Terkini...




0

Memahami Sasaran Dakwah


Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,
Kita biasa mendengar perbahasan tentang kemenangan atau kekuasaan manusia di muka bumi yang Allah swt sampaikan di dalam Al Qur'an di antaranya surah Ali Imran ayat 140 dan surah Al A'raf ayat 96.
Firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 140 :
"Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membezakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebahagian kamu dijadikanNya (gugur sebagai) syuhada'. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim." (QS Ali Imran : 140)
Dalam ayat di atas, Allah swt menyebutkan bahwa kemenangan atau kekuasaan di muka bumi akan dipergilirkan oleh Allah swt sebagai saringan atau ujian bagi Allah untuk membezakan orang-orang beriman dengan orang-orang kafir.
Imam Al Qurthubi di dalam tafsirnya tentang bahagian ayat "dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia" berkata bahwa :
"Sesekali Allah memenangkan agamaNya buat orang-orang yang beriman dan sesekali pula bagi orang-orang kafir ketika orang-orang beriman melakukan kemaksiatan sebagai ujian bagi mereka dan untuk menghapuskan dosa-dosa mereka. Adapun, jika mereka tidak bermaksiat kepada Allah maka sesungguhnya parti Allahlah yang menang."
Dari ayat di atas, ianya jelas bahwa menjadi hak prerogatif Allah swt dalam pemberian kemenangan atau kekuasaan tersebut dan kita umat Islam hanya diminta untuk berdakwah dan menyeru kepada syari'at Allah swt.
Manakala dalam surah Al A'raf ayat 96 pula Allah swt berfirman :
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkatan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS Al A'raf : 96)
Dalam ayat di atas kita lihat bagaimana kemenangan atau kekuasaan di muka bumi akan diberikan oleh Allah swt jika penduduk suatu negeri beriman atau bertaqwa.
Ayat ini menjelaskan bahwa keimanan dan ketaqwaan adalah sebab-sebab yang mendatangkan rezeki dan keberkatan dari langit dan bumi.
Bagaimanakah kita sebagai seorang muslim boleh membezakan kemenangan atau kekuasaan sebagai :
"Penggiliran" iaitu sebagai alat pembeza bagi Allah swt.
dan sebagai :
"Anugerah" Allah swt ke atas buah kerja dakwah kita sehingga penduduk negeri menjadi bertaqwa dan beriman.
Bolehkah usaha merebut kekuasaan itu disebut dan didakwa sebagai kemenangan dakwah sementara masyarakat masih jauh dari perlaksanaan syari'at Islam?
Kemudian, bagaimanakah sebaiknya dakwah ini diurus, di programkan dan di fokuskan?
Bolehkah usaha perbaikan masyarakat dipaksakan dengan merebut kekuasaan terlebih dahulu ataukah perbaikan masyarakat yang lebih diutamakan?
Demikian, beberapa persoalan yang mungkin bermain di dalam minda kita.
IMAN DAN AMAL SOLEH PENENTU KEKUASAAN
Di dalam menafsirkan ayat-ayat di atas, Sayyid Qutb mengatakan bahwa sesungguhnya aqidah keimanan kepada Allah swt dan ketaqwaan kepadaNya bukanlah isu yang terpisah dari realiti kehidupan dan juga dari lintasan sejarah manusia.
Sesungguhnya keimanan kepada Allah dan ketakwaan kepadaNya menjadi sebab dicurahkannya berbagai keberkatan dari langit dan bumi sebagai sebuah janji dari Allah swt.
Seterusnya Sayyid Qutb mengatakan :
"Sesungguhnya keimanan kepada Allah membebaskan dari perhambaan kepada hawa nafsu serta dari perhambaan kepada sesama manusia. Dan tidaklah diragukan lagi bahwa manusia yang bebas dengan hanya menyembah Allah swt  sahaja yang mampu menjadi khalifah di bumi sebagai 'Khalifah Rasyidah' (Kepemimpinan yang memberikan petunjuk yang tinggi) berbanding mereka-mereka yang menyembah hawa nafsu sebahagian mereka kepada sebahagian yang lain...."
Tafsiran kedua-dua ayat di atas memberikan penjelasan bahwa kemenangan dan kepemimpinan kaum mukminin di muka bumi ini sangat bergantung pada ketaqwaan dan amal soleh mereka dengan menjauhi berbagai kemaksiatan dalam segala sudut kehidupan samada di bidang aqidah, ibadah, akhlak ataupun dalam pemilihan wasilah-wasilah untuk mencapai kemenangan itu.
Perkara ini ditegaskan oleh Allah swt didalam firmanNya :
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka itulah orang-orang yang fasik. Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat." (QS An Nuur : 55 – 56)
PENGERTIAN 'TAMKIN'
Sesungguhnya 'Tamkin' menurut bahasa adalah kekuasaan dan kedudukan.
Ini bermakna, Allah swt telah memberikan :
a.       Kekuasaan dan kedudukan kepada hambanya yang soleh di muka bumi.
b.      Kekuasaan yang kuat.
c.       Kemudahan kepadanya segala wasilah yang mendukung kekuasaannya.
d.      Segala potensi yang dapat digunakan untuk memperkukuhkan dan menetapkan kekuasaannya.
Manakala menurut istilah pula, 'Tamkin' adalah :
"Mempelajari berbagai macam kedudukan (kekuasaan), syarat-syaratnya, sebab-sebabnya, tahapan-tahapannya, tujuan-tujuannya dan rintangan yang akan dihadapinya serta tiang-tiang kembalinya umat menuju kedudukan dan kekuasaan di muka bumi ini."
 Dr Ali Abdul Halim Mahmud di dalam kitabnya "Fiqh ad Dawah Ilallah" mengatakan bahwa :
"Tujuan utama dari setiap bentuk kerja dalam Islam, dakwah dalam berbagai bentuk tahapannya, tujuan dan wasilahnya, gerakan yang menuntut kerja kuat dan kesungguhan, tanzim dan segala sesuatu yang menjadi tujuan dan misi dakwah dan gerakan, begitupun tarbiyah dengan segala orientasinya, ragamnya, tujuan dan wasilahnya, kerana tidak ada perbezaan dalam tujuan mulia dan besar pada setiap orang yang bekerja kerana Islam, walaupun programnya berbeza (dengan syarat program yang dicanangkan bersumberkan dari Al Qur'an dan As Sunnah yang suci dan bukan perbuatan yang dibenci oleh Allah), tidak boleh berbeza bahwa kejayaan (kedudukan) untuk agama Allah adalah tujuan utama dari setiap kerja Islam agar kekuasaan atas Agama Islam lebih tinggi dan unggul dari seluruh agama lainnya, sistem hukum agama ini dengan sistem buatan manusia lainnya, kejayaan ini mendahului posisi jawatan, kerajaan dan kedudukan, dan yang mengiringi keamanan (ketenteraman) setelah ketakutan."
Secara ringkasnya, pengukuhan agama Allah di muka bumi ini dimulai dengan kemenangan, kekuatan dan kekuasaan.
Namun yang sering manusia silap adalah memahami sebuah kemenangan hanya dengan sesuatu yang nampak secara lahiriyah semata-mata seperti :
  1. Ramainya pendukung.
  2. Banyaknya suara.
  3. Menjadi penguasa di suatu negeri.
  4. Melimpahnya prasarana dan kewangan atau sepertinya tanpa pernah memperhatikan cara yang digunakan untuk meraihnya apakah ia sesuai atau bertentangan dengan peraturan Allah swt.
Sebaliknya pula :
  1. Sedikitnya pendukung.
  2. Kurangnya kewangan dan prasarana.
  3. Kesulitan.
  4. Kesengsaraan.
  5. Pemboikotan.
  6. Pengusiran.
  7. Penyiksaan.
tidak dianggap sebagai sebuah kemenangan akan tetapi sebuah kegagalan dan kekalahan dalam dakwah dan sungguh, mereka yang beranggapan seperti itu telah terperosok ke dalam tipu daya syaitan.
Dalam hubungan ini Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi di dalam kitabnya "Fiqh an Nashr wa at Tamkin" menukil pendapat Sayyid Qutb (di dalam tafsir Zhilal) dengan mengatakan :
"Syaitan masuk melalui celah-celah ini ke dalam jiwa manusia dan menaburkan keraguan. Sesungguhnya manusia membuat ukuran sesuatu dengan sesuatu yang nampak di luaran semata-mata dan mereka lupa akan nilai-nilai yang mulia dan hakikat-hakikat yang banyak dalam memberikan penilaian terhadap perkara tersebut.
Sesungguhnya manusia cuba mengukur dengan sesuatu masa yang singkat dari zaman dan memberikan ruangan yang terbatas dalam melakukan perbandingan padahal itu tidak lebih dari ukuran manusia yang sempit dan sangat kerdil.
Sedangkan ukuran yang menyeluruh, masalahnya akan dibentangkan pada sebuah bentangan masalah yang luas dalam zaman dan tempat, tidak menempatkan batas antara satu zaman dengan zaman lainnya, tidak juga antara satu tempat dengan tempat lainnya.
Andaikata kita melihat pada masalah aqidah dan keyakinan, maka kita akan mendapatinya ia sentiasa akan memberikan kemenangan tanpa ada keraguan dan oleh yang demikian, keimanan adalah kemenangan para pemiliknya…"
Seterusnya Sayyid Qutb mengatakan :
"Manusia telah membataskan makna kemenangan ini dalam gambaran tertentu sahaja yang mereka alami iaitu yang dekat pada pandangan mereka.
Namun sebenarnya gambaran kemenangan itu dalam pelbagai bentuk. Mungkin sahaja kemenangan itu kabur gambarnya dengan gambaran kekalahan tatkala kita melihatnya dengan pandangan yang singkat.."
Jika kemenangan difahami hanya dengan sesuatu yang lahiriah dan disempitkan dengan ruang dan waktu semata-mata lalu :
  1. Bagaimana dengan dakwah Nabi Nuh as yang berdakwah selama 950 tahun dengan jumlah pengikutnya hanya 80 orang termasuk di dalamnya kaum wanita, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas di dalam tafsir Ibnu Katsir ?
  2. Bagaimana dengan Nabi Zakaria as dan Nabi Yahya as yang dibunuh oleh orang kafir atau musyrik?
  3. Bagaimana Nabi Ibrahim as dan Nabi Isa as yang cuba dibunuh oleh kaumnya?.
  4. Bagaimana peristiwa 3 orang rasul yang dikirim ke negeri Antokia (di dalam sebuah tafsir) lalu mereka dibunuh oleh kaumnya dan hanya seorang dari hujung negeri yang menyambut dakwahnya sebagaimana disebutkan di dalam surah Yasin?
  5. Bagaimana kisah Ashabul Kahfi yang bersembunyi di gua bagi menghindarkan diri dari kezaliman penguasa?
  6. Bagaimana kisah para Nabi mahupun orang-orang soleh yang tidak memiliki kekuasaan selama mereka berdakwah?
Apakah mereka dikatakan gagal atau kalah di dalam dakwah?
Sekali-kali tidak!!!
Sesungguhnya mereka adalah para pemenang dalam pertarungan antara hak dan batil.
Ini sebagaimana yang disebutkan sebelum ini oleh Sayyid Qutb bahwa sesungguhnya mereka telah dimenangkan oleh Allah swt dengan :
"Aqidah dan keimanan yang ada di dalam dada-dada mereka."
Oleh itu, kekuasaan boleh dianggap sebagai sebuah kemenangan dakwah apabila perjuangan untuk meraihnya diasaskan oleh keimanan yang kuat dan amal soleh bukan dengan cara melanggar petunjuk-petunjuk dan peraturan-peraturan Allah swt dan RasulNya.
'TAMKIN' MEMBAWA KEAMANAN
 
Sesungguhnya khilafah di muka bumi dan 'tamkin' (kejayaan) pada agama Allah dan mengganti rasa takut dengan ketenangan dan keamanan adalah merupakan janji dari Allah swt pada ketika umat Islam mampu mewujudkan syarat-syaratnya.
 
Al-Quran telah menegaskan dengan jelas akan syarat-syarat 'tamkin' dan keperluan menjaganya sepanjang masa seperti dalam surah An Nur ayat 55 -56 sebelum ini.
 
Allah swt berfirman :
 
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat". (QS An-Nur : 55-56)
 
Al Qur'an telah menegaskan bahwa di antara syarat-syarat 'tamkin' adalah :
 
a.       Iman dengan seluruh makna dan rukun-rukunnya.
b.      Aktif dalam melakukan amal soleh dengan berbagai macam dan bentuknya.
c.       Semangat dalam melakukan amal kebajikan dan pelbagai perbaikan.
d.      Mewujudkan hakikat ubudiyah secara bersepadu dan menyeluruh.
e.       Memerangi kemusyrikan dengan berbagai ragam dan bentuknya. 
 
Manakala, keperluan untuk menjaga 'tamkin' tersebut adalah dengan :
 
1.      Mendirikan solat.
2.      Membayar zakat.
3.      Mentaati Rasulullah saw.
 
PERSEDIAAN KE ARAH 'TAMKIN'
 
Adapun yang berhubungan dengan sebab-sebab 'tamkin', Allah swt telah memerintahkan untuk melakukan persiapan yang menyeluruh seperti dalam firmanNya :
 
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa sahaja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat". (QS Al-Anfal : 60)
 
Melakukan persiapan pada hakikatnya merupakan usaha bagi mengambil sebab-sebab, kerana itu yang diminta untuk melakukan persiapan seperti dalam pemahaman ayat di atas adalah secara menyeluruh.
 
Ini adalah kerana kalimah 'Quwwah' (kekuatan) di atas disebutkan dalam bentuk perintah dengan 'shighah nakirah' (bentuk umum) sehingga ianya mencakupi berbagai bentuk kekuatan iaitu :
 
a.       Kekuatan aqidah dan iman.
b.      Kekuatan barisan dan pasukan.
c.       Kekuatan senjata dan logistik.
 
Ayat di atas juga memberikan isyarat kepada umat Islam bagi tujuan membuka wawasan agar melakukan persiapan secara menyeluruh merangkumi persiapan :
 
1.      Material mahupun maknawi.
2.      Jiwa mahupun harta.
3.      Zahir mahupun batin.
4.      Ilmu dan fiqh.
5.      Pada tingkatan individu mahupun jamaah.
6.      Tarbawi, perilaku dan hartabenda.
7.      Telekomunikasi.
8.      Politik.
9.      Ketenteraan.
 
MATLAMAT TIDAK MENGHALALKAN CARA
Pernah berlaku ketika Ustaz Hasan Al Hudhaibi menjadi Mursyidul Am Ikhwanul Muslimin di mana ada di antara ahli Ikhwan yang tidak sabar dengan penindasan rejim revolusi ketika itu lalu mereka berniat untuk membunuh tokoh-tokoh pemerintah yang menyiksa ahli-ahli Ikhwan.
Mendengar luahan mereka itu, Hasan Al Hudhaibi menjadi sangat marah dan menasihati mereka dengan kalimat-kalimat berikut :
"Jika seluruh ikhwah mati, itu lebih baik daripada kita sampai di puncak kemenangan dengan jalan pengkhianatan."
Dengan wajah yang serius beliau meneruskan taujihnya :
"Nahnu muslimun qabla kulli syai' (Kita adalah muslim sebelum segalanya). Jika kita menguasai dunia dengan membunuh akhlak Islam, maka kita akan rugi!"
Demikianlah penerus dakwah Imam Hasan Al Banna ini tidak menghendaki kemenangan dengan jalan pengkhianatan iaitu dengan membunuh penguasa muslim meskipun ia zalim atau dengan  cara-cara lain yang menanggalkan akhlak Islam.
Ini adalah kerana kemenangan jamaah dakwah adalah untuk :
  1. Meninggikan Islam dan tidak  mungkin jalan untuk ke sana, ditempuh dengan cara-cara yang rendah yang bertentangan dengan Islam.
  2. Menebar rahmat bagi semesta alam dan tidak mungkin untuk mencapainya, ditempuh jalan-jalan yang akan mengundang azab Tuhan.
  3. Menjadi mahaguru kepada kehidupan dan tidak mungkin untuk ke sana, digunakan usaha-usaha yang hina dan menimbulkan kebencian.
BERBAGAI BENTUK 'TAMKIN'
Kekuasaan yang tertunda kerana berpegang teguh pada prinsip Islam sejatinya adalah sebuah kemenangan.
Dr Ali Muhammad Ash Shalabi meneruskan tulisannya dalam kitabnya "Fiqhun Nashr wat Tamkin"  bahwa :
"Sesungguhnya kemenangan dan 'tamkin' bagi kaum mukminin memiliki berbagai bentuk kewujudan dan gambaran di mana penyampaian risalah dan penunaian amanah sebagai salah satu bentuk kemenangan; meskipun seorang pendakwah syahid atau komuniti muslim dihancurkan kerana mempertahankan iman dan menyebarkan dakwah. "Malazamul haq fi qulubina…" selama mana kebenaran masih bersemayam di hati kita, itulah kemenangan."

Jamaah dakwah, walauapapun bentuknya samada harakah, organisasi massa ataupun parti Islam dengan yang demikian perlu menyedari bahwa jalan dakwah tidaklah mudah dan tidak selalu berakhir dengan diraihnya kekuasaan Islam pada zaman atau generasinya.
Namun selama mana :
  1. Hati ikhlas menempuh jalanNya.
  2. Terus berjuang di atas manhajNya.
  3. Tetap komitmen dengan syariatNya.
Maka, tidak peduli walauapapun yang berlaku; sesungguhnya ia berada dalam kemenangan.

'TAMKIN' MEMERLUKAN DAKWAH BERTERUSAN
Syeikh Mustafa Masyhur dalam kitabnya "Fiqh Dakwah" mengatakan bahwa :
"Jalan dakwah tidak ditaburi oleh bunga-bunga yang harum baunya, tetapi ia merupakan jalan yang sukar dan panjang. Ini adalah kerana, antara yang haq dan yang bathil ada pertentangan yang nyata. Dakwah memerlukan kesabaran dan ketekunan bagi memikul beban berat. Dakwah memerlukan kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil yang segera, tanpa putus asa dan putus harapan. Yang diperlukan adalah usaha dan kerja yang terus menerus dan hasilnya terserah kepada Allah, sesuai dengan waktu yang dikehendakiNya."

Menyedari akan hakikat kemenangan dan tuntutannya, gerakan Islam tidak akan terjebak pada :
  1. Sikap 'isti'jal' (tergesa-gesa) iaitu tidak sabar dengan jalan dakwah yang panjang lalu memutuskan untuk membuat kudeta,  membunuh penguasa muslim atau bahkan melancarkan aksi-aksi keganasan.
  2. Kekhuatiran terhadap organisasi Islam lain yang lebih besar darinya, dengki dan memusuhi organisasi Islam yang lebih kuat perkembangannya atau bahkan menyediakan diri untuk digunakan oleh penguasa sekular dengan menjadi alat politiknya.
  3. Politik wang (money politic) dalam pilihanraya atau melakukan rasuah untuk menyediakan dana kempen dan sebagainya.
Adapun orang-orang yang mampu melakukan itu semua dan dijanjikan kepemimpinan dan kekuasaan di muka bumi bahkan diperkukuhkan kekuasaan itu oleh Allah swt, maka mereka  adalah para pemilik keimanan yang sesungguhnya.
Di antara sifat-sifat mereka adalah :
  1. Tidak mengharapkan kecuali wajah Allah.
  2. Taat kepada Allah.
  3. Pasrah terhadap segala perintahNya samada yang kecil ataupun besar.
  4. Tidak cenderung kepada hawa nafsu di dalam dirinya.
  5. Tidak mengikuti kepada syahwat di dalam hatinya.
  6. Mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah saw dari Allah swt.
'TAMKIN' MEMERLUKAN RIJAL
Dalam nada yang sama dengan itu, Dr Ali Muhammad Ash Shalabi mengatakan bahwa :
"Kemenangan manhaj Allah dan pengukuhannya ke atas manhaj ini serta mengenalnya manusia akan manhaj ini memerlukan 'rujulah' (lelaki sejati) dan bukan 'Dzukurah' (lelaki biasa)."
Di bahagian lain di dalam kitabnya, Ash Shalabi mengatakan bahwa 'Dzukurah' itu merupakan sifat jasadiyah atau badaniyah dan tidak lebih dari itu, namun :
"Rujulah" mengisyaratkan kepada :
  1. Sikap kental.
  2. Kuat.
  3. Pantang mundur.
  4. Memiliki keberanian luar biasa.
  5. Kukuh memegang prinsip.
di mana ini menunjukkan kepada sifat kejiwaan dan adanya kelebihan-kelebihan ma'nawi serta keutamaan akhlak.
Ya Allah, jadilah kami orang-orang yang sentiasa memahami sasaran dakwah kami iaitu tetap teguh beriman, beramal soleh dan melaksanakan kerja-kerja dakwah di jalanMu walaupun mengambil masa yang panjang dan dipenuhi oleh pelbagai halangan dan dan rintangan kerana sesungguhnya kami memahami bahwa "Tamkin" atau kemenangan sebenar hanya Engkau berikan kepada mereka-mereka yang beriman dan bertaqwa di mana kebenaran tetap bersemayam di hati mereka walaupun jasad mereka telah syahid menemuiMu.
Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS   


0

Naqib Titik Tolak Dakwah


Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,
 
Seperti yang kita fahami bahwa perubahan menuju perbaikan diri dan masyarakat melalui institusi-institusi yang strategik menjadi sebahagian dari kerja dakwah pada paksi institusi tersebut.
 
Melalui pemerkasaan institusi tersebut, instrumennya dapat mengukuhkan dakwah dan perluasannya. 
 
Imam Hasan Al Banna dalam 'Muktamar Keenam' menjelaskan tentang berbagai saluran dan media untuk menjadi wasilah bagi tertegaknya dakwah :
 
"Bahwa saluran dan cara yang kita pakai secara umum adalah memberikan kemantapan dan menyebarkan dakwah dengan berbagai wasilah sehingga mudah difahami oleh masyarakat umum lalu menjadi pandangan umum masyarakat.
 
Kemudiannya kita akan memilih peribadi-peribadi yang baik untuk menjadi pendukung dakwah yang kukuh. Juga perjuangan dalam kerangka lunas-lunas undang-undang agar dakwah ini memiliki suara di institusi pemerintahan dan didukung oleh kekuatan eksekutif.
 
Dengan asas ini, calon-calon kita akan menjadi 'khatibul jamahiri' (penceramah dalam masyarakat) dan apabila tiba waktu yang sesuai akan tampil mewakili umat di Parlimen.
 
Yakinlah akan pertolongan Allah swt selama mana tujuan kita adalah untuk meraih keridhaanNya".
 
Semua ini amat memerlukan peranan dan potensi dari seluruh aktivis dakwah yang dapat digunakan sebagai wasilah untuk mewujudkan pekerjaan tersebut sehingga seluruh potensinya tidak ada yang tidak dapat dimanfaatkan bahkan jika demikian, tidak boleh ada aktivis dakwah yang tidak menjadi sebahagian dari kerja besar ini.
 
Aktivis dakwah yang memiliki pelbagai peranan mestilah menjadi batu bata dari tugas ini di mana salah satu peranan yang sangat signifikan dalam mendukung tugas perubahan ini adalah peranan 'naqib'.
 
Kedudukan dan peranannya sangat penting kerana 'naqib' merupakan tulang belakang yang amat strategik dalam perjalanan tarbiyah ini.
 
Ia menjadi simpulan ikatan kepada perubahan yang asasi iaitu paling kurang dalam komuniti terkecil dalam masyarakat ini iaitu melalui tarbiyah atau pembinaan aktivis dakwah.
 
Kedudukan dan peranan inilah yang digerakkan oleh generasi terdahulu untuk memperluaskan skop dakwah demi perubahan masyarakat.
 
Mereka menjadi titik tolaknya kerana peribadi mereka merupakan parameter kepada perubahan.
 
Komuniti suatu masyarakat akan mudah diarahkan apabila parameternya jelas dan benar dan mampu menjadi cerminan dalam merealisasikan perubahan diri untuk seterusnya menjadi agen perubah dalam masyarakat.
 
Oleh kerana itu, Allah swt telah mengingatkan akan peranan ini sebagaimana umat terdahulu yang menjadikan 'naqib' sebagai 'titik tolak' nya.
 
"Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang 'naqib' (pemimpin) dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan solat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasulKu dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus". (QS Al-Maidah : 12)
 
Demikian juga ketika perjalanan dakwah Rasulullah saw di masa-masa permulaan pertumbuhan dakwah di mana baginda mengangkat sahabat yang memiliki kapasiti untuk memikul amanah dakwah ini menjadi 'naqib'.
 
Dari para 'naqib' yang dipilih, umat dapat belajar dan bekerjasama merefleksikan amal Islam sehari-hari. Mereka menjadi ukuran sejauh mana tingkatan dan kualiti suatu masyarakat yang akan diajak kepada perubahan.
 
Begitu pula ketika orang-orang Madinah menjumpai Rasulullah saw, kemudian baginda mengumpulkan mereka lalu menetapkan pemimpin mereka sebagai 'naqib' yang menjadi pengarah bagi kabilahnya.
 
Ternyata peranan 'naqib' yang dilaksanakan oleh para sahabat Anshar itu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Ini dapat dilihat pada sambutan atau sokongan padu masyarakat Madinah yang menyambut seruan Islam dan mereka menjadi pengikut setia Nabi saw.
 
Perkembangan ajaran Islam dan entiti muslim sangat pesat di sana sehinggakan mereka bersedia untuk menerima kedatangan Rasulullah saw sebagai pemimpin mereka di dunia dan di akhirat.
 
Kemudian baginda membinanya hingga berlakunya perubahan budaya dan peradaban umat manusia di antara kegelapan perilaku 'insaniyah 'waktu itu.
 
Melaksanakan peranan 'naqib' seperti kaum muslimin di masa lalu memang tidaklah semudah membicarakannya kerana banyak unsur-unsur yang terkait, namun kita tidak dibenarkan bersikap pesimis lantaran tidak mudah untuk merealisasikan peranan tersebut.
 
Walaubagaimanapun, usaha untuk dapat mencontohi sedikit demi sedikit sifat 'naqib' hingga akhirnya sempurna mestilah menjadi sesuatu yang tetap berkobar di dalam jiwa kita.
 
Dalam kaedah usul fiqh, ada disebutkan bahwa :
 
'Maala yudraku kulluhu la yutroku kulluhu'.
 
(Apabila tidak dapat menjangkau seluruhnya maka janganlah meninggalkan keseluruhannya").
 
Oleh kerana itu, para 'naqib' sepatutnya memahami peranan yang mampu dilaksanakan agar cita-cita yang didambakan dapat segera diwujudkan sepertimana keadaan yang pernah dibangunkan oleh generasi silam.
 
Adapun peranan yang perlu dilaksanakan oleh para 'naqib' untuk mencapai perubahan diri dan masyarakat ini di antaranya seperti berikut :
 
PERTAMA : MENINGKATKAN PRESTASI DIRI
 
Sesungguhnya Allah swt telah menyerahkan urusan umat ini kepada 'naqib'. Kemaslahatan mereka pada hari ini dan masa depan merupakan amanah Allah yang perlu ditunaikan.
 
'Naqib' bertanggungjawab di hadapan Allah swt pada hari akhirat kelak.
 
Jika generasi hari ini adalah kekuatan bagi 'naqib', maka generasi hari esok merupakan tanaman.
 
Alangkah mulianya seseorang jika ia bersikap amanah, bertanggungjawab dan mahu memikirkan binaannya sebagaimana yang diingatkan oleh Rasulullah saw :
 
"Bahwa setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya". (HR Bukhari dan Muslim)
 
Oleh kerana 'naqib' sebagai 'murabbi' dalam lingkaran pembinaannya maka meningkatkan prestasi diri dalam pembinaannya ini menjadi peranan yang mesti dilaksanakan dengan baik dan berikut adalah beberapa cara yang boleh dilakukan.
 
CARA PERTAMA : Merealisasikan aspek-aspek keseimbangan dalam diri aktivis yang dibinanya samada secara 'ma'nawi', 'nafsi' dan 'amali' sehingga aktivis yang dibinanya dapat menyerlahkan ajaran Islam yang lengkap secara ruhani, pemikiran, jiwa dan amal dalam urusan sehariannya.
 
CARA KEDUA : Memunculkan azam yang kuat dan tawakkal kepada Allah swt yang akan  membuatkan mereka sentiasa memiliki tekad yang tidak pernah kendur dalam memperjuangkan Islam.
 
CARA KETIGA : Meningkatkan sifat keberanian dan kepahlawanan dalam diri mereka di mana mereka berani untuk menyatakan kebenaran dan bersifat patriotik dalam membelanya.
 
CARA KEEMPAT : Memunculkan rasa tanggungjawab kepada binaannya terhadap kerja dakwah agar mereka dapat menjadi pelopor dakwah sehingga dakwah berterusan dan mampu melahirkan generasi yang lebih baik.
 
Sasaran utama untuk meningkatkan prestasi diri yang dibina oleh para 'naqib' adalah untuk mempunyai sikap puas dan tenang kepada manhaj dakwah dan struktur organisasi. Sasaran inilah yang perlu diperhatikan oleh para 'naqib' dalam menjalankan tugas mulianya ini.
 
Dalam diri 'naqib', hanya ada rasa cinta pada aktivis dakwah yang dibinanya agar ia menjadi peribadi yang lebih baik sehingga 'naqib' sentiasa gembira dan senang hati dalam melaksanakan tugasnya.
 
Imam Muhammad ibnu Ahmad yang lebih dikenali dengan nama 'Ibnu Razquwaih' menyatakan kepada murid-muridnya yang ia cintai kerana ia ingin murid-muridnya lebih baik dari segi kualiti dan keperibadiannya dari murid-murid yang sebelumnya. :
 
"Demi Allah, aku menyukai kehidupan di dunia bukan kerana usaha dan bukan pula kerana perniagaan, akan tetapi kerana zikir kepada Allah bersama kamu dan membacakan hadits kepada kamu sehingga kamu menjadi lebih baik dariku".
 
Sesungguhnya para 'naqib' perlu merenungkan kata-kata Syeikh di atas agar amanah ini dapat ditunaikan di bahu kita sehingga ia menjadi amal pemberat timbangan kebaikan kita di akhirat kelak serta sekaligus mampu mengimplementasikan firman Allah swt bahwa pemimpin dan pengarah yang baik adalah laksana pohon yang mengakar dan berdiri tegak memberikan buah yang tidak pernah henti.
 
"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari kurnia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka nampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, iaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya kerana Allah hendak menakutkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu'min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang soleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar". (QS Al Fath : 29)
 
KEDUA : PENGEMBANGAN KEMAMPUAN KEAHLIAN
 
Alangkah beratnya tugas 'naqib', maka ia perlu meningkatkan kemampuan dirinya sehingga tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan secara bertanggungjawab.
 
Kemampuan itu adalah:
 
A : Kejelasan Wawasan Dan Pandangan
 
Naqib perlu memperolehi kejelasan wawasan dan pandangan tentang dakwah dan arah pergerakannya sehingga ia tidak pening atau ragu-ragu dalam melaksanakan tugas dakwahnya.
 
Kejelasan wawasan juga dapat mengusir sifat keragu-raguan terhadap sikap baik dirinya mahupun orang lain.
 
Jiwa yang yakin akan dapat mempengaruhi orang lain pada fikrahnya terutama aktivis dakwah yang ia bina sehingga mereka berada dalam barisan dakwah di belakang 'naqib' nya dan agar tidak ada lagi 'tasykik' (keraguan) tentang langkah dakwah dan program yang sedang dicanangkan lalu dapat ikut serta terlibat di dalamnya.
 
B : Meningkatkan Kecerdasan
 
Usaha peningkatan kecerdasan yang sempurna perlu dilakukan agar 'naqib' mampu menjadi rujukan kepada suatu masalah dan sekaligus mampu memberikan jalan penyelesaiannya.
 
Kecerdasan 'naqib' sepatutnya sentiasa meningkat dari hari ke hari kerana 'naqib' sebagai orang yang akan mengarahkan binaannya.
 
Naqib yang cerdas dapat memberikan nilai tambah pada binaannya sehingga muncul kepuasan 'tarbawi' yang mereka ikuti.
 
C : Kemampuan Kreativiti Dan Daya Cipta / Inovasi
 
Dalam mengelola tarbiyah untuk ikut serta terlibat dalam kerja dakwah di paksi mana sekalipun, 'naqib' tidak boleh kehabisan kreativiti apalagi mati akal dalam menimbulkan inovasi kerana musuh-musuh dakwah sentiasa dalam keadaan penuh kreativiti dan daya cipta dalam menghadapi umat Islam.
 
Untuk menandingi mereka tentunya bukan dengan kemampuan material yang kita punyai melainkan dengan mengembangkan kemampuan kreativiti yang kita miliki.
 
Kreativiti yang hidup menjamin peluang-peluang besar bagi dakwah dan pelaksananya.
 
Seorang pujangga pernah membuat sebuah paparan :
 
"Siapapun tidak akan mampu mematikan lawannya selama mana kreativiti mereka tetap hidup".
 
D : Kekuatan Tindakbalas Terhadap Sesuatu
 
Naqib yang cepat dalam membuat sesuatu tindakbalas menandakan sikap kepeduliannya yang amat besar samada tindakbalas terhadap situasi, para binaannya mahupun tugas yang diamanahkan kepadanya.
 
Usaha ini dilakukan semata-mata untuk menjaga aset dakwah yang amat mahal serta menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi binaannya.
 
Kekuatan rasanya begitu besar sehingga ia ingin benar-benar memberikan perkara yang lebih baik pada binaannya sebagaimana firman Allah swt :
 
"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min". (QS At Taubah : 125)
 
Jika para 'naqib' meningkatkan kemampuan mereka, maka keahlian dan penguasaan mereka  semakin kuat dan bermakna. Hal ini akan sangat berguna untuk ketahanan dan kekukuhan dakwahnya.
 
Keahlian yang seperti itu amat diperlukan untuk menjadi pintu-pintu masuknya dakwah di seluruh elemen masyarakat ketika ini sehingga instrumen dalam masyarakat dapat menerima dan berhimpun di dalamnya.
 
Keahlian apapun dalam ajaran Islam amat dihargai dan ia tidak boleh diabaikan atau melupakan kemampuan yang dimiliki oleh seorang muslim apalagi hingga mencampakkan begitu sahaja keahliannya.
 
Rasulullah saw telah mengingatkatkan :
 
"Barang siapa yang telah memiliki keahlian melempar kemudian melupakannya maka ia bukanlah golonganku". (HR Muslim)
 
Naqib dalam merealisasikan peranannya mestilah menjaga cita-citanya agar sentiasa hidup sekalipun cita-cita itu belum terwujud pada ketika ia melaksanakannya kerana cita-cita tersebut kadang-kadang lebih cepat atau lambat seperti coretan seorang pujangga :
 
"Peliharalah cita-citamu, kerana sesungguhnya cita-citamu mendahului segala sesuatu. Barang siapa yang baik cita-citanya dan dia jujur padanya niscaya pekerjaan yang dilakukannya akan melahirkan hasil yang baik pula".
 
Iqbal juga dalam untaian bait syairnya memaparkan bahwa :
 
"Cita-cita orang yang merdeka dapat menghidupkan yang telah hancur, dan tiupan orang-orang yang bertaqwa dapat menghidupkan umat. Dan semua penyakit itu bersumber dari pudarnya cita-cita".
 
Untaian syair tersebut mengumpamakan 'naqib' sebagai nadi kepada aktivis dakwah ini. Oleh kerana itu, sayugialah para 'naqib' tetap menjaga kesihatan nadinya agar tidak pernah berhenti dan diam.
 
KETIGA : PENGEMBANGAN KEMAMPUAN ORGANISASI
 
Naqib adalah penjaga struktur organisasi dan oleh yang demikian, ia menjadi orang yang paling ke depan dalam pengembangan struktur organisasi.
 
Agar tidak mengalami rencatan marhalah dalam perjalanan dakwah ini maka 'naqib' mestilah memahami beberapa pra-syarat untuk dapat melaksanakan peranan tersebut iaitu :
 
A : Penguasaan terhadap perkara-perkara yang tetap dan yang berubah dalam jalan dakwah
 
Dengan penguasaan ini, ia tahu mana perkara yang memang sudah tetap dalam dakwah ini dan mana yang boleh berubah-ubah sesuai dengan situasi dan keadaannya sehingga dapat ia menggunakan kebijaksanaan yang tepat untuk kepentingan dakwah.
 
B : Penguasaan terhadap perancangan organisasi
 
Perancangan yang difahami oleh 'naqib' dapat mempermudahkan, merealisasikannya serta mempercepatkan ke arah yang telah digariskannya oleh organisasi kerana 'naqib' dapat melibatkan secara langsung aktivis-aktivis dakwahnya sebagai pejuang hadapan dakwah ini.
 
C : Kemampuan Mengkoordinasikan elemen dakwah
 
D : Memelihara Keteguhan Organisasi
 
Oleh kerana peranan dan kedudukan 'naqib' amat strategik dalam struktur dakwah ini, maka diharapkan merekalah yang akan menjadi penjaga paling depan dalam menjaga ketahanan organisasi.
 
Ia boleh menegur aktivis dakwah lain terhadap kekeliruannya di samping dapat meluruskan penyelewengan dalaman yang berkembang.
 
Selain itu, ia juga dapat memberikan jawaban ke atas tuduhan dan fitnah yang dilontarkan pada organisasi walau dari sesiapapun sehingga 'naqib' amat berautoriti untuk membina kemantapan struktur organisasi terutama kepada aktivis dakwah yang di bawah kelolaannya dan bahkan para 'naqib' menjadi sebuah kekuatan komitmen pada dakwah ini.
 
Abul 'Ala Al Maududi mengingatkan bahwa 'naqib' merupakan penjaga struktur organisasi yang mesti mampu menjadi penggerak dakwah ini kepada seluruh lapisan masyarakatnya dengan mengerahkan seluruh potensinya.
 
Pesanannya kepada 'naqib' adalah seperti berkut :
 
"Menjadi suatu yang ironi sekali apabila 'naqib' sebagai orang-orang yang dianugerahkan kecerdasan yang unggul dari kalangan individu umat kita ini, tergila-gila meraih kedudukan duniawi dengan mencurahkan segenap kemampuannya tanpa kenal penat lelah sepanjang siang dan malam.
 
Di tempat kerja, mereka tidak mahu menerima kecuali pihak yang mahu menawarkan kepada mereka dengan bayaran yang tinggi sedangkan keterlibatan mereka dengan dakwah ini tidak sampai pada tingkatan mengorbankan kepentingan mereka untuk kepentingan dakwah, bahkan tidak pula sekadar mengorbankan jasa yang mereka miliki.
 
Jika kamu berharap dengan menyandarkan pengorbanan yang mandul ini untuk dapat meraih kemenangan melawan orang-orang yang menimbulkan kerusakan di muka bumi ini yang rela mengorbankan jutaan wangnya setiap hari demi mencapai tujuan mereka yang batil, maka harapan ini tiada lain hanyalah suatu tindakan yang bodoh".
 
KEEMPAT : PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERMASYARAKAT
 
Naqib juga adalah sebahagian dari masyarakat dan oleh yang demikian, ia mesti mampu melakukan pengembangan kemampuan bermasyarakat kerana masyarakat akan menjadi sebahagian dari kerja dan objek dakwahnya.
 
Masyarakat yang mendukung dakwah akan mengukuhkan kewujudan dakwah dan akhirnya dapat menjadikan dakwah berdiri tegak.
 
Jadi, 'naqib' perlu menyedari akan peranannya di tengah-tengah masyarakatnya iaitu :
 
A : Membangun hubungan dengan masyarakat.
 
B : Mampu tampil sebagai cermin perubahan kepada masyarakat.
 
C : Membangun pandangan umum yang mantap.
 
D : Mampu tampil sebagai peribadi pemimpin umum.
 
Pada akhirnya, 'naqib' sebenarnya berupaya untuk membangun perubahan yang mendasar pada masyarakat manakala dialah yang memulainya sehingga masyarakat dapat menjadikannya sebagai contoh tauladan secara langsung.
 
Imam Hasan Al Banna mengingatkan seluruh aktivis dakwah terutamanya 'naqib' untuk menjadi penggerak perubahan dan menjadi kekuatan yang hidup memikul usaha-usaha perbaikan dan kemaslahatan ummah dengan kata-katanya yang masyhur :
 
"Kamu adalah ruh baru yang mengalir ke seluruh jasad umat ini".
 
Ya Allah, jadikanlah kami para nuqaba' sebagai jantung yang terus berdenyut dan sentiasa mengepam ruh kehidupan, ruh kerohanian dan ruh gerakan ke dalam urat nadi masyarakat sehingga kami menjadi pelaksana asasi bagi berbagai proses tarbiyah, organisasi dan pengurusan dakwah yang akan membangunkan umat ini dari tidur dan kelalaian seraya menyahut seruan untuk menegakkan DeenMu di mukabumi ini.
 
Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS
 


Alamat Perhubungan

Pertubuhan IKRAM Malaysia (IKRAM) Daerah Kuala Langat
No. A-2-08, Blok A, Tingkat 2,
Jalan Bunga Pekan 9,
Pusat Perniagaan Banting Uptown,
42700 Banting, Selangor.

GPS: 2.811313,101.503486


Back to Top