Terkini...




0

Teruskan Beramal Walau Sedikit


Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Beramal sedikit demi sedikit tetapi terus menerus boleh diibaratkan seperti menanam benih pohon di mana pohon itu adalah jiwa kita sendiri. Kemudian kita meletakkan baja dan menyiraminya dengan air di mana baja dan airnya adalah amal-amal ibadah dan keimanan yang tulus.

Melakukan amal ibadah dan amal soleh secara terus menerus, setahap demi setahap, ibarat membangun benteng diri yang kukuh.

Ia umpama mengurus batu-bata satu persatu secara terus menerus hingga akhirnya berdirilah sebuah bangunan yang megah. Inilah amal yang dicintai Allah, iaitu melakukan kebaikan dan ibadah tanpa henti meskipun hanya sedikit.

Sedikit dalam beramal yang dilakukan terus-menerus juga sama dengan memupuk dan menyiram pohon iman sehingga ia akan tetap tumbuh segar dan tidak layu. Hasilnya, jiwa terus terangkat menuju darjat yang lebih baik serta menjejaki tangga-tangga ke arah kesempurnaan.

Para sahabat dahulu merasakan kegelisahan yang amat sangat dalam diri mereka apabila pada diri mereka wujud sikap tidak istiqamah dalam kebaikan.

Mereka diterpa rasa bersalah yang sangat besar ketika dalam diri mereka terasa ada keadaan yang menjadikannya tidak melakukan amal baik secara terus menerus.

Perhatikanlah bagaimana suasana dan gelombang kegelisahan luar biasa yang menimpa sahabat Rasulullah saw yang bernama Handzalah.

Ia merasa tidak mampu untuk berterusan dan menjaga kestabilan ruhaninya ketika tidak bersama Rasulullah saw.

Suatu ketika, Handzalah yang juga salah seorang penulis Rasulullah saw itu mendatangi Abu Bakar ra dengan melontarkan perkataan yang mengejutkan.

"Handzalah telah berlaku munafiq.. Handzalah telah berlaku munafiq…" katanya.

Handzalah mengungkapkan bagaimana perilakunya berubah. Di kala ia bersama Rasulullah saw, ia benar-benar seperti melihat syurga dan neraka di depan mata. Tapi, setelah ia berada jauh dari Rasulullah saw, pulang ke rumah dan bertemu keluarga, keadaan jiwanya pun berubah.

Abu Bakar tersentak dan mengatakan :

"Demi Allah, ini mesti kita sampaikan kepada Rasulullah saw kerana aku juga mengalami hal yang sama."

Akhirnya, mereka berdua pergi mengadap Rasulullah saw dan menceritakan permasalahan tersebut.

Rasulullah saw mendengar kegelisahan dua sahabatnya dengan tenang sekali dan setelah selesai mengungkapkan masalah mereka, Rasulullah saw mengatakan :

"Demi Allah, seandainya kamu terus menerus dalam keadaan seperti ketika kamu bersamaku dalam ingatan kamu, niscaya malaikat akan menyalami kamu di atas tilam kamu dan ketika kamu sedang berjalan. Akan tetapi wahai Handzalah… sesaat demi sesaat…" (HR Muslim)

Pesanan yang dapat kita ambil dari peristiwa yang dialami oleh Handzalah dan Abu Bakar tersebut adalah pentingnya semangat berterusan dalam beramal dengan tetap memelihara kualiti beramal.

An Nawas bin Sam'an ra mengatakan bahwa Rasulullah saw pernah menjelaskan tentang sifat istiqamah ibarat sebuah jalan yang lurus (shiraat).

"Allah memberi perumpamaan suatu jalan yang lurus (shiraat), di kanan-kiri jalan ada dinding dan di pagar ada pintu-pintu terbuka. Pada tiap pintu ada tabir yang menutupi pintu, dan di muka jalan ada suara berseru, "Hai manusia masuklah ke jalan ini, dan jangan berbelok dan di atas jalanan ada seruan, maka bila ada orang yang akan membuka pintu diperingatkan, `Celaka kamu, jangan membuka, sungguh jika kamu membuka pasti akan masuk (neraka)'. Shiraat itu ialah Islam, dan pagar itu batas-batas hukum Allah dan pintu yang terbuka ialah yang diharamkan Allah. Sedang seruan di muka jalan itu ialah kitab Allah, dan seruan di atas shirat ialah seruan nasihat dalam hati setiap orang muslim. (HR Ahmad, Tirmizi dan Nasa'ie)

Istiqamah tentunya tidak mudah untuk dilakukan. Sesiapapun yang ingin konsisten mencapai sebuah tujuan yang besar, pasti perlu melalui berbagai :

  1. Penderitaan.
  2. Kesulitan.
  3. Keadaan yang tidak disukai.
Tanpa istiqamah, tanpa kesinambungan dan tanpa berterusan dalam beramal, matlamat suatu pekerjaan tidak akan berhasil sesuai dengan harapan.

Di sinilah kita memerlukan petunjuk untuk menerapkan amal secara bijaksana.

Sesungguhnya istiqamah, berterusan dan berkesinambungan dalam suatu amal adalah agak sukar untuk diterapkan kecuali dengan memilih jalan :

  1. Pertengahan.
  2. Tidak berlebihan.
  3. Tidak bertentangan dengan kemampuan untuk melakukannya.
Rasulullah saw mengaitkan istiqamah dengan sikap tidak berlebih-lebihan.

Perhatikanlah sabda baginda saw yang berbunyi :

"Luruskanlah dirimu dan janganlah berlebih-lebihan, ketahuilah bahwa tiada seorangpun yang dapat selamat berdasarkan amalnya semata-mata, para sahabat bertanya, "Walaupun anda sendiri ya, Rasulullah?", beliau menjawab, "Demikian pula saya tidak dapat selamat kecuali bila Allah melimpahkan rahmat dan kurniaNya atas diriku". (HR lbnu Majah)

Bersikap lurus dan tidak berlebih-lebihan semuanya adalah selari dan saling memerlukan. Sikap istiqamah tidak akan berlaku bagi seseorang yang melakukan amal secara berlebihan. Di sudut lain, amal yang melewati keupayaan seseorang, pasti akan mematahkan amal.

Yang dituntut dari kita adalah, jika tidak mampu melakukan secara istiqamah, hendaknya mendekatinya, oleh kerana itu, segala amal mesti dilakukan secara sederhana dan pertengahan.

Rasulullah saw bersabda :

"Ikutilah petunjuk yang sederhana (tengah-tengah) kerana orang yang kaku dan keras menjalankan agama ini akan dikalahkan olehnya." (HR Ahmad, Hakim dan Baihaqi)

Sungguh bijaksana sekali nasihat yang keluar dari lisan Rasulullah saw :

"Amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus walaupun hanya sedikit". (HR Bukhari dan Muslim)

Tidak ada kebahagiaan yang diperolehi secara mudah.
Bahkan tingkatan kesulitan dan kemudahan sesuatu proses untuk mencapai kebahagiaan akan menjadi bahagian yang penting bagi menentukan kadar kebahagiaan yang akan kita perolehi.

Ingatlah, semua manfaat tidak akan datang kecuali dengan rasa penat lelah. Kenikmatan itu bahkan datang sesuai dengan kadar kepenatan dan keletihan untuk memperolehinya.

Oleh sebab itu, kebahagiaan di akhirat mesti ditempuh dengan :

  1. Keletihan dalam beramal.
  2. Kesulitan untuk meraihnya.
Allah swt menyebutkan bahwa untuk masuk syurga sekalipun, orang-orang yang beriman mesti melalui proses ujian dan penyaringan seperti yang dijelaskan oleh Allah swt :

"Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (sahaja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka belum diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS Al Ankabut 1- 3)

Berterusan dalam beramal memang sesuatu yang sukar di mana ia memerlukan :

  1. Pengorbanan.
  2. Kekuatan mujahadah (kesungguhan) melawan keinginan yang boleh mematahkan semangat penerusan amal.
  3. Kepasrahan dan ketundukan penuh kepada Allah swt untuk meraih tenaga yang mampu mengalahkan rasa sombong dan ujub.
  4. Kesabaran berlipat kali ganda untuk mampu bertahan menjalani berbagai halangan dan rintangan yang pasti dijumpai dalam memelihara penerusan amal.
Namun, itulah harga yang mesti dibayar untuk kenikmatan syurga di akhirat. Bahkan bukan hanya di akhirat, sesungguhnya buah penerusan amal itu, meskipun sedikit, sudah boleh dipetik sejak di dunia lagi.

Ada beberapa sebab mengapa amal yang sedikit tapi berterusan jauh lebih baik daripada amal besar yang tidak berkesinambungan.

PERTAMA :  BERTERUSAN WALAU SEDIKIT ADALAH TANDA KEIKHLASAN.

Ibadah yang dilakukan yang hanya bersifat sementara, mengikut kesesuaian waktu, tidak berterusan dan sesuai dengan keadaan semata-mata adalah tanda keikhlasan yang belum sempurna. Ini adalah kerana secara umumnya, aktiviti ibadah yang dilakukan tidak secara terus menerus lebih dimotivasi oleh keadaan lahiriah dan urusan duniawi.

Pendekatan diri kepada Allah hanya dilakukan ketika ia :

  1. Sedang memerlukanNya.
  2. Sedang mengalami kesulitan.
  3. Tertimpa musibah.
  4. Diuji dengan kesempitan dan kesusahan.
  5. Meminta agar Allah menolong dan membantunya meringankan penderitaan.
Namun, ketika semua kesulitan dan penderitaan itu telah hilang, ia pun meninggalkan amal-amal ibadah yang sebelumnya dilakukannya.

Perhatikan firman Allah swt berikut :

"Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (dihilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan." (QS Yunus : 12)

Berbeza dengan hamba Allah yang ikhlas, yang tetap istiqamah melakukan ibadah dan amal soleh. Ketika diuji dengan kesulitan, ia duduk bersimpuh dan sujud memohon pertolongan Allah dan ketika diberi kelapangan, ia akan semakin banyak bersyukur dan mendekatkan diri kepada Allah yang melapangkan kehidupannya.

KEDUA : BERTERUSAN WALAU SEDIKIT ADALAH MATA AIR DAMAI DAN NYAMAN.

Setiap kita memerlukan rasa :

  1. Nyaman.
  2. Damai.
  3. Tenang.
Itulah di antara buah istiqamah dalam kebaikan yang dilakukan. Amal soleh, apalagi yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit akan menciptakan suasana damai dan tenang di dalam hati.

Kesinambungan ibadah dalam berbagai bentuknya akan membina jiwa seseorang menjadi lebih dekat dengan Allah swt. Penerusan dalam melakukan ibadah itulah yang membentuk jiwa menjadi seperti itu.

Kebahagiaan dan kelazatan dalam hati orang-orang yang dekat dengan Allah tidak mampu dirasakan kecuali oleh mereka yang merasakan kebahagiaan itu.

Lihatlah perkataan para salafussoleh :

"Kasihan sekali orang-orang yang lalai itu. Mereka keluar dari dunia tapi mereka belum merasakan puncak manisnya dunia."

Puncak kemanisan dunia bagi mereka ada pada kedamaian dan kenikmatan hidup bersama Allah swt.

Imam Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitabnya `Ighatsatul Lahfan' :

"Andainya para raja dan para pembesar itu mengetahui kenikmatan apa yang dirasakan oleh para ahli taqwa, niscaya mereka akan berusaha merebut kenikmatan itu dengan pedang terhunus."

Ibnu Taimiyah ketika di dalam penjara justeru merasakan kenikmatan ujian itu. Dalam sepucuk surat kepada murid-muridnya ia menulis :

"Kami Alhamdulillah dan syukur pada Allah, berada dalam kenikmatan agung yang setiap hari terus bertambah. Allah memperbaharui nikmatNya demi nikmatnya yang lain. Saya dalam keadaan baik. Kedua mata saya bahkan lebih baik dari sebelumnya. Kami berada dalam nikmat yang sangat besar, yang tidak mampu dihitung dan dihisab."

KETIGA : BERTERUSAN WALAU SEDIKIT ADALAH STRATEGI.

Perbuatan manusia itu memiliki beberapa tingkatan. Ada perbuatan yang paling mulia dan dicintai oleh Allah swt berbanding perbuatan lainnya.

Allah swt berfirman :

"Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjid Al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi darjatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (QS At-Taubah : 19-20)

Dalam hadits shahih disebutkan bahwa :

"Iman itu memiliki enam puluh lebih cabang (atau tujuh puluh lebih) yang paling tinggi adalah Laa ilaaha illa Allah dan yang paling rendah ialah menyingkirkan penghalang yang ada di jalan."

Hal ini menunjukkan bahwa tingkatan iman itu bermacam-macam nilai dan tingkatannya.

Amir As Sya'bi, seorang tabiin menceritakan bahwa suatu ketika beberapa orang keluar dari Kufah dan menyendiri untuk melakukan ibadah.

Kemudian Abdullah bin Mas'ud diberitahu tentang keadaan mereka. Ibnu Mas'ud mendatangi mereka dan mereka sangat gembira dengan kedatangan Ibnu Mas'ud.

Ibnu Mas'ud bertanya : "Apa yang membuat kamu melakukan perkara ini?"

Mereka mengatakan : "Kami ingin keluar dari keramaian manusia dan melakukan ibadah."

Ibnu Mas'ud berkata : "Kalau seandainya manusia melakukan semuanya seperti apa yang kamu lakukan, siapa yang akan berperang melawan musuh?"

Menurut Ibnul Qayyim, orang yang dikatakan sangat pemberani adalah :

  1. Orang yang langsung berhadapan dengan musuh dengan senjatanya. Posisinya di barisan pejuang dan jihadnya melawan musuh-musuh Allah itu lebih baik dari haji, puasa dan sedekah.
  2. Orang yang mengetahui sunnah, hukum halal haram, jalan kebaikan dan keburukan, kemudian ia tetap bergaul dengan manusia mengajarkan mereka dan menasihati mereka tentang Islam itu lebih baik daripada ia menyendiri melakukan solat dan menghabiskan waktu untuk membaca Al Qur'an dan tasbih.
KEEMPAT : BERTERUSAN WALAU SEDIKIT ADALAH BAHAN BAKAR UTAMA.

Mengikut Ibnul Qayyim, orang yang ingin mencari ridha Allah dan memperolehi kebahagiaan akhirat dan bahkan setiap orang yang ingin mencapai matlamatnya tidak akan tercapai kepada tujuannya kecuali dengan dua kekuatan :

  1. Kekuatan ilmu.
  2. Kekuatan amal.
Kekuatan ilmu akan menerangkan jalan dan meletakkan pelakunya agar sampai pada tujuannya, terhindar dari bahaya dan tempat-tempat yang terlarang atau menjadikannya tersesat.

Kekuatan amal adalah kekuatan untuk istiqamah dan tetap berusaha meneruskan perjalanan. Usaha untuk dapat bertahan dan istiqamah meneruskan perjalanan adalah dengan mengetahui dan memanfaatkan kemudahan yang diberikan Allah dalam beribadah.

Maka, kita mesti berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan amal perbuatan setiap saat serta mempunyai komitmen yang tinggi pada jalan kebaikan.

Sikap berlebihan dan pemaksaan diri dalam melakukan amal, tidak jarang dapat mengeluarkan seseorang dari jalur yang benar akibat diterpa oleh kejenuhan dan rasa bosan.

Mari kita dengar sebuah cerita dari Buraidah yang suatu ketika pergi keluar rumah untuk sebuah keperluan. Kebetulan ketika itu ia bertemu dengan Rasulullah saw dan berjalan bersamanya.

"Dia memegang tangan saya, dan kami bersama-sama pergi. Kemudian di depan kami ada seorang lelaki yang memperpanjangkan ruku' dan sujudnya.

Nabi saw bertanya :

"Apakah kamu melihat bahwa orang itu melakukan riya'?"

Aku berkata : "Allah dan RasulNya yang lebih tahu."

Kemudian beliau melepaskan tanganku, dan membetulkan kedua tangan orang itu dan mengangkatnya sambil bersabda :

"Ikutilah petunjuk yang pertengahan. " (Disebutkan oleh al-Haitsami dan Ahmad dalam Majma'Az Zawaaid)

Sesungguhnya, amal yang berterusan pasti berat dilakukan, namun, itu biasanya berlaku hanya pada awalnya sahaja. Ibarat memutar sebuah roda. Terasa berat hanya pada awal putaran tetapi pada putaran kedua, ketiga dan seterusnya, roda itu akan lebih mudah diputar.

Demikianlah juga dengan keadaan jiwa manusia. Maka marilah kita penuhi usia yang masih tersisa ini dan yang terpenting dalam hidup ini adalah terus menerus melakukan amal hingga ajal menjemput.

Ya Allah, berilah kekuatan kepada kami supaya kami dapat melakukan sesuatu amal dengan berterusan dan hanya mengharapkan wajahMu. Hadirkanlah rasa nikmat di dalam hati kami semasa kami melaksanakannya sehingga kami akan terus menggandakan usaha sehingga tercapai cita-cita dan matlamat kami iaitu samada mendapat pertolongan dan kemenangan yang dekat dariMu atau mati syahid menuju ke syurgaMu yang dirindui.

Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS

http://tinta-perjalananku.blogspot.com/    
0

Islah Asas Perubahan


Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Berbagai teori atau gagasan telah digali serta dijadikan sebagai acuan atau rujukan untuk mewujudkan perubahan manakala setiap orang samada mereka para pemimpin, ahli politikpendidikpeniaga atau sesiapapun pasti memiliki impian untuk mewujudkan PERUBAHAN dalam hidupnya.

Selain itu, terdapat sebegitu banyak tulisan atau buku bahkan pengalaman para pembicara dalam berbagai seminar, kursus dan latihan yang semuanya telah memperkayakan khazanah keilmuan ke arah perubahan yang diimpikan.

Namun, apakah kita mendapatkan kesan yang konkrit dari semua itu?

Percayalah, jika kita tidak merasakan apa-apa, ianya bukanlah disebabkan oleh teorinya yang telah gagal atau tidak berkesan namun kemungkinan penyebabnya adalah kerana kita masih terjebak dalam menghadapi sesuatu situasi itu dengan cara yang lama atau yang biasa kita lakukan.

Jika kita ingin memahami dengan lebih jauh tentang perubahan, kita perlu meneliti  beberapa rahsia perubahan yang akan memberi kefahaman yang lebih tepat tentang isu perubahan.

PERTAMA :

Perubahan itu mestilah bermanfaat dan akan mendatangkan kemaslahatan yang lebih nyata dan luas kepada lingkungan di mana perubahan itu ingin diwujudkan.

Jika kita merancang atau melakukan perubahan, maka perkara utama yang mesti ada dalam fikiran kita adalah unsur manfaat. Kita mesti mampu meyakinkan bahkan menghadirkan manfaat secara nyata dari apa yang kita rancangkan.

Mengapa?

Ini adalah kerana, tidak sedikit teori hanya tinggal teori yang berada dalam diri seseorang seperti telur ayam yang diam tidak melakukan apa-apa di reban ayam.

KEDUA :

Perubahan mestilah menjangkau keperluan masa kini dan masa depan manusia. Yang tidak kalah pentingnya adalah kita mesti mampu membawa perubahan yang kita  rancangkan atau lakukan itu pada usia keperluan manusia.

Hanya dengan cara begitu, orang akan merasakan bahwa kehadiran perubahan yang kita lakukan memenuhi keperluan mereka; bukan sekadar untuk satu tempoh tertentu, bahkan untuk suatu waktu yang cukup lama.

KETIGA :

Perubahan mestilah menyentuh keperluan peribadi atau individu manusia secara langsung.

Percayalah, tidak ada perubahan yang hakiki yang benar-benar mengubah kenyataan tanpa adanya perubahan pada individu. Perubahan pada individu bukan sahaja sebagai sumber utama perubahan tetapi juga sebagai langkah yang berkesan dalam mewujudkan perubahan.

Dalam konteks peradaban, kita biasa membaca sejarah bagaimana Nabi Muhammad saw menjadi tenaga kepada perubahan yang hebat di Madinah.

Apakah penyebabnya?

Ia adalah kerana baginda mendatangkan sesuatu yang sangat menyentuh hati penduduk Madinah. Baginda membawa Islam dengan metod atau cara yang tidak melukai hati penduduk Madinah. Baginda memulainya dengan membangun masjid dan pasar. Kata kuncinya dalam hal ini ialah menyentuh keperluan individu secara langsung.

Sesungguhnya isu perubahan masih menjadi slogan utama kepada setiap Gerakan Islam dan kepada parti-parti politik pula mereka mengangkatnya sebagai suatu komoditi politik.

Bagi kita sebagai aktivis dakwah, semangat perubahan mesti sentiasa melekat kepada diri kita kerana Gerakan Dakwah adalah gerakan yang membawa agenda perubahan.

Perubahan di sini bukanlah semata-mata perubahan yang biasa tetapi perubahan ke arah peningkatan kualiti samada kualiti :
  1. Kemanusiaan.
  2. Keimanan.
  3. Keislaman.
Oleh itu sesebuah Gerakan Perubahan itu juga membawa misi Gerakan Pengislahan kerana  perubahan yang sebenar adalah menuju kepada yang :
  1. Lebih bermanfaat.
  2. Lebih baik.
Maknanya ia juga adalah sebagai Gerakan Pengislahan.

Aktivis dakwah dituntut untuk mampu menyerapkan diri mereka dalam masyarakat dan menempatkan dirinya sebagai anasir perubah. Harapannya adalah setiap aktivis dakwah perlu menjadi agen perubah.

Aktivis dakwah adalah agen perubah di mana dalam usaha melakukan perubahan tentunya bukan perubahan menurut hawa nafsu, keinginan atau seleranya tetapi perubahan-perubahan yang berlandaskan sumber 'rabbaniyah'.

Asas perubahan yang paling mendasar adalah 'islah' yang rabbani, iaitu perubahan yang sentiasa bermula dari diri manusia itu sendiri.

Seluruh perubahan, samada perubahan dari buruk ke arah yang baik atau dari baik ke arah yang buruk adalah tetap berasal dari faktor manusianya. Itu adalah merupakan konsep yang telah ditetapkan di dalam Al Qur'an. 
Jika dari baik berubah menjadi buruk, kita boleh lihat dalam firman Allah berikut :

"Yang demikian (siksaan) itu adalah kerana sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkanNya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Al Anfaal : 53)

'Nikmatan' dalam ayat di atas bererti kebaikan iaitu kebaikan yang diberikan sebagai sifat kepada suatu bangsa atau suatu umat sehingga mereka merubah ciri-ciri dan karakter diri mereka.

Ini adalah kerana kebaikan, untung baik atau kenikmatan berkait langsung dengan usaha-usaha manusia yang ke arah mewujudkan akhlak yang baik.

Kenapa kita boleh hidup aman, damai, tenteram dan sejahtera?

Ini adalah kerana dalam masyarakat ini adanya individu-individu yang mempunyai akhlak terpuji.
  1. Jika 'amanah' ini berubah menjadi 'khianat', maka malapetakalah yang akan muncul.
  2. Jika 'istiqamah' itu berubah menjadi 'nifaq', maka kerosakanlah yang akan muncul.
  3. Jika 'kemurahan hati' berubah menjadi 'bakhil', maka ramailah manusia-manusia yang benar-benar      memerlukan terlantar dan tidak dipedulikan.
Jadi, pokok pangkal perubahan dari kenikmatan menuju kepada malapetaka adalah 'maa bianfusihim' (Apa yang ada di dalam diri manusia itu sendiri).

Malapetaka akan muncul jika :
  1. Amanah berubah menjadi khianat.
  2. Sifat istiqamah berubah menjadi 'nifaq'.
  3. Ciri pemurah berubah menjadi bakhil dan kikir.
  4. Perilaku benar berubah menjadi pembohong.
  5. Perilaku Islam berubah menjadi jahiliyah.
  6. Iman berubah menjadi kufur.
Semuanya adalah sumber perubahan nikmat kepada bencana.

Begitu juga nasib buruk yang menimpa suatu bangsa, suatu kaum atau suatu umat, pangkal perubahannya mesti dimulai dari 'Apa yang ada di dalam diri mereka sendiri'  sepertimana yang tercatat dalam Al Qur'an :

"Sesungguhya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, hingga mereka mahu merubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri". (QS Ar Ra'd : 11)

'Maa' ini bererti nasib, maka 'maa biqaumin' adalah nasib suatu kaum. Maka nasib buruk suatu kaum tidak akan berubah sehingga kaum itu merubah ciri-ciri atau karakter-karakter buruknya dari :
  1. Khianat menjadi amanah.
  2. Nifaq menjadi istiqamah.
  3. Bakhil menjadi pemurah.
  4. Pembohong menjadi benar.
  5. Jahiliyah menjadi Islamik.
  6. Kufur menjadi iman.
Konsep rabbani ini adalah konsep yang paling bijaksana kerana ianya merubah hakikat diri manusia itu sendiri. 

Kita tidak ingin :
  1. Melakukan perubahan dengan mengorbankan akhirat kita.
  2. Memperbaiki kehidupan dunia kita dengan mencabik-cabik agama kita.
kerana ini akan mengakibatkan dunia yang kita kejar tidak kita perolehi dan dalam masa yang sama 'Deen' yang kita perjuangkan hilang begitu sahaja. Itu bukanlah manhaj kita.

Hendaklah kita sedari bahwa harakah ini bukanlah harakah 'tempelan' tetapi kita adalah 'Harakah Islahiyah' iaitu Gerakan yang akan membawa perubahan kepada kehidupan masyarakat.

Gerakan perubahan yang ingin kita wujudkan di tengah-tengah masyarakat adalah di mana :
  1. Landasannya rabbani.
  2. Konsepnya juga rabbani.
  3. Sumber inspirasinya tetap rabbani.
Walaubagaimanapun objek dan langkah-langkah kerjanya masih bersifat 'fitri' (fitrah).

Maka oleh sebab itu, prinsip rabbani mestilah diikuti dengan prinsip yang fitrah.

Perubahan yang diasaskan di atas konsep Islam memiliki karakteristik khas bagi mengangkat kemuliaan dan martabat manusia.

KARAKTERISTIK PERTAMA : MEMELIHARA DAN MENJAGA KEHORMATAN DAN KELEBIHAN MANUSIA

Karakteristik ini mesti dipelihara agar jangan sampai manusia terjatuh dan rosak serta kehilangan kemanusiaannya.

Jika ini sudah berlaku, maka Allah swt menyebutnya sebagai 'ulaaika kal an'am', ertinya manusia kehilangan kemanusiannya lalu bersikap kebinatangan bahkan lebih sesat dari binatang ('Bal hum adhol').
Ini adalah kerana, jika harimau masuk ke habitat penternakan, paling tidak yang diambil cuma seekor kambing tapi, jika manusia berjiwa harimau, bukan hanya seekor kambing yang diambil tetapi seluruh ternakan, kompleks dan orang-orangnya diambil sekaligus.

Allah swt berfirman :

'Walaqad karramnaa banii aadam', "Sudah kami muliakan bani Adam."

Bahkan seiring dengan itu, 'Warazaqnaahum minath thayyibat', " Diberikan rezeki (kemudahan-kemudahan) yang baik-baik."

Kemudian diberikan keunggulan, 'Wa fadholnaahum 'alaa katsiirin mimman khalaqna tafdhilaa."

Oleh yang demikian, segala kehormatan dan kelebihan yang diberikan kepada manusia semuanya mesti kita pelihara dan pertahankan sehingga jangan sampai manusia terjerumus kepada kehidupan yang bercirikan sifat kebinatangan.

Perubahan, selain ianya bersifat rabbaniyah, ia juga adalah bersifat fitrah. Perubahan yang diinginkan tetap melihat sisi kemanusiaan manusia termasuk kehormatan manusia yang sering diperjuangkan oleh para aktivis wanita, walaupun sebenarnya dalam Islam, itu sudah termasuk ke dalam kategori isu-isu perubahan yang sepatutnya kita pikul.

Landasan yang 'rabbani' adalah langkah tepat untuk memelihara kehormatan dan kelebihan yang dikurniakan kepada manusia.

KARAKTERISTIK KEDUA : MEMELIHARA KEPENTINGAN-KEPENTINGAN MANUSIA

Seluruh syariat Allah yang diturunkan kepada rasul-rasulNya adalah bukan semata-mata untuk memelihara kehormatan manusia tetapi juga bagi kepentingan manusia sebagai manusia, termasuk kehormatan dan kepentingannya yang dijamin.

Oleh yang demikian, perubahan yang dilakukan itu tidak boleh mengorbankan kehormatan dan kepentingan manusia atas nama :
  1. Pembangunan.
  2. Kemajuan.
  3. Pemodenan.
Manusia di sini bukan hanya muslimin dan  mukminin tetapi termasuk juga pemeluk-pemeluk agama lain di mana perubahan itu mestilah mampu memberikan jaminan kehormatan dan kepentingan mereka juga.
Dal
am hal ini, ada lima (5) hak yang perlu diperhatikan.

PERTAMA : HAK UNTUK HIDUP

Seluruh makhluk Allah mempunyai hak untuk hidup di bumi selagimana ianya tidak merosakkan kehidupan mahkluk yang lain. Jika ianya merosakkan kehidupan makhluk yang lain seumpama berlakunya kezaliman maka ada hukum syar'ie yang akan mencabut hak kehidupannya.

Namun dalam keadaan normal, setiap makhluk Allah mempunyai hak untuk hidup termasuk orang-orang beriman, orang kafir atau orang musyrik.

Kefahaman seperti ini sangatlah penting di mana ianya bukanlah sebahagian dari kefahaman pluralisma kerana Allah swt menciptakan makhluk itu tidak seragam, termasuk dalam pemikiran dan keyakinannya.

KEDUA : HAK BERAGAMA MELIPUTI HAK KEROHANIAN, HAK KEYAKINAN DAN HAK BERIBADAH.

Semua ini tidak boleh terhakis oleh perubahan, malah ianya mesti diakui kewujudannya, dijaga dan diamankan oleh gerakan perubahan.

Hak beragama ini termasuklah protokol-protokolnya, kemudahan-kemudahannya serta ritual-ritualnya dan bukan hanya sebatas keyakinan.

Dalam surah Al-Hajj, Allah swt menyebut:

"Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS Al Hajj : 40)

Di sini kita lihat, perlu wujudnya sunnah saling mencegah untuk memelihara kewujudan wasilah-wasilah komunikasi dengan Allah walaupun wasilah itu dari segi aqidahnya salah. Ini termasuk gereja-gereja (Shawami'u) dan sinagok-sinagok (Wa biya'un).

Kenapa Islam mengakui keberadaan agama-agama lain walaupun tidak mengakui kebenarannya. Ini adalah kerana dalam agama-agama itu terdapat semangat berkomunikasi dengan pencipta (Al Khaliq), walaupun caranya salah.

Ertinya, di sini ada yang bertuhan di mana secara kerohaniannya ada pengendalian. Jika semangat kerohanian ini tidak wujud sama sekali, manusia akan lebih cenderung berubah menjadi binatang.

Oleh kerana itu, Islam memelihara dan melindungi hak-hak kerohanian ini kerana ini tiada kaitan dengan permasaalahan agama kerana hubungan komunikasi kerohanian  itu mestilah secara sukarela dan ikhlas. 

Mari kita menghimbau ucapan Umar bin Al Khattab ra kepada 'Amru bin Al 'Ash yang juga merupakan gabenor Mesir di mana ucapannya berupa keterangan yang berisi deklarasi hak-hak asasi manusia dari 'Khalifah Rasyidah' dengan mengatakan :

"Wahai 'Amru! Sejak bila kamu memperhambakan manusia, padahal mereka dilahirkan dalam keadaan merdeka?"

Kalimah di atas  tidak ditujukan kepada mukminin sahaja kerana lafaz 'Naas' itu jelas untuk seluruh manusia.  Ini menjadi salah satu ketetapan hak asasi manusia.

Kalimah ini diucapkan oleh Umar ketika pembelaan dan perlindungan beliau kepada seorang pemuda Qibti yang dizalimi oleh anak gabenor Mesir iaitu 'Amru bin Al 'Ash  ketika perlumbaan ketangkasan berkuda.

Dalam perlumbaan itu, pacuan pemuda Qibti itu lebih lincah dan laju sehingga dapat mengalahkan anak gabenor yang Muslim. Anak gabenor itu tidak mahu menerima kekalahannya lalu punggung pemuda Qibti itu dipukul dengan mengatakan, "Eh, ke belakang kamu, jangan mendahului aku!"."Ana ibnu akramiin" (Saya anak orang yang mulia, anak gabenor)."

Ini adalah sebuah detik sejarah yang sangat luar biasa di mana seorang pemuda Qibti di bawah Khilafah Islamiyah menyedari haknya sebagai warga negara dan berkeyakinan bahwa dia akan dilindungi oleh pemerintahan Islam lalu ia terus mengadu secara terus kepada khalifah Umar yang akhirnya memanggil 'Amru bin Al Ash dan anaknya untuk membetulkan keadaan.

KETIGA : HAK INTELEKTUAL

Setiap manusia mempunyai :
  1. Pemikiran berbeza.
  2. Idea berbeza.
  3. Cita-cita berbeza.
  4. Keinginan berbeza.
Itu adalah hak kemanusiaan yang paling asas yang mesti dijaga dan dipelihara supaya sifat dinamik akal manusia itu terjamin.

Hak intelektual ini penting termasuklah dalam melaksanakan 'syura' dalam Islam.

Jika pemikiran itu diseragamkan, mungkin tidak banyak kemajuan berfikir yang boleh dihasilkan. Biarkanlah pemikiran, idea serta cadangan bernas itu berinteraksi dalam proses syura yang akhirnya akan terbentuk menjadi suatu keputusan bersama.  

Menjaga dan memelihara hak intelektual ini adalah sangat penting dan tidak boleh dihapuskan kerana ianya berkait juga dengan hak ideologi, hak pengeluaran idea, hak pemilikan konsep serta hak pemikiran walaupun sebenarnya dalam konteks sesebuah organisasi, hal tersebut dikelolakan dalam 'syura' yang dibentuk dalam suasana hikmah kebijaksanaan dan akhirnya menghasilkan keputusan-keputusan bersama. Inilah yang disebut 'Al 'Azmu' (Tekad bersama)

'Wa syaawirhum fil amr'. Tidak ada musyawarah kalau sudah ada satu pendapat tetapi kalau sudah menghasilkan kesepakatan bersama, hendaklah kita bertawakkal dan berserah kepada Allah.

Rasulullah pernah ditanya :

"Wamal 'Azmu Yaa Rasulallah? (Apakah tekad bersama itu wahai Rasulullah?)

Rasulullah saw menjawab :

"Al-Azmu Masyuurah" (Tekad bersama itu hasil musyawarah).

Oleh yang demikian, tidak boleh wujud penghapusan atau pembasmian hak-hak intelektual kerana ianya adalah sebahagian dari hak-hak akal.

KEEMPAT : HAK EKONOMI

Ini berkaitan dengan jaminan hak-hak ekonomi meliputi :
  1. Hak untuk menjalankan perusahaan.
  2. Hak akses terhadap permodalan.
  3. Hak akses terhadap sumber alam semulajadi.
  4. Hak untuk mengeksplorasi sumber ekonomi.
  5. Hak untuk mengeksploitasi sumber ekonomi.
Semua ini adalah hak kemanusiaan yang mesti dijamin di negara manapun dan oleh kelompok manapun, apalagi oleh gerakan dakwah.

KELIMA : HAK SOSIAL 

Hak sosial ini meliputi :
  1. Hak untuk bersuami dan beristeri.
  2. Hak untuk beranak.
  3. Hak untuk berumah tangga.
  4. Hak untuk hidup berjiran tetangga dengan rukun dan damai.
Selain itu, ada lagi hak-hak sosial yang lain termasuk :
  1. Hak berorganisasi.
  2. Hak berkumpul secara aman.
  3. Hak bermasyarakat.
  4. Hak menubuhkan yayasan.
Itulah di antara tiang-tiang utama pembentukan masyarakat dalam Islam iaitu terpeliharanya lima perkara tersebut iaitu hak hidup, hak beragama, hak intelektual, hak ekonomi dan hak sosial.

Dalam perlaksanaan gerakan perubahan itu, tidak boleh ada pembasmian atau penghapusan terhadap hak-hak tersebut kerana gerakan perubahan mestilah menjamin, memelihara dan mengamankan hak-hak Islamiyah ini yang juga termasuk dalam istilah 'Al maqashidus Syariah Al Khamsah' (tujuan-tujuan syariah yang lima). 

KARAKTERISTIK KETIGA : BERSIFAT SEMPURNA, LENGKAP DAN MENYELURUH

Gerakan perubahan dalam Islam adalah gerakan yang bersifat sempurna, lengkap dan  menyeluruh serta menyentuh semua bidang dan bukan hanya bertumpu kepada bidang pendidikan dan pembentukan syakhsiyah semata-mata tapi juga menerobos ke bidang budaya, seni, teknologi, informasi, ekonomi dan lain-lain di mana semua bidang kehidupan ini mestilah  tersentuh oleh arus perubahan dan tidak boleh ada bidang yang tertinggal atau ditinggalkan.

Sesuatu perubahan mestilah juga menyentuh semua hak-hak, semua kegiatan dan semua bidang kehidupan termasuk bidang pertanian, perikanan, nelayan, pendidikan, buruh dan sebagainya. Inilah perubahan yang perlu dilakukan.

KARAKTERISTIK KEEMPAT : WUJUDNYA KESEPADUAN

Kebiasaannya, kehidupan politik akan disepadukan dengan kegiatan ekonomi, pendidikan, budaya, kebajikan dan sebagainya sehingga, jika wujudnya demokrasi dalam politik, maka ini bererti akan wujudnya demokrasi dalam ekonomi, pendidikan, budaya seterusnya di dalam bidang kehidupan yang lain kerana perubahan yang kita laung-laungkan adalah demokrasi dan mesti menyentuh segala bidang kehidupan secara bersepadu.

KARAKTERISTIK KELIMA : BERTAHAP ATAU BERANSUR-ANSUR

Kita yakin bahwa sesuatu perubahan itu tidak boleh dilakukan secara sekaligus, malah ianya mestilah secara bertahap dan beransur-ansur bermula dari objek manusianya iaitu dari peribadi kepada keluarga, masyarakat dan kemudiannya negara.

Jadi perubahan yang dilakukan itu mestilah bertahap samada dari objeknya atau dalam waktunya juga.
Manusia sebagai individu biasanya menjadi dewasa setelah berumur 25 tahun. Begitu juga walaupun kita kagum terhadap pencapaian pemain bola sepak dunia misalnya, ini bukanlah bererti kita memaksakan anak-anak kita agar memiliki kaki yang besar dahulu supaya ia kuat menendang bola. Sudah tentu perkara ini akan menjadi tidak seimbang dengan pertumbuhan badan dan tangannya.

Biarkan ia tumbuh dan berkembang secara bersama, bertahap dan seimbang sehingga tidak perlu dipaksakan untuk melakukan lompatan jauh ke depan.

Akhirnya, perubahan bukanlah suatu teori yang :

a.       Sukar.
b.      Panjang.
c.       Berat.

Bahkan perubahan adalah suatu perkataan yang mudah yang hanya akan terwujud jika kita sendiri yang segera mewujudkannya.

Mungkin kita boleh mulakan :

1.      Dengan diri kita dahulu.
2.      Dengan yang kecil dahulu.
3.      Dari saat ini juga.

Keputusan itu ada pada diri kita samada kita mahu menjadi pengendali perubahan atau pelaku utama yang mewujudkan impian kita atau justeru sebaliknya di mana kita menjadi musuh utama diri kita sendiri yang menjadi penghalang kepada perubahan itu sendiri.

Ya Allah, kami memahami bahwa setiap perubahan tidak akan berlaku jika kami tidak mengubah apa yang ada di dalam diri kami sendiri berupa ciri-ciri dan karakter yang buruk yang bersarang di dalam jiwa dan sanubari kami. Berilah kekuatan kehendak kepada kami sehingga kami mampu untuk membuat perubahan ini dan seterusnya mengembangkannya ke persekitaran kami meliputi keluarga, masyarakat dan negara kami.

Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS 

http://tinta-perjalananku.blogspot.com/   
0

Gejala Kelesuan Ruhiyah


Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Kelesuan ruhiyah adalah satu fenomena yang agak merbahaya yang menjadi suatu gejala yang tidak sihat berlaku kepada sebahagian aktivis dakwah di mana ianya mampu dibaca oleh mereka yang mempunyai pandangan yang tajam yang memberi perhatian terhadap :

  1. Tutur kata.
  2. Pandangan mata.
  3. Gerak langkah.
seseorang aktivis tersebut.

Di kalangan aktivis dakwah, perkara sedemikian cukup merbahaya dan berpotensi untuk melemahkan kekuatan dakwah, di samping sebagai bukti menjauhnya mereka dari manhaj yang mereka kenali.

Semua kita tahu bahwa aspek :

a. Ruhiyah.
b. Ibadah.

merupakan olahan dan garapan yang utama terhadap manhaj dakwah.

Penekanan terhadap dua aspek ini bukanlah sesuatu yang berlebihan sehingga memberi gambaran adanya usaha pembentukan arus tasawuf dalam dakwah.

Yang jelas bahwa dua aspek ini adalah perintah dari Allah yang mesti ditegakkan di samping menjadi wasilah yang akan menyokong kesepaduan dakwah.

Apabila nilai-nilai tersebut terlepas dari genggaman aktivis dakwah, maka ianya akan melemahkan semangat ruhiyahnya sehingga kemudiannya ia jatuh `sakit' dan berakhir dengan `kematian' ruhiyah tersebut, Naudzubillah.

Kejadian fenomena ruhiyah yang lesu dan rapuh ini tidak sedikit jumlahnya. Di sini akan disebutkan sebahagiannya sambil diperturunkan beberapa peristiwa di medan agar dapat menjadi peringatan bagi setiap aktivis dakwah dan seterusnya dia perlu bersegera bagi mengatasinya :

PERTAMA : MERASAKAN KERAS DAN KASARNYA HATI

Fenomena di atas mengakibatkan seseorang merasakan bahwa hatinya telah berubah menjadi batu yang keras.
Tidak ada sesuatupun yang dapat menyerap kepadanya ataupun mempengaruhinya.

Tidaklah berlebihan jika ungkapan di atas dinyatakan sebegitu, bahkan Al Qur'an telah menerangkan bahwa hati boleh mengeras hingga menjadi sekeras batu.

Allah swt berfirman :

"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi." (QS Al Baqarah : 74)

KEDUA : PERANGAI YANG TERSUMBAT DAN DADA YANG SEMPIT

Fenomena ini menjadikan seseorang :

  1. Terasa ada beban berat yang menghimpit sehingga termengah-mengah keletihan.
  2. Sering mengomel dan mengeluh terhadap sesuatu yang tidak jelas.
  3. Gelisah dan sempit dalam pergaulan sehingga tidak peduli terhadap penderitaan orang lain bahkan timbul ketidaksukaan kepada mereka.
KETIGA : TIDAK TERPENGARUH OLEH AYAT-AYAT AL QUR'AN

Hatinya tidak sedikitpun terkesan dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandungi tuntutan, larangan, ancaman atau tentang peristiwa kiamat.

Dia mendengarkan Al-Qur'an seperti mendengar kalam-kalam lainnya.

Lebih merbahaya lagi apabila dia merasa sempit dada ketika mendengarkan ayat Al-Qur'an seperti sempitnya dia ketika mendengarkan perbualan orang lain.

Dia tidak menyediakan waktu sedikitpun untuk tilawah dan apabila mendengarnya dari orang lain dia tidak melakukannya dengan khusyu' dan tenang.

KEEMPAT : PERISTIWA KEMATIAN TIDAK MEMBERIKAN BEKAS KEPADA DIRINYA

Boleh dikatakan semua peristiwa yang melibatkan kematian sedikitpun tidak ada pengaruh terhadap dirinya seperti :

  1. Menyaksikan orang mati.
  2. Mengusung jenazah.
  3. Menguburkannya di liang lahad.
Jika melalui kawasan perkuburan, seakan-akan ianya hanya berpapasan dengan batu-batu bisu yang tidak sedikitpun mengingatkannya terhadap kematian.

KELIMA : KECINTAANNYA TERHADAP KESENANGAN DUNIAWI SENTIASA BERTAMBAH DAN KESUKAAN MEMENUHI SYAHWAT SENTIASA BERKOBAR-KOBAR

Fikirannya tidak lari jauh melainkan sentiasa berfikir untuk melampiaskan syahwat tersebut sehingga dia merasa tenteram bila sudah memperolehinya.

Apabila melihat orang lain memperolehi kenikmatan dunia seperti harta, kedudukan, pangkat, rumah atau pakaian yang bagus dia merasa tersiksa dan menganggap dirinya gagal.

Lebih tersiksa lagi apabila yang mendapatkan kenikmatan duniawi itu adalah saudaranya sendiri atau sahabatnya.
 Kadang-kadang timbul pada dirinya penyakit dengki di mana dia tidak ingin kenikmatan itu tetap ada pada saudaranya. 

KEENAM : ADA KEGELAPAN DALAM RUHIYAH YANG BERBEKAS DI WAJAHNYA

Hal ini mampu diamati oleh mereka yang memiliki ketajaman firasat dan memandang dengan nur Allah.

Setiap mu'min memiliki nur sesuai dengan kadar keimanannya dan dia mampu melihat sesuatu yang tidak mampu dilihat orang lain.

Kegelapan ruhiyah tadi adalah begitu pekat sehingga begitu jelas tergambar di wajahnya dan dapat diamati oleh mereka yang memiliki firasat imaniyah yang paling lemah sekalipun.

Manakala kegelapan yang samar-samar hanya dapat diamati oleh mereka yang memiliki firasat imaniyah yang kuat.

KETUJUH : BERMALAS-MALAS DALAM MELAKUKAN KEBAIKAN DAN IBADAH

Perkara tersebut terlihat jelas dengan kurangnya perhatian dan semangat.

Solat yang dilakukan hanya sekadar :

  1. Gerakan.
  2. Bacaan.
  3. Berdiri.
  4. Duduk.
yang tidak memiliki sandaran yang kuat sedikitpun. Bahkan nampak dia merasa terganggu oleh solat seakan-akan dia berada dalam penjara di mana dia ingin sekali berlepas diri darinya secepat mungkin.

KELAPAN : LUPA YANG KETERLALUAN KEPADA ALLAH

Sedikitpun dia tidak berzikir dengan lisannya dan tidak juga ingat kepada Allah swt, padahal dia sentiasa menyaksikan ciptaan Allah swt.

Bahkan kadang-kadang dia merasa keberatan untuk sekadar berzikir atau berdoa kepada Allah swt. Jika dia mengangkat tangannya, dengan cepat sekali dia turunkan kembali untuk segera pergi.

BEBERAPA CARA PENYEMBUHAN

Berikut adalah beberapa cara penyembuhan bagi menyinarkan kembali ruhiyahnya yang telah lesu atau bahkan telah mati.

PERTAMA : SENTIASA DALAM ZIKRULLAH

Yang dimaksudkan dengan zikir di sini adalah berzikir dengan lisan disertai dengan :

  1. Persetujuan hati.
  2. Tafakur akan ciptaan Allah.
  3. Mengambil petunjuk melalui makhluk-makhlukNya untuk mengetahui keagungan kekuasaanNya, kecermatan hikmahNya, keluasan rahmatNya serta keterikatan makhluk denganNya.
  4. Merasakan pengawasan Allah dan kekuasaanNya yang mutlak terhadap manusia serta pentingnya memiliki sifat malu kepadaNya.
Semua perkara tersebut tidak mungkin dicapai dengan mudah bagi orang yang lemah ruhiyahnya.

Untuk memperolehinya diperlukan :

  1. Kesabaran.
  2. Tekad yang tinggi.
  3. Tidak mudah gelisah.
  4. Usaha bertahap sedikit demi sedikit.
Setiap kali dia memperolehi sebahagian perkara di atas, maka akan menguatlah ruhiyahnya dan semakin berkurang kelesuannya hingga hilangnya tanda-tanda penyakit ruhiyah tadi.

Seterusnya dia memasuki tahap penyembuhan hingga dia benar-benar sembuh sepenuhnya. Ketika itulah dia akan merasakan nikmatnya nilai-nilai luhur tadi dan dia akan semakin melekat kuat kepadanya.

Orang yang lesu ruhiyahnya bagaikan orang yang menderita sakit yang tidak mempunyai nafsu kepada makanan yang enak.

Namun, dengan berlalunya waktu dan mencuba memasukkan makanan sedikit demi sedikit, fizikalnya akan kembali kuat dan hilanglah tanda-tanda penyakit itu. Selepas itu, dia akan kembali sihat dan dapat menikmati makanan yang enak dengan penuh kerinduan dan gembira.

KEDUA : MENGHADIRKAN POTRET AKHIRAT DAN SEGALA YANG AKAN BERLAKU KETIKA INI

Di akhirat nanti akan ada orang yang berkeinginan untuk kembali semula ke dunia bagi menghabiskan seluruh umurnya demi keselamatannya jika dibenarkan.

Hendaknya seorang aktivis dakwah merenung bahwa rumah akhirat pertama yang akan didudukinya adalah kubur.

Hendaklah dia :

  1. Membayangkannya dengan tajam.
  2. Memasang potret kubur yang gelap itu diingatannya.
  3. Mengenang tidurnya yang bersendirian di mana tidak ada penghibur kecuali amalnya.
Disebut dalam sebuah kitab bahwa dahulu ada seorang yang soleh menggali sebuah kubur di rumahnya. Setiap kali dia merasa kekerasan di hatinya, dia masuk ke dalam kubur tersebut seraya membaca firman Allah :

"Dia berkata, Ya Rabb kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang soleh terhadap yang telah kutinggalkan." (QS Al Mu'minun : 99-100)

Kemudian orang soleh itu berkata :

"Wahai jiwa, kini engkau telah kembali ke dunia, maka beramallah dengan amalan soleh."

KETIGA : HENDAKLAH SETIAP AKTIVIS DAKWAH INGAT BAHWA KEMATIAN LEBIH DEKAT KEPADANYA DARI TALI KASUTNYA

Janganlah dia tertipu oleh :

  1. Masa muda.
  2. Kekuatannya.
  3. Kesegarannya.
Kematian tidak mengenal masa muda. Kekuatan dan kesihatan tidak mampu mencegah kehadirannya.
Di antara hikmah dan rahmat Allah kepada kita bahwa Dia memperlihatkan kepada kita kematian yang merenggut nyawa seorang bayi, anak kecil, orang muda, orang tua dan juga orang sakit.

Oleh kerananya, setiap orang mesti ingat bahwa dia pasti mengalami kematian bila-bila masa sahaja agar sentiasa bertambah sikap berhati-hati dan bersiap sedia meninggalkan dunia.

Tahukah kita tentang kematian dan sakaratul maut yang menakutkan itu?

Ketika sakaratul maut tiba pada diri seseorang, syaitan menghimpun segala kekuatan, kelicikan dan fikirannya di mana dia berkata kepada dirinya :

"Jika orang ini lepas dari genggamanku, aku tidak akan mampu lagi mempengaruhinya."

Maka :

  1. Dipujuknya orang itu untuk kufur.
  2. Dihadapkan cinta kepadanya akan kemurtadan.
  3. Dihiasinya dunia di matanya sambil mengingatkan orang tersebut akan kenikmatan yang dia inginkan.
Semua ini dilakukan agar orang tersebut berpaling dari akhirat dan harapan bertemu Allah dan akhirnya orang itupun tidak ingin mengalami kematian dan matilah dia dalam kekufuran, Naudzubillah.

Diceritakan tentang seorang 'arif yang dikunjungi oleh para sahabatnya ketika sedang menderita sakit yang membawa kepada kematiannya.

Ketika itu mereka melihat orang 'arif tadi menangis. Maka dihiburkannya oleh mereka dengan mengingatkan bahwa seluruh perbuatannya baik dan rahmat Allah pasti tercurah untuknya.

Orang 'arif tersebut berkata :

"Aku menangisi imanku yang aku khuatirkan dirampas ketika sakaratul maut."

Cukuplah sebagai pelajaran bagi setiap aktivis pendakwah bahwa menghadirkan kematian dan tidak melupakannnya akan membuatnya sentiasa merasa asing hidup di dunia ini.

Dia akan dapat memahami dengan baik makna ungkapan Rasulullah saw :

"Jadilah engkau di dunia, seakan seorang asing atau (bahkan) pengembara. Dan golongkan dirimu dalam kelompok penduduk kubur." (HR Bukhari, Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

Perasaan `terasing' tersebut mampu memberi kesan yang sangat unik di antaranya :

PERTAMA :

Segala ujian serta cobaan yang dialami akan terasa ringan.

KEDUA :

Penderitaan akan terasa ringan, hati menjadi sabar, kebahagiaan yang tercela akan merenyuk dan dunia yang menipu menjadi jauh.

KETIGA :

Pandangan kita akan tertumpu ke tempat tinggal yang sebenarnya berupa rumah akhirat. Dia tidak akan merasa tenteram dengan kehidupan duniawi apalagi condong kepadanya.

Seorang asing menyedari bahwa menetapnya dia di negeri asing hanyalah sementara sedangkan hatinya sentiasa menoleh ke :

  1. Rumah yang tidak akan pernah binasa.
  2. Rumah yang dekat dengan Rabbnya di mana dia dapat melihatNya.
Apabila dia merenungi kenikmatan akhirat, maka dia pun akan terbuai dengan harapan dan cita-cita. Harapan yang benar tentunya mesti diiringi oleh usaha yang bersungguh-sungguh agar dapat sampai kepada yang dicita-citakan.

KEEMPAT :

Memelihara dengan serius segala wasilah penyucian diri dan menyokongnya dengan kekuatan dan semangat.

Sesungguhnya :

  1. Ruhiyah boleh menjadi kotor dan memerlukan penyucian.
  2. Ruhiyah akan mengalami kelesuan maka mesti sentiasa diberi semangat.
  3. Ruhiyah juga mengalami sakit yang memerlukan pengubatan.
  4. Ruhiyah juga mengalami kelemahan yang perlu diberi kekuatan.
Semuanya itu boleh dilakukan melalui ibadah yang terus menerus dan ibadah yang paling utama adalah solat.

Maka bukanlah suatu yang berlebihan apabila Rasulullah saw mewasiatkan pentingnya solat kepada umatnya ketika baginda akan menutup hayatnya.

Solat merupakan suatu ibadah yang menyenangkan dan dapat menyucikan ruh dari segala kotoran dan menghubungkan seorang hamba kepada Rabbnya.

Selain itu ada wasilah-wasilah lain seperti membaca Al Qur'an sebelum subuh atau sesudahnya, membaca wirid ma'tsuraat, berziarah ke kubur sekali dalam seminggu dan lain-lain.

Mari kita pegang erat-erat peringatan-peringatan di atas kerana ia adalah sebahagian dari manhaj Islam dan jangan kita anggap ianya hanya sekadar tulisan untuk mengisi masa kosong, menyenangkan pemikiran atau menyegarkan jiwa sesaat sahaja dan setelah itu tidak ada gunanya lagi.

Ya Allah, kurniakanlah kekuatan ruhiyah dalam diri kami supaya kami dapat menghadapi segala ujian dan cobaanMu di dunia dengan penuh kesabaran dan mengharapkan kemenangan dariMu. Berilah kekuatan tekad kepada kami sehingga kami mampu memikul perjuangan dakwah ini, melaksanakannnya, bersikap jujur kepadaMu serta membuktikan apa yang dijanjikan oleh kami.

Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS

http://tinta-perjalananku.blogspot.com/  

Alamat Perhubungan

Pertubuhan IKRAM Malaysia (IKRAM) Daerah Kuala Langat
No. A-2-08, Blok A, Tingkat 2,
Jalan Bunga Pekan 9,
Pusat Perniagaan Banting Uptown,
42700 Banting, Selangor.

GPS: 2.811313,101.503486


Back to Top