebabkan dirinya tenggelam dalam lumpur kehinaan.

Keterbiusan itu pula yang menjadi salah satu kekhuatiran Rasulullah saw sehubungan dengan melimpahnya gemerlapan dunia di kalangan umat Islam. 

"Aku tidak khuatir kemelaratan menimpa kamu. Tetapi yang aku khuatirkan ialah bila kemewahan dunia menimpamu sebagaimana orang-orang yang sebelum kamu ditimpa kemewahan dunia. Lalu kamu berlumba-lumba (dengan kemewahan) dan kamu binasa seperti mereka." (HR Muslim)

Agar kita tidak terbius dengan harta sehingga menggelapkan hati, Rasulullah saw mengingatkan kita untuk memperhatikan proses untuk mendapatkannya kerana tidak sedikit orang yang begitu cintanya kepada dunia hingga ia tidak peduli terhadap proses dan segala implikasi kecintaannya itu terhadap :

a. Situasi kemanusiaannya.
b. Langkah-langkah perjalanannya.
c. Akhir perjalanan hidupnya.

Rasulullah saw bersabda :

"Dunia itu manis lagi hijau. Siapa yang memperolehi harta dari usaha halalnya lalu membelanjakannya sesuai dengan hak-haknya, maka Allah akan memberinya pahala dari nafkahnya itu, dan Dia akan memasukkannya ke dalam syurgaNya. Siapa yang memperolehi hartanya dari jalan haram lalu ia membelanjakannya bukan pada hak-haknya, maka Allah akan menjerumuskannya ke dalam tempat yang menghinakan (neraka)." (HR Al-Baihaqi)

Oleh kerana pesona dunia itu amat berpengaruh, maka seseorang itu cenderung lupa akan bahaya yang sentiasa mengintai di sebalik pesona yang tersembunyi di medan pemburuannya. Ia juga lupa bahwa di sebalik gemerlapan dan keindahan dunia itu, terkandung tanggungjawab yang akan ditanya di hari akhirat nanti.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengingatkan tentang bahaya yang terdapat di medan pemburuan harta duniawi. 

"Memburu harta bagaikan berburu binatang di hutan rimba yang penuh dengan binatang buas atau berenang di lautan yang penuh buaya."

Orang-orang yang tenggelam dalam kecintaan dunia, mata hatinya menjadi gelap, tidak peduli dengan bahaya yang mengancamnya. Ia melihat segala sesuatu dengan mata nafsunya yang menyebabkan mata hatinya diselubungi noda-noda hitam yang pekat sehingga tidak dapat membezakan antara :

1. Petunjuk dan kesesatan.
2. Bid'ah dan sunnah.
3. Ma'ruf dan yang munkar.

Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang diserang krisis persepsi sehingga pandangan dan persepsinya menjadi tonggang terbalik. 

Mereka memandang kebaikan sebagai kejahatan dan kejahatan sebagai kebaikan. Akibatnya hati mereka terus-menerus ditimbuni noda-noda hitam yang menjadi tanah subur bagi pembiakan fitnah hati. Noda-noda hitam inilah yang melumpuhkan fungsi mata hati hingga tidak mampu melihat.

Sebaliknya, meyakini dan mencintai kehidupan akhirat menjadikan hati seseorang itu jernih dan bercahaya. 

Imam Ibnu Atha'illah Al-Sakandari dalam kata-kata hikmahnya mengatakan :

"Allah telah menerangi alam-alam lahiriah ini dengan pengaruh cahaya (atsar) bekas-bekas sifat-sifatNya, dan Dia telah menerangi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati dengan cahaya sifat-sifatNya itu.

Oleh kerana itu, cahaya-cahaya lahiriyah boleh hilang dan lenyap sedangkan cahaya-cahaya hati dan rahsia-rahsianya tidak mungkin hilang dan padam.
Oleh kerana itulah berkata seorang penyair :
"Sesungguhnya matahari siang akan tenggelam di malam hari, Dan matahari hati tidak akan hilang sampai abadi."

Oleh yang demikian, setiap diri seharusnya mampu menangkap cahaya-cahaya yang dapat mencerahkan hati agar sentiasa dapat menjejaki kehidupan dengan terang benderang. 

Sesungguhnya hanya Allah swt yang berkenan memberikan cahaya hati kepada setiap manusia. Meskipun demikian, akal yang dianugerahkanNya kepada setiap manusia dapat dimanfaatkan manusia untuk merenung dan mentadabbur ayat-ayatNya sehingga ia memperolehi cahaya.

Tafakkur dan tadabbur akan menjadi pencucuh api hati nurani manusia sehingga bercahaya kerana hanya dengan tafakkur dan tadabbur, manusia mampu :

1. Menyusuri dan menghayati kewujudan dirinya.
2. Mengenal siapa Tuhannya.
3. Tahu asal usulnya.
4. Ke mana ia akan kembali.

Dengan yang demikian, hatinya akan diterangi oleh suatu kesedaran penuh akan hak-hak yang mesti dia tunaikan. 

Dia juga sedar dengan sungguh-sungguh bahwa hidup di dunia ini sebagai suatu pengembaraan yang sementara. Kelak di saat yang telah ditentukan, ia pasti akan kembali ke rumah asalnya di alam akhirat. 

Untuk itu, ia mencintai tempat kembalinya yang abadi. Maka keyakinan dan cinta kepada akhirat adalah cahaya hati yang akan menyebar ke seluruh penjuru kalbu.

Abu Thalib Al-Makki dalam munajatnya memanjatkan sebuah doa agar diberi cahaya yang dapat menerangi hidupnya:

"Ya Allah, berilah aku :

1. Cahaya dalam kalbuku.
2. Cahaya dalam pusaraku.
3. Cahaya dalam pendengaranku.
4. Cahaya dalam pandanganku.
5. Cahaya dalam perasaanku.
6. Cahaya dalam semua jasadku.
7. Cahaya di depanku.
8. Cahaya di belakangku. 

Berilah kepadaku, kumohon kepada-Mu :

1. Cahaya di tangan kananku.
2. Cahaya di tangan kiriku.
3. Cahaya di atasku.
4. Cahaya di bawahku. 

Ya Allah, tambahlah cahaya dalam diriku dan siramilah aku dengan cahaya dan terangilah aku dengannya."

Bagi orang yang mencintai kehidupan akhirat, semua keraguan dan kebimbangan yang pernah singgah dalam hatinya akan musnah tanpa tersisa sedikitpun. 

Yang tinggal hanyalah keyakinan dan cintanya kembali ke kampung akhirat nanti, menghadap Rabbnya dengan kalbu dan jiwa yang tenang serta meraih keridhaanNya.

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam syurgaKu." (QS Al Fajr : 27-30)

Ya Allah, kami cukup memahami bahwa ramai manusia yang mampu bertahan dengan ujian kesusahan dan kesukaran, namun tidak ramai yang mampu menghadapi ujian kesenangan dan melimpah ruahnya harta benda di mana kebanyakan manusia akan tenggelam di dalam lautan kelalaian yang akan memusnahkan cahaya di dalam hatinya dan dalam masa yang sama membiakkan fitnah yang akan melumpuhkan kekuatan mata hatinya. Berilah kekuatan supaya kami akan tetap mensyukuri nikmat-nikmatMu di dunia dan tidak lupa akan nikmatMu yang lebih besar di akhirat nanti.

Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS

http://tinta-perjalananku.blogspot.com/ 


0

Countdown Majlis Ramah Mesra Sempena Eidul Fitr 1433H IKRAM Pusat dan IKRAM Selangor




Jangan lepaskan peluang beramah mesra bersama Pimpinan Pusat dan Pimpinan Negeri Selangor serta Semua Pimpinan Negeri  mahupun seluruh Anggota DPN yang bersama-sama hadir dalam majlis penuh barakah ini. Majlis akan turut disertai Pimpinan NGO Islam, NGO Palestin dan Civil Society mahupun tokoh-tokoh yang dijemput hadir.  Majlis ini juga menjemput ikhwah wafidin mahupun ikhwah PKS yang menuntut mahupun bekerja di Malaysia bagi berkongsi rasa kasih sayang dan ukhuwwah.

Antara persembahan ialah nasyid dari Kumpulan Saff One, Huffaz dll serta 2 Clown bersama belon-belon untuk anak-anak yang kita cintai merasa gembira menyambut hari bahagia selepas berpuasa di bulan Ramadhan.

Pihak Penganjur juga menyediakan Menu asas seperti nasi himpit, lodeh, rendang, sate, soto, kueh mueh, minuman sejuk dan panas dll serta menu yang ditunggu-tunggu kambing golek! Pihak IKRAM Daerah di seluruh Selangor juga akan menyumbang menu tambahan mengikut kesesuaian dan persediaan masing-masing.

Lokasi ini amat unik kerana berhadapan dengan Tasik yang indah serta angin yang berhembus begitu nyaman! Disamping ada taman permainan dan pondok untuk keluarga berehat dan bermain bersama anak-anak. Jika perlu bawa tikar sendiri. Surau dan Bilik air disediakan.

Semoga kehadiran antum semua akan mengeratkan ikatan silaturrahim dan meningkatkan kasih sayang dan perpaduan ummah dan masyarakat. Jika ada Tabung untuk kemanusiaan mahupun tawaran sumbangan Lot sedeqah untuk wakaf Kompleks IKRAM sila bawa cek anda/tunai!

Mohon sebarkan pada semua ahli dan rakan!

Sebarang pertanyaan: Ibu Pejabat IKRAM: Cik Masayu : 03-89453666 (waktu pejabat)  SU Sel: Hj Ridzuan: 0192347101

Alamat Perhubungan

Pertubuhan IKRAM Malaysia (IKRAM) Daerah Kuala Langat
No. A-2-08, Blok A, Tingkat 2,
Jalan Bunga Pekan 9,
Pusat Perniagaan Banting Uptown,
42700 Banting, Selangor.

GPS: 2.811313,101.503486


Back to Top