Terkini...




0

Taat Menjamin Kesatuan


Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,
 
Setiap saat dan walau di manapun berada, aktivis dakwah tidak boleh melupakan misinya.
 
Misi dakwah kita tidak lain melainkan adalah untuk mewujudkan kehendak-kehendak Allah swt di muka bumi ini.
 
Misi ini sungguh berat di mana yang ingin kita bentuk adalah :
 
  1. Peribadi muslim.
  2. Keluarga muslim.
  3. Masyarakat muslim.
  4. Pemerintahan muslim.
  5. Negara Islam.
 
Dengan kata lain, cita-cita dakwah kita adalah untuk membangun peradaban sesuai dengan ketentuan Allah swt dan tentu sahaja dengan berpedomankan kepada Al-Qur'an dan Sunnah RasulNya saw.
 
Misi yang sedemikian berat dan memakan waktu yang sangat panjang ini tidak mungkin mampu diselesaikan oleh seorang individu.
 
Umat yang terpanggil perlu menyatukan usaha, bekerjasama dan beramal jamai'e. Inilah juga yang kita fahami dari ayat Al Qur'an tentang kewajiban berdakwah :

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS Ali Imran : 104)
 
Jangankan seorang diri, jumlah yang banyak tetapi bercerai berai dan tidak tersusun  dengan rapi juga tidak akan sanggup melaksanakan misi besar ini.
 
Sebaliknya, Allah swt mencintai barisan dakwah yang rapi dan mantap sebagaimana firmanNya :
 
"Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalanNya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kukuh." (QS Ash-Shaf : 4)

Oleh yang demikian, untuk melaksanakan misi ini, diperlukan harakah Islam yang rapi dan mantap manakala harakah seperti itu tidak mungkin wujud tanpa adanya ketaatan anggota (jundi) kepada organisasi dan kepimpinannya (qiyadah).
 
DEFINASI TAAT
 
Dalam konteks berharakah, taat bererti :
 
  1. Mematuhi keputusan organisasi / kepimpinan.
  2. Melaksanakannya.
  3. Tidak menentang atau mengkhianatinya.
 
Lebih tegas lagi, Imam Hasan Al-Banna mengatakan tentang ketaatan yang sempurna ketika menjelaskan rukun bai'ah yang keenam :
 
"Yang aku maksudkan dengan taat (kepatuhan) adalah menjalankan perintah dan merealisasikannya dengan serta merta, samada dalam keadaan sukar ataupun mudah, ketika bersemangat ataupun malas." (RisalahTa'alim)
 
Inilah hakikat taat di mana ia adalah suatu arahan atau taklimat yang perlu dilaksanakan dengan serta merta walau bagaimanapun keadaannya :
 
  1. Sukar ataupun mudah.
  2. Bersemangat ataupun malas.
 
KEPENTINGAN TAAT
 
Kita tentu sudah membaca sejarah Perang Badar dan Perang Uhud.
 
Apakah yang membezakan kedua-duanya?
 
Dalam Perang Badar, kaum muslimin memperolehi kemenangan yang gemilang sedangkan pada Perang Uhud kaum muslimin mengalami kekalahan.
 
Lalu apakah penyebab kekalahan kaum muslimin pada Perang Uhud?
 
Ketidaktaatan!.......Ya, ketidaktaatan!
 
Rasulullah saw sudah memberikan arahan secara tegas kepada pasukan pemanah agar menempati posisi mereka di atas bukit. Merekalah yang akan melindungi pasukan Islam dengan lemparan-lemparan panah dari atas bukit.
 
Mereka menjadi benteng pertahanan yang sangat kuat yang melindungi para mujahidin di medan peperangan dari serangan mendadak pasukan Quraisy.
 
Namun, ketika mereka melihat seakan-akan kaum muslimin menang dan mendapat 'ghanimah', mereka turun dan mengabaikan arahan Rasulullah saw.
 
Ketika itulah, secepat kilat pasukan berkuda Quraisy di bawah pimpinan Khalid bin al Walid menyerang dari belakang setelah sebelumnya berputar mengelilingi bukit Uhud itu.
 
Keadaan menjadi terbalik dan kaum muslimin menderita kekalahan. Ramai syuhada' berguguran pada waktu itu dan di antaranya ada Singa Allah, Hamzah bin Abdul Muthalib dan pendakwah  pembuka Madinah, Mush'ab bin Umair.
 
Ini berbeza dengan keadaan pada Perang Badar  di mana pasukan Islam dalam ketaatan penuh kepada semua arahan Rasulullah saw.
 
Bahkan, meskipun pada awalnya mereka keluar untuk menghalang kafilah dagang, mereka menunjukkan ketaatan mereka untuk berhadapan dengan kelompok tentera Quraisy.
 
Muhajirin dan Anshar melalui para pemimpinnya sejak sebelum perang telah menyatakan kesediaan mereka untuk berjihad dan semua strategi perang yang telah disepakati mahupun arahan yang diberikan oleh Rasulullah saw ditaati.
 
Dari peristiwa Perang Badar dan Perang Uhud, kita boleh membuat kesimpulan tentang kepentingan ketaatan dalam berharakah di antaranya :
 
  1. Terjaganya kemantapan gerakan hasil dari utuhnya kekuatan harakah dalam melakukan pengembangan dakwah mahupun dalam menghadapi tentangan musuh secara bersama.
 
  1. Ketaatan merupakan perintah dari Allah swt. Menepatinya akan mendatangkan ridha Allah  dan meninggalkannya akan menjauhkan diri dan harakah dari rahmatNya.
 
  1. Dengan adanya ketaatan para aktivis dakwah terhadap organisasi dan kepimpinan mereka maka terbangunlah imuniti yang kuat dalam tubuh organisasi sehingga tidak mudah untuk dipecahbelahkan oleh musuh-musuh Islam mahupun dicerobohi oleh perisik musuh.
 
  1. Ketaatan akan memperkukuhkan 'ukhuwah' sehingga mendatangkan ketenteraman (sakinah) dalam aktiviti harakah.
 
  1. Ketaatan mampu mendatangkan kecintaan Allah swt sebagaimana ayat 4 dalam surah As-Shaff di atas.
 
DALIL HUKUM TAAT KEPADA PEMIMPIN / QIYADAH
 
PERTAMA :
 
Firman Allah swt dalam Al Qur'an :
 
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu..".(QS An-Nisaa' : 59)
 
Semua mufassirin sepakat bahwa khalifah (amirul mukimin) adalah 'ulil amri' yang mesti ditaati dalam ayat di atas.
 
Sebagian mufassirin menjelaskan bahwa selain khalifah, orang yang menguruskan urusan kaum mukimin (seperti gabernur dan lain-lain) juga termasuk 'ulil amri' yang dimaksudkan dalam ayat di atas dan begitu pula para ulama'.
 
Sejak tahun 1924, umat Islam tidak lagi memiliki 'khalifah' bersamaan dengan hilangnya kekhalifahan Islam. Para ulama' kemudiannya berbeza pendapat apakah pemerintah-pemerintah umat Islam sekarang termasuk 'ulil amri' atau bukan.
 
Namun, bagi jamaah atau harakah Islam yang berjuang menegakkan Islam, para pemimpinnya adalah termasuk 'ulil amri' dan dengan yang demikian, sikap yang diperintahkan kepada pemimpin harakah (qiyadah) adalah taat.
 
KEDUA :
 
Firman Allah swt dalam Al Qur'an :
 
"Dan ingatlah kurniaan Allah kepadamu dan perjanjianNya yang telah diikatNya dengan kamu, ketika kamu mengatakan : "Kami dengar dan kami taati". Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati (mu)." (QS Al-Maidah : 7)
 
Manakala dalam sebuah hadith, Rasulullah saw bersabda :
 
"Kami dahulu tatkala membai'ah Rasulullah saw untuk mendengar dan taat, baginda saw bersabda, 'sesuai dengan kesanggupan kamu'." (HR Bukhari dan Muslim)
Secara khusus, ayat Al Qur'an dan hadith di atas memang berbicara tentang orang-orang yang berbai'ah kepada Rasulullah saw. Namun, inilah ciri-ciri orang-orang yang beriman.
 
Ketika mereka sudah terhimpun dalam satu organisasi, lebih-lebih lagi ketika telah berjanji setia untuk taat dalam kehidupan berorganisasi, tidak ada jawaban lain dari setiap keputusan dan perintah kepimpinan kecuali "sami'na waatha'na" (kami dengar dan kami taat).
 
LANDASAN TAAT
Ustaz Said Hawwa dalam menjelaskan tentang Rukun Taat menyebutkan bahwa ketaatan yang sempurna tidak akan wujud tanpa :
  1. Ilmu.
  2. Tsiqah (kepercayaan)
ILMU LANDASAN TAAT YANG PERTAMA
Ilmu adalah asas yang di atasnyalah dibangun suatu ketaatan. Ini adalah kerana sesuatu yang dibangun di atas kejahilan maka 'mafsadah' (kerusakan) yang ditimbulkan akan jauh lebih besar daripada manfaatnya.
Islam adalah agama ilmu yang menjadikannya sebagai jalan menuju keimanan dan amal. Dengan ilmu ini pulalah Nabi Adam as dijadikan khalifah di muka bumi ini.
Islam melarang setiap umatnya untuk bersifat 'taqlid' atau mengikuti sesuatu bukan di atas dasar ilmu, sebagaimana firmanNya :
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya." (QS Al Isra' : 36)
Sayyid Qutb dalam menafsirkan ayat ini mengatakan :
"Kalimat singkat ini menegakkan manhaj yang utuh bagi hati dan akal di mana ia mencakupi metod ilmiah yang dikenali oleh manusia dan ditambah pula didalamnya terdapat keteguhan hati dan perasaan diawasi oleh Allah swt.
Karakteristik Islam tegak di atas manhaj-manhaj ilmu yang dalam, memperjelas segala kebaikan, segala yang lahiriyah dan segala gerakan sebelum menghukum atasnya adalah seruan Al Qur'an Al Karim. Dan setiap kali hati dan akal itu tegak di atas manhaj ini maka tidak ada ruang untuk keraguan dan khurafat dalam alam aqidah, tidak ada ruang bagi prasangka dan syubhat dalam alam hukum, perundangan dan pergaulan, tidak ada ruang bagi hukum-hukum dangkal dan khayalan dalam alam kajian, penelitian dan pengetahuan."
Beliau selanjutnya berkata :
"Sesungguhnya itu adalah amanah anggota tubuh, panca indera, akal dan hati. Amanah yang akan ditanyakan kepada pemiliknya, ia akan ditanya tentang anggota tubuh, panca indera, akal dan hatinya secara keseluruhan." (Tafsir Fii Zhilalil Qur'an)
Ketaatan kepada pemimpin mestilah disesuaikan dengan kapasiti ilmunya di mana, semakin tinggi kapasiti ilmunya maka semakin ia memberikan ketaatan secara penuh kepada pemimpin tetapi pada saat yang sama ia juga yang paling bertanggungjawab untuk melakukan pemberitahuan dan perbaikan terhadap kekeliruan pemimpin berbanding orang yang masih rendah keilmuannya.
Hujah di atas juga terpakai kepada para makmum dalam solat berjamaah yang berada  di belakang imam atau di saf pertama maka ia lebih bertanggungjawab untuk memberitahu kesalahan imam berbanding para makmun yang ada di barisan kedua, ketiga dan seterusnya.
'TSIQAH' LANDASAN TAAT YANG KEDUA
Imam Hasan Al Banna mendefinasikan 'tsiqah' dengan kepuasan (ithmi'nan) seorang pengikut kepada pemimpinnya dalam hal kapasiti dan keikhlasannya dengan kepuasan yang mendalam yang dapat melahirkan kecintaan, penghargaan, penghormatan dan ketaatan.
Firman Allah swt :
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS An Nisaa : 65)
Pemimpin adalah bahagian dari dakwah dan tidak ada dakwah tanpa kepimpinan. Kadar kepercayaan yang muncul secara timbal-balik antara pemimpin dan pengikut adalah penentu :
  1. Kekuatan sistem organisasi.
  2. Ketahanan perancangannya.
  3. Kejayaan dalam mencapai tujuannya.
  4. Dalam menghalau berbagai halangan dan kesulitan.
Firmam Allah swt :
"Maka lebih utama bagi mereka, ketaatan dan perkataan yang baik."
Tsiqah bukan hanya kewajiban yang mesti diberikan oleh para pengikut sahaja tetapi mestilah juga ditunjukkan oleh pemimpin seperti bagaimana seseorang pemimpin itu menunjukkan kepada para pengikutnya bahwa ia telah menunaikan berbagai peranan dan kewajibannya terhadap mereka melalui empat fungsinya iaitu sebagai :
  1. Ayah.
  2. Guru.
  3. Syeikh.
  4. Pemimpin Umum.
Ketika keempat-empat sifat di atas tidak terdapat di dalam diri pemimpin maka akan mengakibatkan berkurangnya kadar ketsiqahan para pengikut dan semakin rapuhnya kekuatan sistem organisasi.
Pemimpin juga dituntut agar menunjukkan bahwa dirinya memang berhak untuk mendapatkan ketsiqahan dari para pengikutnya di dalam perilaku kehidupannya sehari-hari.
Perlunya pembuktian ini bukanlah bererti bahwa para pengikut sudah tidak mempercayai pemimpinnya yang berada di atas kebenaran tetapi dalam rangka memunculkan ketenangan dan kepuasan (ithmi'nan) dalam diri mereka yang menjadi dasar dari ketsiqahan tersebut sebagaimana firman Allah swt :
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim (merayu dengan) berkata: "Wahai Tuhanku! Perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang mati?" Allah berfirman: "Adakah engkau belum percaya (kepada kekuasaanku)?" Ibrahim menjawab: "Bahkan (aku percaya dan yakin), akan tetapi (aku memohon yang demikian ialah) supaya tenteram hatiku (yang amat ingin menyaksikannya)" (QS Al Baqarah : 260)
BATASAN TAAT
 
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS An-Nisaa' : 59)
 
Para ulama' banyak mengambil dari teks ayat ini untuk menjelaskan ciri-ciri ketaatan kepada Allah, Rasul dan 'ulil amri'.
 
Taat kepada Allah dan RasulNya merupakan ketaatan mutlak yang tidak boleh ditawar. Oleh yang demikian, pada perkataan sebelum Allah dan Ar-Rasul terus didahului dengan perkataan "Athii'uu" sementara ketaatan kepada 'ulil amri' hanya didahului dengan "wa" di mana  "Athii'uu" nya mengikuti perkataan sebelumnya.
 
Ini bererti bahwa ketaatan kepada pemimpin (qiyadah) merupakan ketaatan yang selari dengan ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Jika apa yang diperintahkan oleh 'ulil amri' selari dengan perintah Allah dan RasulNya, maka kita wajib mentaati 'qiyadah' tetapi jika perintah itu bertentangan dengan perintah Allah dan RasulNya, maka tidak wajib ditaati.

"Tiada ketaatan untuk bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam hal ma'ruf." (HR Muslim)
Ketaatan hanya dalam perkara yang ma'ruf.
Inilah yang membuatkan Umar bin al Khattab membenarkan sikap pasukannya ketika menolak terjun dalam api yang diperintahkan oleh komandannya.
Begitu pula yang perlu dilakukan ketika mentaati setiap keputusan organisasi dan kepimpinan berkenaan dengan strategi dan rancangan yang tidak menyalahi Al-Qur'an dan As Sunnah dan dalam hasil 'syura' yang telah disimpulkan sebagai kema'rufan.
TAAT DALAM DAKWAH
Dakwah yang memiliki projek besar peradaban tentulah sangat mengharapkan ketaatan dari setiap aktivis-aktivisnya.
Mustahil tanpa ketaatan, dakwah mampu mencapai tujuannya bahkan yang berlaku justeru adalah sebaliknya iaitu munculnya kepentingan-kepentingan yang saling bersifat merosakkan bagi dakwah.
Betapa banyak gerakan dakwah yang dulunya dikira akan menjadi besar tiba-tiba kemudiannya pecah dan menjadi berkeping-keping.
Di antara sebab utamanya adalah ketidaktaatan para pengikut kepada kepimpinannya.
Sebabnya boleh difahami dari dua sudut iaitu :
  1. Pengikut sudah tidak mahu taat dan tidak mahu diatur.
  2. Kepimpinannya juga dianggap tidak perlu ditaati.
Semoga kita megambil 'ibrah' (pelajaran) dari fenomena di atas.
FENOMENA TAAT KEPADA PEMIMPIN
Kalau kita klasifikasikan keputusan organisasi dan arahan kepimpinan, maka secara umumnya boleh digolongkan menjadi dua :
PERTAMA : BERKENAAN DENGAN HAL-HAL YANG BERKAIT DENGAN HUKUM SYARA'
Misalnya tentang pemahaman aqidah, taklimat mengenai peningkatan kualiti ibadah dan  sebagainya.
Pada aspek ini, kita lebih mudah menilai apakah sesuai dengan Al-Qur'an dan As Sunnah atau tidak.
KEDUA : KEPUTUSAN , PERANCANGAN DAN PERINTAH YANG BERKAIT DENGAN STRATEGI
Isunya di sini bukan pilihan antara halal dan haram tetapi antara :
  1. Maslahat dengan maslahat yang lebih besar.
  2. Mudarat dengan mudarat yang lebih kecil.
Di sinilah ketaatan aktivis dakwah banyak diuji dan di sinilah sebahagian dari aktivis dakwah  gagal dalam menghadapi ujian ini. Termasuk juga dalam wilayah ini adalah bagaimana pendekatan dakwah kepada segmen tertentu di dalam masyarakat.
Ya Allah, jadikanlah kami para aktivis dakwah yang taat kepadaMu, taat kepada RasulMu dan taat kepada kepimpinan kami dalam semua perkara yang tidak bermaksiat kepadaMu. Anugerahkanlah kebijaksanaan kepada para pimpinan kami serta bimbinglah mereka agar sentiasa berada di atas jalanMu dan tuntunlah mereka dalam setiap keadaan terutama ketika mengambil keputusan bagi kepentingan dakwah dijalanMu.
Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS
http://tinta-perjalananku.blogspot.com/
0

Meningkatkan Kualiti Amal


Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,
Kekayaan seorang hamba adalah sebanding dengan ketaatannya kepada Allah dan kesungguhannya dalam menyambut seruanNya.
Keikhlasan dalam beramal merupakan asas kepada agama. Suatu perbuatan tidak akan sempurna dan membuahkan hasil yang diberkati kecuali setelah diasaskan dengan niat dan tujuan yang baik.
Dalam beberapa ayat, Allah swt telah memerintahkan manusia untuk sentiasa ikhlas.
Allah swt berfirman :
"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya." (QS Az-Zumar : 2)
 Demikian juga firmanNya :
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama." (QS Az-Zumar : 11)
Jadi, kebaikan suatu amal dinilai kerana niat yang baik, sedangkan ketulusan niat disebabkan oleh hati yang baik.
Syarat utama diterimanya suatu amalan di sisi Allah adalah :
  1. Ikhlas.
  2. 'Ittiba' (mengikuti sunnah Rasulullah saw).
Ibnu Mas'ud ra berkata :
"Suatu perkataan dan perbuatan tidak akan bermanfaat kecuali disertai niat (yang ikhlas); sedangkan perkataan, perbuatan, dan niat tersebut tidak akan bermanfaat kecuali kalau ia sesuai dengan sunnah Rasulullah saw."
Abu Umamah Al-Bahily ra berkata :
"Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah lalu mengatakan, 'Ya Rasulullah, bagaimana menurutmu jika ada seseorang yang berperang kerana mencari pahala sekaligus nama yang harum, pahala apakah yang akan didapatkannya?'
Baginda menjawab, 'Ia tidak mendapatkan apa-apa.'
Maka orang itu mengulang lagi pertanyaannya sampai tiga kali, sedangkan Rasulullah tetap menjawab, 'Ia tidak mendapatkan apa-apa.'
Kemudian baginda bersabda, 'Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali jika ia diamalkan ikhlas keranaNya dan demi mencari keridhaanNya.'" (HR Abu Daud dan An-Nasa'ie)
Rasulullah saw juga bersabda :
"Allah swt berfirman, 'Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan sekutu, maka barangsiapa beramal dengan menyekutukanKu dengan selainKu, niscaya akan Ku tinggalkan dia bersama sekutunya." (HR Muslim)
Suatu amalan (betapa banyak sekalipun), jika tidak dilandaskan dengan akidah yang benar hanyalah akan menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka.
Allah swt berfirman :
"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." (QS Al-Furqan : 23)
KRITERIA IKHLAS
Kriteria ikhlas ialah apabila niat kita dalam beramal hanya kerana Allah semata-mata dan BUKAN kerana :
  1. Ingin dilihat oleh orang lain.
  2. Ingin supaya didengar oleh orang lain.
Jadi, kita beramal bukan kerana menunggu-nunggu pujian orang atau khuatir akan celaan mereka.
Fudhail bin 'Iyadh berkata :
"Beramal kerana manusia adalah syirik, sedangkan meninggalkan amal kerana manusia adalah riya'. Adapun ikhlas itu ialah bila Allah memelihara kamu dari keduanya."
Allah swt berfirman :
"Katakanlah, 'Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam." (QS Al-An'am : 162)
KESAN DARI SEBUAH KEIKHLASAN
Jika keikhlasan telah menjadi warna tunggal dari amalan seseorang, terangkatlah kedudukan orang tersebut ke tingkatan yang tinggi.
Abu Bakar bin 'Ayyasy berkata :
"Abu Bakar Ash-Shiddiq tidaklah mengungguli kita kerana banyaknya solat dan puasa, akan tetapi kerana keimanan yang tertanam dalam hatinya, dan keikhlasannya kepada Allah swt."
Amalan yang sedikit apabila berdasarkan keikhlasan, maka pahalanya akan berlipat kali ganda.
"Barangsiapa bersedekah meskipun hanya sebiji kurma dari hasil penat lelah yang halal, niscaya Allah akan menerima dengan tangan kananNya, kemudian Dia membesarkan (pahala) sedekah tersebut bagi pelakunya, seperti seseorang di antara kamu membesarkan anak kudanya hingga sedekah tersebut menjadi seperti sebuah gunung yang besar." (Muttafaq 'alaih).
Kelak, di akhirat, Allah swt pun akan menaunginya di bawah naungan 'ArsyNya.
Nabi saw bersabda :
"Ada tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka di bawah naungan 'ArsyNya…," lalu baginda saw menyebutkan di antaranya, "…dan seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah, lalu ia berusaha menutupinya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya." (Muttafaq 'alaih).
KEBERKATAN AMAL YANG IKHLAS WALAUPUN SEDIKIT
Apabila seorang hamba mengikhlaskan niatnya lalu beramal soleh meskipun sedikit, niscaya Allah akan menerima dan melipatgandakan pahalanya.
Nabi saw bersabda :
"Sungguh aku melihat seseorang yang berguling-guling dalam syurga (begitu nikmatnya) kerana ia menyingkirkan sebatang pohon yang berada di jalan yang sentiasa mengganggu kaum muslimin yang melaluinya." (HR Muslim)
Mari kita lihat kisah seorang pelacur dari Bani Israel tatkala ia melakukan suatu amalan yang remeh dalam pandangan manusia iaitu memberi minum seekor anjing, kemudian Allah swt mengampuni dosanya kerana itu, padahal ia seorang pelacur.
Rasululullah saw bersabda :
"Suatu ketika ada seekor anjing yang berpusing-pusing di sekitar telaga, hampir sahaja ia mati kehausan. Tatkala pelacur dari Bani Israel melihatnya…maka wanita itu serta merta menanggalkan sepatunya lalu mengambil air dari telaga dengannya, dan memberi minum anjing tersebut, dan Allah pun mengampuninya kerana itu." (Muttafaq 'alaih)
MENJADI SEORANG YANG IKHLAS
Di antara perkara-perkara yang boleh menimbulkan keikhlasan ialah:
PERTAMA : DOA
Hidayah seluruhnya ada ditangan Allah swt dan hati manusia berada di dalam genggaman Allah Yang Maha Pengasih. Ia membolak-balikkannya sesuai dengan kehendakNya.
Oleh kerana itu, kembalilah kepada Zat yang seluruh hidayah berada di tanganNya dan mintalah selalu dariNya akan keikhlasan.
Umar bin Al Khatthab ra sentiasa berdoa :
"Ya Allah, jadikanlah amalku soleh semuanya, dan jadikanlah ia ikhlas keranaMu, dan janganlah Engkau jadikan untuk seseorang dari amal itu sedikit pun."
KEDUA : MENYEMBUNYIKAN AMAL
Semakin tersembunyi suatu amalan, maka semakin besar pula peluangnya untuk diterima dan semakin kuat pula untuk dilakukan dengan ikhlas.
Orang yang benar-benar ikhlas suka untuk menyembunyikan amalnya sebagaimana ia suka untuk menutupi keburukannya.
Rasulullah saw bersabda :
"Ada tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka di bawah naungan 'ArsyNya di hari tiada naungan selain naunganNya.
  1. Pemimpin yang adil.
  2. Seorang pemuda yang dibesarkan dalam suasana beribadah kepada Allah swt.
  3. Seorang laki-laki yang hatinya sentiasa terikat dengan masjid.
  4. Dua orang yang saling mencintai kerana Allah; keduanya bertemu dan berpisah keranaNya.
  5. Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita yang cantik dan mempunyai kedudukan lalu (menolaknya dan) mengatakan, "Aku takut kepada Allah".
  6. Seseorang yang bersedekah dengan sesuatu lalu ia berusaha menutupinya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.
  7. Seseorang yang mengingati Allah swt dalam keadaan sunyi lalu menitislah air matanya.
 (Muttafaq 'alaih)
KETIGA : MEMPERHATIKAN ORANG-ORANG YANG AMALANNYA LEBIH BAIK
Dalam beramal soleh, berusahalah untuk sentiasa meneladani para Nabi dan orang-orang yang soleh.
Allah swt berfirman :
"Mereka itulah orang-orang yang telah diberikan petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah, 'Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur'an).' Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk semua umat." (QS Al-An'am : 90)
Dengan membaca biografi orang-orang soleh dari kalangan ulama', ahli ibadah, orang-orang yang mempunyai kedudukan mulia, dan orang-orang zuhud, maka hal itu akan berkesan untuk menambah keimanan di dalam hati.
KEEMPAT : MENUMBUHKAN SIKAP KHUATIR JIKA AMAL-AMALNYA TIDAK DITERIMA
Anggap remehlah semua amal yang telah kita lakukan, kemudian berusahalah untuk sentiasa merasa khuatir jika amal-amal yang telah kita kerjakan tidak diterima.
Para salaf sering mengucapkan dalam doa mereka :
"Ya Allah, kami memohon agar Engkau mengurniakan kami amal soleh dan menjaganya."
Di antara bentuk penjagaan tersebut ialah :
  1. Hilangnya sikap kagum dan bangga terhadap amalan peribadi.
  2. Hadirkan rasa khuatir kalau-kalau amalnya tidak diterima oleh Allah swt.
KELIMA : TIDAK TERPENGARUH DENGAN UCAPAN MANUSIA
Orang yang mendapat taufik ialah orang yang tidak terpengaruh dengan pujian manusia.
Jika orang-orang memujinya ketika melakukan suatu kebaikan, maka hal tersebut justeru menjadikannya lebih tawadhu' dan takut kepada Allah swt.
Ia yakin bahwa pujian manusia hanyalah ujian belaka baginya.
Tidak ada pujian yang bermanfaat dan celaannya yang berbahaya selain yang datang dari Allah swt semata-mata.
Ya Allah, kurniakanlah keikhlasan ke dalam hati kami di dalam setiap amal yang kami lakukan. Jauhkanlah hati kami dari mengharapkan pujian dan sanjungan dari manusia kerana Engkau hanya menerima amal-amal yang tidak bercampur walau sedikitpun unsur-unsur syirik kepadaMu. Sesungguhnya kami tidak mahu amal-amal kami menjadi debu-debu yang berterbangan di akhirat nanti meskipun jumlah amal yang banyak yang kami lakukan di dunia. Terimalah amal kami yang paling ikhlas yang kami lakukan.
Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS
http://tinta-perjalananku.blogspot.com/
0

Membentuk Komitmen Sejati

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,
Dakwah yang berjaya selalunya bergantung kepada ketulusan komitmen pendukung-pendukungnya terhadap organisasi sehingga mereka tetap teguh dan tidak berganjak dari menepati janji mereka dengan Allah swt.
"Dan antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah ; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-menunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya." (QS Al-Ahzab : 23)
KOMITMEN TERHADAP ORGANISASI
 
Dalam kaitannya dalam komitmen terhadap organisasi, ada tiga faktor yang berbeza dalam  mendefinasikan sesebuah komitmen. Ketiga-tiga faktor tersebut adalah :
 
PERTAMA : KOMITMEN SEBAGAI KETERIKATAN PERASAAN KASIH SAYANG  TERHADAP ORGANISASI
 
Ia adalah tingkatan keterikatan secara psikologi dengan organisasi berdasarkan seberapa baik perasaannya mengenai organisasi. Komitmen jenis ini muncul dan berkembang oleh dorongan adanya suasana kondusif, keamanan dan manfaat lain yang dirasakan dalam suatu organisasi yang tidak diperolehinya dari tempat atau organisasi yang lain.
 
Semakin kondusif dan tinggi manfaatnya yang dirasakan oleh seseorang aktivis dakwah, semakin tinggi pula komitmennya pada organisasi tersebut.
 
KEDUA : KOMITMEN SEBAGAI HARGA YANG PERLU DITANGGUNG JIKA MENINGGALKAN ATAU KELUAR DARI ORGANISASI
 
Boleh didefinasikan sebagai keterikatan anggota secara psikologi pada organisasi kerana harga yang dia tanggung sebagai akibat jika keluar dari organisasi.
 
Dalam kaitannya dengan ini seseorang aktivis dakwah akan membuat perkiraan terhadap manfaat dan pengorbanan atas keterlibatannya dalam organisasi atau menjadi anggota suatu organisasi.
Ia akan cenderung untuk memiliki daya tahan atau komitmen yang tinggi dalam keanggotaannya jika pengorbanan akibat keluar dari organisasi semakin tinggi.
 
KETIGA : KOMITMEN SEBAGAI KEWAJIBAN UNTUK TETAP BERADA DALAM ORGANISASI
 
Ia adalah keterikatan seseorang aktivis dakwah secara psikologi dengan organisasi kerana kewajiban moral untuk memelihara hubungan dengan organisasi.
 
Dalam kaitan ini, ia adalah sesuatu yang mendorongnya untuk tetap berada dan memberikan sumbangan pada keberadaannya dalam suatu organisasi samada bersifat material ataupun tidak.
 
Begitu juga, ia berlaku kerana wujudnya kewajiban moral di mana seseorang akan merasa tidak selesa dan bersalah jika tidak turut melakukan sesuatu di dalam organisasi.
 
PROSES BERLAKUNYA KOMITMEN TERHADAP ORGANISASI
 
Komitmen seseorang aktivis dakwah terhadap organisasi merupakan sebuah proses berterusan dan ia merupakan sebuah pengalaman individu ketika bergabung dalam sebuah organisasi.
 
Ada sejumlah cara yang boleh dilakukan untuk membangun komitmen aktivis dakwah terhadap organisasi, iaitu :
  1. JADIKAN IA BERKARISMATIK
Jadikan visi dan misi organisasi sebagai sesuatu yang karismatik iaitu sesuatu yang dijadikan tempat berpijak serta dasar bagi setiap aktivis dakwah dalam berperilaku, bersikap dan bertindak.
  1. BANGUNKAN TRADISI
Segala sesuatu yang baik dalam organisasi perlu dijadikan sebagai suatu tradisi yang secara terus menerus dipelihara, dijaga oleh generasi berikutnya.
  1. ADAKAN PERATURAN RUNGUTAN YANG KOMPREHENSIF
Jika ada keluhan atau aduan dari pihak luar ataupun dalaman organisasi maka organisasi mesti memiliki prosedur untuk mengatasi keluhan atau aduan tersebut secara menyeluruh.
  1. SEDIAKAN KOMUNIKASI DUA HALA SECARA MELUAS
Jalinlah komunikasi dua hala dalam organisasi tanpa memandang rendah anggota bawahan.
  1. CIPTAKAN SUASANA KOMUNITI
Jadikan semua unsur dalam organisasi sebagai suatu komuniti di mana di dalamnya ada nilai-nilai kebersamaan, rasa memiliki, kerjasama serta saling membantu.
  1. BINA NILAI KEBERSAMAAN
Membangun nilai-nilai yang diasaskan berdasarkan kebersamaan. Setiap aktivis dakwah dalam organisasi memiliki peluang yang sama, misalnya untuk peningkatan keahlian maka dasar yang digunakan untuk tujuan tersebut adalah berdasarkan kemampuan, keterampilan, minat, motivasi, prestasi tanpa ada diskriminasi.
  1. PERKONGSIAN SAKSAMA
Seeloknya sesebuah organisasi perlu membuat polisi di mana antara aktivis dakwah di peringkat yang lebih rendah hingga yang paling atas tidak terlalu berbeza atau menjolok mata dalam hal penghargaan yang diterima, gaya hidup, penampilan fizikal dan lain-lain.
  1. TUMPUAN TERHADAP KERJA BERPASUKAN
Organisasi sebagai suatu komuniti mesti bekerjasama, saling membantu, saling memberi manfaat dan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap aktivis dakwah di dalam organisasi di mana semua yang ada di dalam organisasi merupakan suatu pasukan kerja di mana setiap dari mereka perlu memberikan sumbangan yang maksimum demi kejayaan organisasi tersebut.
  1. ADAKAN ACARA BERSAMA
Adakan acara-acara yang melibatkan semua aktivis dakwah di dalam organisasi sehingga kebersamaan boleh terjalin, misalnya boleh diadakan acara rekreasi bersama keluarga, pertandingan olahraga, seni dan lain-lain yang dilakukan oleh semua aktivis dakwah di dalam organisasi beserta keluarga mereka.
  1. BANTU PERKEMBANGAN AKTIVIS
Hasil kajian menunjukkan bahwa seseorang aktivis dakwah akan lebih memiliki komitmen terhadap organisasi apabila organisasi tersebut memperhatikan perkembangan aktiviti mereka dalam jangka panjang.
  1. KOMITMEN TERHADAP PENINGKATAN DIRI
Setiap aktivis dakwah diberi kesempatan yang sama untuk meningkatkan diri secara maksimum di dalam organisasi sesuai dengan kapasiti masing-masing.
  1. SEDIAKAN CABARAN AMAL DI TAHAP AWAL
Setiap aktivis dakwah yang bergabung di dalam organisasi biasanya masuk dengan membawa mimpi, harapan dan keperluannya. Berikan bantuan yang kongkrit untuk mereka kembangkan potensi yang dimilikinya di samping berusaha mewujudkan impiannya.
Jika pada tahap-tahap awal, aktivis dakwah memiliki persepsi yang positif terhadap organisasi maka mereka akan cenderung untuk memiliki prestasi amal yang tinggi pada tahap-tahap berikutnya.
  1. LAHIRKAN PEMIMPIN QUDWAH
Apabila organisasi ingin menanamkan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, peraturan-peraturan, disiplin dan lain-lain terhadap aktivis dakwah mereka, sebaiknya pimpinan sendiri mesti memberikan contoh tauladan yang baik dalam bentuk sikap dan perilaku sehari-hari.
  1. LAKSANAKAN KATA-KATA
Tindakan adalah jauh lebih berkesan dari sekadar kata-kata. Apabila organisasi ingin para aktivis mereka berbuat sesuatu maka sebaiknya pimpinan tersebut mesti memulakan  sesuatu perbuatan terlebih dahulu untuk dicontohi dan bukan sekadar kata-kata atau bicara.
KOMITMEN TERHADAP DAKWAH
Jika komitmen seseorang aktivis dakwah terhadap dakwah benar-benar ikhlas, maka :
  1. Tidak ramai aktivis dakwah yang akan berguguran di tengah jalan. Dakwah akan terus bergerak laju dengan sempurna untuk meraih tujuan-tujuannya dan mampu menetapkan prinsip-prinsipnya dengan kukuh.
  2. Niscaya hati sekian ramai manusia akan menjadi bersih, fikiran mereka akan bersatu dan fenomena ingin menang sendiri di saat berbeza pendapat akan jarang berlaku.
  3. Sikap toleransi akan lebih bersemarak, rasa saling mencintai akan merebak, hubungan persaudaraan semakin kuat dan barisan para aktivis dakwah akan menjadi bangunan yang berdiri kukuh dan saling memperkukuhkan.
  4. Dia tidak akan peduli saat ditempatkan di barisan depan atau di barisan belakang. Komitmennya tidak akan berubah ketika ia diangkat menjadi pemimpin yang berkuasa mengeluarkan keputusan dan ditaati atau hanya sebagai 'jundi' (perajurit) yang tidak dikenali atau dihormati.
  5. Hati seorang aktivis dakwah akan tetap lapang untuk memaafkan setiap kesalahan saudara-saudara seperjuangannya sehingga tidak tersisa tempat sekecil apa pun untuk permusuhan dan dendam.
  6. Sikap toleransi dan saling memaafkan akan terus berkembang sehingga tidak ada momentum yang boleh menyalakan kebencian, menaruh dendam dan kemarahan. Namun sebaliknya, slogan yang sentiasa diketengahkan adalah :
"‌Saya sedar bahwa saya sering melakukan kesalahan dan saya yakin anda akan sentiasa memaafkan saya."
  1. Semua orang akan sangat menghargai waktu. Bagi setiap aktivis dakwah, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia kerana dia akan sentiasa menggunakannya untuk beribadah kepada Allah di sudut mihrab atau berjuang melaksanakan dakwah dengan menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran atau menjadi murabbi yang gigih untuk mendidik dan mengajarkan anak serta isterinya di rumah atau menjadi aktivis dakwah yang aktif di masjid untuk menyampaikan nasihat dan membimbing masyarakat.
  2. Setiap aktivis dakwah akan segera menunaikan kewajiban kewangannya untuk dakwah tanpa merasa ragu atau bimbang. Di dalam fikirannya, tidak ada lagi erti keuntungan peribadi dan mengangkat diri sendiri.
  3. Akan muncul fenomena pengorbanan yang nyata. Tidak ada perkataan 'Ya'‌ untuk dorongan nafsu atau segala sesuatu yang seiring dengan nafsu untuk berbuat maksiat. Perkataan yang ada adalah 'Ya' untuk segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah swt.
  4. Setiap orang yang kurang teguh komitmennya akan menangis sementara yang bersungguh-sungguh ingin berbuat lebih banyak dan berharap mendapat balasan serta pahala dari Allah swt.
Ya Allah, kurniakanlah komitmen yang tulus dan sejati di dalam hati kami dalam kami melaksanakan tugas-tugas dalam organisasi kerana semua aktiviti yang dilakukan adalah dalam rangka ubudiyah semata-mata keranaMu.
Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS
http://tinta-perjalananku.blogspot.com/

Alamat Perhubungan

Pertubuhan IKRAM Malaysia (IKRAM) Daerah Kuala Langat
No. A-2-08, Blok A, Tingkat 2,
Jalan Bunga Pekan 9,
Pusat Perniagaan Banting Uptown,
42700 Banting, Selangor.

GPS: 2.811313,101.503486


Back to Top