Terkini...




0

Mukayyam Akhawat IKRAM Kuala Langat 2011

Mukayyam Akhawat Ikram Kuala Langat Slideshow: IKRAM’s trip to Kuala Langat (near Sepang), Selangor, Malaysia was created by TripAdvisor. See another Sepang slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
0

Mari Segera Beramal

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,
Mari kita berbicara tentang dunia dan bertanya tentangnya.
 
Jika kita dituntut untuk menemui jawaban yang hakiki, kita akan dituntun kepada satu jawaban bahwa ia (dunia itu) hanyalah bayangan yang tidak lama lagi akan hilang, bahkan ia hanyalah setitik air jika dibandingkan dengan lautan luas yang tidak bertepi.

Sebanyak manapun yang kita dapat di sini, di dunia ini, maka ia hanyalah bernilai setitik. Oh, tidak! bahkan mungkin kurang dari setitik.
 
Ini adalah kerana setitik itu adalah untuk dunia keseluruhannya, sementara kita tidak memiliki dunia keseluruhannya tetapi hanya sebahagian dari dunia ini yang sanggup kita nikmati.

Aduhai! Betapa malangnya kita jika kita sangka dunia ini telah menjadi segala-galanya. Tidak, wahai saudaraku!
 
Di sini, di tempat yang bernama dunia ini, tidak ada yang segala-galanya. Hanya manusia yang tidak percaya akan keabadian akhirat yang akan menjadikan dunia ini segala-galanya.
 
Ingatlah, dunia yang kita lihat penuh gemerlapannya ini hanyalah :
 
  1. Bayangan.
  2. Setitik air.
  3. Beberapa nafas.
  4. Beberapa tahun.
Dan setelah itu, kita akan memasuki gerbang keabadian. Di sana, (dengan limpahan RahmatNya padamu)  hanya amalan kita yang akan menuntun kita menaiki anak-anak tangga kebahagiaan
menuju syurga yang kenikmatannya :
 
  1. Tidak pernah disaksikan oleh pandangan mata sesiapapun.
  2. Tidak pernah didengarkan oleh telinga sesiapapun jua.
  3. Tidak pernah terdetik dalam fikiran dan hati makhluk manapun.
Namun, di sinilah, di tempat yang bernama dunia inilah kita menyemainya. Dunia ini adalah ladang akhirat kita Di sinilah sumber kebahagiaan dan keberuntungan kita di akhirat.
 
Hanya di sini kita diizinkan olehNya untuk mengumpulkan bekalan yang menguntungkan kita di sana. Di sinilah arena dan gelanggang para 'muttaqin', 'shiddiqin' dan 'syuhada''  berlumba menuju ampunan Rabb mereka.

Jika kita ingin tahu, hakikatnya dunia inilah yang sentiasa menjadi angan-angan para penduduk Syurga dan para penghuni Neraka.
 
Allah swt menceritakan tentang penghuni Neraka :
 
"Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata : "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah engkau –Muhammad- akan melihat suatu peristiwa yang memilukan." (QS Al An'aam : 27)

Dalam ayat lain firman Allah swt :
 
"Dan mereka (para penghuni neraka) itu berteriak di dalam neraka itu : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan amal yang soleh berbeza dengan dahulu telah kami kerjakan." (QS Faathir : 37)

Angan-angan yang sia-sia belaka…
 
Hari-hari dunia adalah hari-hari amal, BUKAN perhitungan dan pembalasan.
 
Hari-hari akhirat adalah hari-hari perhitungan dan pembalasan, BUKAN amal.

Tentang penghuni syurga yang mengangankan dunia, 'Abdullah bin Mas'ud ra meriwayatkan :
 
" Sesungguhnya para syuhada' itu bagaikan burung-burung hijau yang lepas bebas di syurga ke mana sahaja ia mahu. Kemudian ia akan kembali pada pelita-pelita yang bergantungan di 'arsy. Dan ketika mereka berada dalam keadaan seperti itu, muncullah Rabb mereka di hadapan mereka seraya berkata : "Wahai hamba-hambaKu, mintalah kepadaKu apa sahaja yang kamu inginkan !".  Mereka pun berkata : "Wahai Rabb kami ! Kami meminta padaMu agar Engkau mengembalikan ruh kami ke dalam jasad kami, lalu Engkau kembalikan kami ke dunia hingga kami dibunuh sekali lagi di sana (di jalanMu)."  Maka tatkala Allah melihat bahwa mereka tidak meminta selain hal itu, Dia pun meninggalkan mereka." ( HR Muslim)

Allah telah mengetahui bahwa mereka, iaitu para syuhada' akan meminta untuk dikembalikan sekali lagi ke dunia dan bahwa mereka tidak akan dikembalikan ke dunia.
 
Namun Allah swt hendak memberitahukan kepada orang-orang mu'min yang masih hidup di dunia bahwa kelak cita-cita mereka di syurga adalah mati terbunuh di jalanNya. Ini tidak lain agar mereka semakin terdorong untuk meraih kenikmatan itu.

Sungguh jauh perbezaan antara kedua angan-angan itu. Sama-sama berangan untuk kembali ke dunia demi melakukan amal soleh. Namun yang satu kerana merasakan dahsyatnya siksa neraka, sementara yang lain kerana telah merasakan nikmat yang tiada bandingannya.

Seorang salaf bernama Ibrahim At Taimy rahimahullah pernah mengatakan :
 
"Aku membayangkan diriku berada di dalam syurga ;
  1. Memakan buah-buahnya.
  2. Memeluk bidadari-bidadarinya yang perawan.
  3. Menikmati segala kenikmatannya.
 
Lalu aku berkata kepada diriku sendiri :
 
"Wahai diriku ! Apa sesungguhnya yang engkau angan-angankan saat ini ??".

Ia menjawab :
 
"Aku mengangankan untuk dikembalikan ke dunia agar aku dapat menambah amal-amal yang menyebabkan aku mendapatkan semua nikmat ini."

Lalu aku membayangkan diriku di dalam neraka :
 
  1. Dibakar dengan apinya yang menyala-nyala.
  2. Dipaksa untuk meminum air 'hamim' nya yang dipenuhi darah dan nanah.
  3. Dipaksa makan buah zaqqumnya yang menjijikkan.
 
Maka aku berkata pada diriku sendiri :
 
"Apakah yang engkau inginkan saat ini ??"

Ia menjawab :
 
"Aku ingin dikembalikan ke dunia lagi agar aku dapat mengerjakan amalan yang dapat menyelamatkan aku dari siksaan yang mengerikan ini." (Setelah membayangkan itu semua), akupun berkata pada diriku sendiri : "Wahai diriku ! Engkau telah mendapatkan angan-anganmu itu. (Kini engkau masih berada di dunia), maka segeralah beramal !".

Bahkan ada seorang ulama salaf yang pernah menggali lubang kubur untuk dirinya sendiri. Semasa ia mengalami dan merasakan kejemuan dalam beramal, ia pun turun ke dalam lubang itu.
 
Di sana ia menlunjurkan tubuhnya lalu berkata :
 
"Wahai diriku ! Anggaplah sekarang ini engkau telah mati dan telah berada dalam liang lahadmu, apakah yang engkau inginkan ?".

Maka ia pun menjawab :
 
"Aku ingin dikembalikan lagi ke dunia agar aku dapat beramal soleh."

Ia lalu mengatakan kepada dirinya sendiri :
 
"Sekarang engkau telah mendapatkan apa yang engkau inginkan. (Engkau sekarang masih hidup di dunia). Bangunlah dan kerjakanlah amal soleh itu !".

Demikianlah sahabatku, jika engkau mengetahui tentang para penghuni kubur itu, engkau akan tahu apa yang sentiasa mereka angan-angankan :
 
  1. Mereka sentiasa berangan untuk dapat bertasbih  sepertimana yang engkau lakukan saat ini, walaupun hanya sekali sahaja.
  2. Mereka akan irihati melihatmu tegak mengerjakan solat.
Aduhai! Andainya kami dapat mengerjakannya walau hanya satu rakaat sahaja, begitulah kata mereka.
 
Jika dahulu di dunia mereka adalah pemilik kekayaan yang melimpah ruah, maka di sana, di alam kubur itu, mereka berharap dapat bersedekah meskipun hanya seringgit dua ringgit. Yang penting ada tambahan catatan kebajikan di sisi Allah. Ya!, jika engkau berada di tempat itu, seperti itulah angan-anganmu sepanjang waktu. 

Ibn Qudamah rahimahullah meriwayatkan dalam wasiatnya bahwa suatu ketika ada seorang laki-laki yang mengerjakan solat dua rakaat di sebelah sebuah kubur. Selepas itu ia bersandar hingga tertidur.
 
Di dalam tidurnya ia bermimpi seperti melihat penghuni kubur itu berkata kepadanya :
 
"Jauhlah dirimu dariku !! Engkau telah menyakitiku. Demi Allah, sungguh dua rakaat yang engkau kerjakan itu jika sahaja aku yang mengerjakannya, maka ia jauh lebih aku sukai daripada dunia beserta isinya. Sungguh, kamu yang masih hidup ini sentiasa beramal tapi sama sekali tidak mengetahui hakikat kematian ini. Tapi kami, kami telah mengetahuinya namun kami tidak dapat lagi mengerjakan amalan apapun."

INGATLAH, SAUDARAKU…

Sedarlah bahwa :
 
  1. Masa hidup kita sungguh terbatas.
  2. Nafas kita hanya berbilang.
  3. Setiap tarikan dan hembusan nafas tidak lebih dari sebuah petanda bahwa usia kita di dunia telah berkurang.
 
Sungguh sangat singkat usia dunia kita ini. Oleh yang demikian, setiap bahagian waktu bahkan setiap bahagian terkecilnya adalah permata yang tidak ternilai dan tiada bandingannnya.
 
Ingatlah bahwa dengan kehidupan yang singkat ini akan menukarkannya kepada sebuah kehidupan yang abadi :
 
  1. Abadi dalam kenikmatan.
  2. Abadi dalam azab yang pedih.
Jika kita cuba membandingkan kehidupan ini dengan kehidupan akhirat, akan sedarlah kita bahwa setiap nafas itu mempunyai harga yang lebih besar daripada waktu beribu-ribu tahun di akhirat ; entah semua itu dalam kenikmatan yang tidak berbatas atau sebaliknya.

Oleh kerana itu :
 
  1. Jangan persiakan permata umurmu tanpa melakukan suatu amalan.
  2. Jangan engkau biarkan ia pergi tanpa mendapatkan balasan yang setimpal.
 
Bersungguh-sungguhlah agar setiap tarikan nafasmu tidak pernah kosong dari kesolehan dan taqarrub kepadaNya.
 
Namun dalam banyak hal, jika engkau kehilangan sebutir permata duniamu, betapa sedihnya hatimu.
 
Tapi :
 
  1. Bagaimana jika yang hilang adalah permata akhiratmu?
  2. Bagaimana mungkin engkau sanggup menyia-nyiakan dan membuang waktumu begitu sahaja?
  3. Bagaimana mungkin engkau 'tenang-tenang' sahaja, padahal semakin banyak jejak-jejak usiamu di dunia ini yang terhapus?
Bayangkanlah jeritan penyesalan para penghuni kubur dan neraka itu. Air mata darah sekalipun tidak memberi mereka jalan untuk kembali ke dunia.
 
Wahai sahabatku, kini, aku dan kau masih di sini. Ya, masih di dunia fana ini. Tempat kita menyemai tanaman akhirat. Maka marilah kita segera beramal!
 
Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia yang kami diami ini sebagai kecintaan kami kerana sesungguhnya ia hanyalah ujian dariMu dan merupakan sebuah tipuan yang melalaikan. Sangkutkanlah hati kami kepada akhiratMu sehingga kami akan lebih bertenaga untuk melaksanakan amal-amal soleh yang akan menjadi cahaya dan penyelamat kami di alam yang lebih abadi.  
 
Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS
0

Mukayyam Akhawat IKRAM Kuala Langat

 Mukhayam akhawat Kuala Langat pada 2hb dan 3hb April 2011 di The Woods Resort, Ulu Yam telah menampung kami seramai lebih kurang 70 orang (termasuk ikhwah dan anak-anak) dengan  penyertaan peserta terdiri daripada akhawat Kuala Langat  dan Staff  Tadika & Taska Naim. Dengan tema "Ukhuwah Teras Kegemilangan", antara aktivitinya ialah Inilah Kami (ice breaking) , riadhah, permainan ukhuwah, Kembara Ukhuwah (treasure hunt) , Kembara Hati (Qiyam Qualiti dalam hirasah) dan kemahiran survival (kemahiran membakar roti di hutan).



0

Asas Bangunan Dakwah

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,
Membangun kekuatan dakwah yang mutlak memerlukan perajurit yang memiliki visi perjuangan yang jelas kerana kefahaman dan persepsi seseorang sangat memberi pengaruh kepada sikapnya.
Asas kepada sebuah bangunan dakwah yang kukuh ada tiga (3) iaitu :
  1. Kefahaman terhadap visi perjuangan.
  2. Kekuatan niat yang mengiringinya.
  3. Kekuatan amal yang dilaksanakan.
Ketiga-tiga asas di atas akan memberi aliran semangat yang tidak pernah kenal lemah bagi para pendakwah.
KEFAHAMAN TERHADAP VISI PERJUANGAN
Tanpa memiliki fikrah yang jelas, dakwah akan :
  1. Kehilangan 'bashirah'.
  2. Miskin ketajaman langkah.
  3. Mudah terjebak oleh suasana yang menipu.
  4. Dilanda fitnah.
Perjalanan dakwah yang panjang, diikuti oleh karakteristik fasa yang dilaluinya mestilah disedari oleh setiap pendakwah.
Tidak sedikit orang yang gugur di jalan dakwah kerana tidak faham dengan langkah-langkah dan strategi umum dakwah di mana :
  1. Wujud ketidaksabaran dan sikap tergesa-gesa yang mendorong seseorang untuk memetik buahnya sebelum masak.
  2. Ada juga sebaliknya iaitu yang justeru seolah-olah terseret dan tidak mampu mengikuti sifat dinamik dakwah.
  3. Kurangnya kreativiti, inovasi, apalagi kerja kuat dalam kerja dakwah. Kadangkala, ada yang terlampau 'jumud' sehingga sentiasa menunggu untuk diperintah, bagaikan gong yang tidak akan berbunyi jika tidak dipukul.
Selain memahami 'khittah' (perancangan) dakwah, para pendakwah  juga mesti memahami dengan jelas apa sahaja rintangan dan halangan yang akan dihadapi dalam dakwah.
Perjuangan dakwah mempunyai khazanah pengalaman yang berharga di mana selain jalannya yang panjang, ianya juga bukan jalan yang ditabur dengan bunga dan intan berlian bahkan ianya umpama hutan belantara yang penuh dengan duri dan binatang buas. Selain itu, seorang pendakwah juga mestilah memahami petunjuk-petunjuk atau 'manhaj' dakwah.
Apabila kefahaman tentang fikrah dakwah ini telah dimiliki, maka kewajiban lain adalah menjaga agar kefahaman yang baik itu tetap stabil. Ertinya, dalam menghadapi berbagai persoalan, seorang pendakwah tidak akan terjerumus kepada pendapat individu yang bertentangan dengan 'grand design' yang telah ditetapkan oleh perancangan dakwah. 
Namun demikian, kelurusan visi dakwah juga mesti terus diasah melalui interaksi yang lebih mendalam dengan komuniti dakwah. Informasi sekitar langkah dan urusan dakwah seharusnya diterima melalui alur dan sumber yang jelas.
Dalam sesebuah organisasi dakwah, ada saluran informasi yang betul di mana ini adalah salah satu pelajaran dari firman Allah swt :
"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Padahal kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya dapat mengetahui dari mereka."(QS An-Nisaa' : 83)
Sikap ini penting dijaga agar bangunan dakwah tidak hancur berantakan.
Seorang penyair pernah bermadah :
"Jika ada seribu pembangun, seorang penghancur sahaja sudah cukup. Bagaimana dengan seorang pembangun apabila dibelakangnya ada seribu penghancur?"
KEKUATAN NIAT YANG MENGIRINGI
Ikhlas niat adalah sebuah kekuatan yang hebat bagi perjuangan para pendakwah. Ia berjuang hanya mengharapkan apa yang ada disisi Rabbnya bukan selain itu kerana jika tidak, ia pasti akan kecewa dan tidak akan mendapat hasilnya.
Seorang pendakwah mestilah sentiasa sensitif dalam niatnya agar jangan sampai keikhlasan hati dalam berdakwah dikotori oleh :
  1. Kekuasaan.
  2. Harta benda.
  3. Lawan jenis.
Keikhlasan niat mestilah dijaga dari sebelum melakukan sesuatu sehinggalah setelah melakukan perbuatan tersebut di mana seluruh fokus kehidupannya hanyalah untuk Allah swt kerana Allah swt hanya menerima amal sesiapa yang menghajatkan diri kepadaNya semata-mata dan Allah swt tidak memerlukan sekutu apapun dalam setiap perbuatan manusia.
Orang yang faham mestilah sentiasa ikhlas terhadap kefahaman ilmunya sedangkan orang yang ikhlas mestilah faham dalam mengamalkan apa yang difahaminya sehingga akan lahirlah amal yang 'hebat' kerana ditegakkan oleh kefahaman dan ikhlas.
Ketika seseorang mempersembahkan sesuatu hanya khusus bagi orang yang dicintainya, ia tentulah akan mempersembahkan yang terbaik dan paling istimewa untuknya; bukan yang biasa-biasa sahaja, apalagi yang berkualiti buruk.
Demikian pula orang yang ikhlas yang mempersembahkan amalnya hanya untuk Allah, Penciptanya di mana ia hanya akan mempersembahkan amalan terbaik dan paling istimewa untuk-Nya.
Akhirnya, ikhlas sesungguhnya akan membuahkan ihsan, yakni melakukan amalan terbaik sesuai dengan yang apa yang Allah kehendaki.
Jika dikaitkan dengan aktiviti dakwah, dakwah yang ikhlas adalah dakwah :
  1. Yang berkualiti.
  2. Yang terbaik.
  3. Yang optimum.
Seorang pendakwah yang ikhlas akan sentiasa melakukan dakwah yang berkualiti, yang terbaik dan optimum untuk dipersembahkan kepadaNya. Ringkasnya, ia akan memiliki ihsan dalam dakwahnya.
Sebaliknya, pendakwah yang tidak ikhlas atau kurang ikhlas, amal dakwahnya hanya 'biasa-biasa' sahaja, seolah-olah amal dakwahnya bukan kerana Allah.
Seorang ulama' pernah menulis beberapa ciri pendakwah yang tidak atau kurang ikhlas dalam dakwahnya seperti berikut :
  1. Hanya memberikan waktu yang tersisa bagi dakwahnya.
  2. Bermalas-malasan dalam menunaikan amanah dakwahnya.
  3. Sesekali berdakwah, tetapi seringkali meninggalkan dakwah.
  4. Jika ada ruang dan kesempatan, ia akan berusaha untuk melemparkan beban kewajiban dakwah kepada orang lain lalu berlepas diri dari dakwah.
  5. Dilihat tidak bersungguh-sungguh dalam merancang dan melaksanakan amanah dakwah serta tidak berusaha untuk menghasilkan dakwah yang terbaik dan optimum.
  6. Mudah putus asa, bahkan gugur di jalan dakwah ketika dihadapkan dengan berbagai rintangan dakwah.
Dengan merenungkan keenam ciri-ciri di atas, seseorang yang mengaku dirinya sebagai pendakwah tentulah boleh menilai apakah dakwahnya merupakan dakwah yang ikhlas atau tidak.
Dengan itu, ia akan dapat memastikan apakah selama ini amalan dakwahnya diterima oleh Allah swt ataupun tidak. Jika tidak, betapa ruginya kerana Allah dan RasulNya telah menempatkan dakwah pada kedudukan yang sangat terpuji.
Lebih dari itu, dakwah adalah 'fardhu' bagi kaum muslimin. Bahkan dakwah adalah kewajiban yang mesti dilakukan dan tidak boleh diganti dengan sesuatu 'kafarah' apapun jika ditinggalkan.
Adalah wajar jika para Nabi dan para Rasul Allah menjadikan dakwah sebagai teras hidup mereka. Diceritakan bahwa Nabi Nuh as berdakwah tidak kurang dari 950 tahun dan usaha itu ia lakukan siang dan malam.
Demikian juga yang dilakukan oleh Baginda Rasulullah saw selama 23 tahun sejak baginda diangkat sebagai Utusan Allah.
Ini sekaligus menunjukkan betapa ikhlasnya para Nabi dan Rasul Allah dalam melaksanakan aktiviti dakwah mereka. Jika tidak mana mungkin mereka mempertaruhkan usia, tenaga, fikiran, harta bahkan nyawa mereka di jalan dakwah.
KEKUATAN AMAL YANG DILAKSANAKAN
Amal yang benar adalah hasil dari ilmu yang benar dan keikhlasan niat. Hendaknya seorang pendakwah menjaga sikap istiqamah dan keseimbangan dalam beramal.
Amal yang sedikit lebih baik daripada amal yang banyak tapi tidak berterusan dan ia juga mesti seimbang serta sekata dalam perlaksanaan amal-amal Islam serta tidak mengambil sebahagian dan meninggalkan sebahagian lainnya.
Selain itu seorang pendakwah mestilah mempunyai kesungguhan dalam amal dakwahnya di mana ia memiliki kerelaan untuk bekerja kuat serta sanggup menderita demi sesuatu yang diyakininya sebagai kebenaran.
Manusia yang memiliki akal akan mengerti tentang berharganya cincin berlian di mana mereka sanggup berkelahi untuk merebutkannya tetapi anjing yang berada dekat dengan cincin berlian itu tidak akan pernah menghargai cincin berlian itu sebaliknya ia akan terus berlari mengejar tulang yang ada di situ lalu mencari tempat untuk memuaskan kerakusannya.
Apabila kita memandang sesuatu benda bernilai itu sangat berharga, maka kita akan rela berkorban dan berusaha dengan penuh kesungguhan untuk :
 
a.       Mendapatkannya.
b.      Menjaganya.
c.       Mempertahankannya.
 
Sebaliknya, jika kita memandang sesuatu benda tersebut tidak cukup berharga untuk kita perjuangkan, maka jangan harap kita akan tergerak untuk berkorban dan berjuang dengan penuh kesungguhan.
 
Hingga pada akhirnya kesungguhan dalam dakwah memang bergantung kepada :
 
1.      Bagaimana persepsi pendakwah terhadap dakwah itu sendiri.
2.      Seberapa pentingnya dakwah tersebut bagi pendakwah itu.
3.      Seberapa sesuainya dakwah untuk diperjuangkan dengan penuh kesungguhan.
 
Namun di sana ada masa-masanya ketika komitmen seorang pendakwah  dibenturkan dengan berbagai kesukaran dan masalah maka, itulah saatnya  untuk mengetahui akan kualiti kesungguhannya.
 
KESEDARAN AKAN BEBAN DAN AMANAH DAKWAH
 
Dalam banyak kegiatan dakwah, ketika kita melakukan penilaian terhadap setiap kegiatan dalam organisasi kita, ada satu masalah klasik yang sentiasa menghantui kita dalam setiap hasil penilaian tersebut iaitu masalah sumber tenaga pendakwah di mana ia bukanlah sebuah masalah, namun ia justeru merupakan fitrah dari dakwah itu sendiri.
 
Ini tidaklah bermaksud untuk mencari pembenaran ke atas kekurangan yang ada pada kerja-kerja dakwah, tapi untuk mempertegaskan bahwa dalam sejarah perjalanan dakwah, jumlah 'rijal' yang menyeru kepada kebaikan dan kebenaran sentiasa jauh lebih sedikit dari orang-orang yang memerlukan dan harus 'diselamatkan' oleh dakwah.
 
Keadaan ini kerap kali meletakkan kita pada posisi yang tidak mempunyai pilihan lain atau perlu menetapkan pilihan yang serba sukar.
 
Begitu banyak amanah yang harus dipikul sementara sumber tenaga manusia begitu terbatas samada :
 
a.       Jumlahnya yang tidak mencukupi.
 
atau
 
b.      Kualitinya yang tidak merata dan seimbang.
 
Dalam konteks ini, pengertian amanah yang 'overload' pada seorang pendakwah menjadi persoalan yang sering diperdebatkan.
 
Bukankah dakwah itu sendiri memang berat?
 
Bukankah sudah menjadi kepastian bahwa bagi seorang pendakwah, bebannya lebih besar dari kebanyakan orang sehingga sudah tidak pada tempatnya lagi jika seorang pendakwah masih mengharapkan waktu senggang dan kesenangan-kesenangan seperti orang-orang lain yang tidak memikul amanah dakwah?
 
Kesenangan dan hiburan bagi pendakwah hanyalah untuk memulihkan stamina agar dapat terus melangkah di jalan yang panjang ini dan perasaan kebersamaan para pendakwah adalah hiburan dan kesenangan bagi mereka samada kebersamaan dalam menanggung beban, tertawa bersama dan menangis bersama di mana ianya adalah sebahagian dari kebahagiaan di atas jalan dakwah.
 
Kesungguhan seorang pendakwah akan mendorongnya untuk sensitif dan responsif terhadap permasalahan dakwah. Ia akan merasakan bahwa permasalahan dakwah adalah juga masalah peribadinya, kerana ia sangat menyedari bahwa setiap orang bertanggungjawab atas dirinya sendiri.
 
Allah azza wa jalla akan meminta pertanggungjawaban dari setiap peribadi atas semua yang dilakukan dan yang tidak dilakukannya. Amanah-amanah yang merupakan sebahagian dari projek dakwah dan beban organisasi, ketika tidak dilaksanakan dengan baik atau terabai, akan menjadi tanggungjawab dari setiap individu pendakwah sebagai sebahagian dari organisasi itu sendiri.
 
Ketika Bani Israil diperintahkan untuk tidak mencari ikan di hari Sabtu, sebahagian dari mereka cuba untuk melanggar perintah ini dengan memasang perangkap ikan di hari Jumaat dan mengambil hasil tangkapannya pada hari Ahad.
 
Sebahagian yang lain tetap mentaati perintah Allah, memberikan peringatan kepada saudara-saudaranya yang melanggar namun peringatan mereka diremehkan dan bahkan dikatakan bahwa pelanggaran itu bukanlah urusan mereka.
 
Orang-orang yang memberikan peringatan ini, mengatakan bahwa mereka memberikan 'taushiyah' itu agar mereka mempunyai hujjah atau bukti di hadapan Allah bahwa mereka telah melakukan sesuatu semampu mungkin dalam melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar, walaupun hasilnya tidaklah seperti yang diharapkan.
 
Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa kewajiban berdakwah tidaklah gugur hanya kerana mad'u kita menolak dakwah ini. Ia tidak pula gugur kerana saudara-saudara kita meninggalkan dakwah, melalaikan amanah-amanahnya dan meninggalkan kita berjuang sendirian kerana masalah dakwah adalah masalah pertanggungjawaban kita seorang diri di hadapan Allah sehingga kita mempunyai hujjah dihadapan Allah bahwa kita telah melakukan yang terbaik yang kita boleh dan biarkanlah Allah, para rasul dan orang-orang yang beriman yang menilai kerja kuat kita.
 
Ada satu ungkapan yang indah untuk direnungkan :
 
"Organsisai itu terdiri dari
 
1.      Material.
2.      Sumber Tenaga Manusia.
3.      Nilai.
 
Jika nilai menjadi orbit material dan sumber tenaga manusia maka organisasi itu sihat.
 
Jika manusia yang jadi orbit nilai dan material, maka organisasi itu sudah sakit.
 
Jika material yang yang jadi orbit manusia dan nilai, maka organisasi itu mati".
 
Ya, Allah tambahkanlah untuk kami keikhlasan niat, kedalaman ilmu, kelapangan hati, kebersihan jiwa, kejernihan fikiran, lautan kesabaran, samudera kelembutan serta indahnya cinta dan kasih sayang dalam ukhuwah dalam kami memikul amanah dakwah dan tarbiyah di jalanMu sehingga kami mendapat keridhaanMu di akhirat nanti.
 
Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS
0

Islam Bukan Pelampau

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,
Kita sering mendengar tuduhan musuh-musuh Islam bahwa agama kita adalah agama  pelampau.
Umat Islam Palestin yang bergabung dalam Hamas dan ingin melepaskan diri dari cengkaman penjajahan Israel juga disebut sebagai kelompok pelampau.
Orang-orang yang komited dengan agamapun sering disebut pelampau.
Sebenarnya kita perlu meneliti dengan lebih mendalam apakah yang dikatakan sikap pelampau itu dan layakkah agama Islam yang sederhana dan penuh kasih sayang juga dituduh sebagai pelampau?
Sikap pelampau adalah pemikiran atau sikap yang cenderung berada di hujung, samada hujung kanan ataupun hujung kiri.
Sikap pelampau boleh dibezakan dalam dua kategori :
  1. Pelampau kanan.
  2. Pelampau kiri.
Dalam bahasa Arabnya, "sikap pelampau" sering diterjemahkan dengan kata-kata "tatharruf"  yang makna secara bahasanya adalah "menuju ke arah hujung.".
Menuju ke hujung sesuatu bererti dibimbangi akan keluar dari batasnya.
Dalam Al Quran ianya sering disebut sebagai "melampaui batas" seperti dalam firman-firman Allah berikut :
"Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS Al Baqarah : 229)
"Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan RasulNya dan melanggar ketentuan-ketentuanNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." ( QS An Nisaa' : 14)
Sikap melampau sama sekali tidak sama maknanya dengan berpegang teguh pada agama dan melaksanakan kewajibannya sesuai dengan tuntunan dan aturan yang diberikan oleh Allah swt.
Orang yang berpegang teguh pada ajaran agama tidak boleh dikatakan sebagai pelampau.
Demikian juga orang yang melaksanakan sunnah Rasulullah saw secara tetap seperti :
  1. Menunaikan solat di awal waktu.
  2. Berkahwin.
  3. Menyimpan janggut.
  4. Menutup aurat dengan berjilbab.
  5. Menggunakan siwak.
dan lain-lain di mana semua perilaku ini tidak boleh dikatakan melampau.
Bahkan jika seseorang bersikap tegas untuk dirinya sendiri sekalipun dalam melaksanakan sesuatu yang dianggap wajib oleh dirinya, seperti memakai 'cador' atau 'burqa' tidak boleh dikatakan melampau selagi mana ia tidak mewajibkan perkara tersebut kepada orang lain.
Ini sebagaimana yang disebut oleh Dr. Yusuf Al Qardhawi dalam kitabnya "Dzahiratul Ghuluwwi Fit Takfir" keluaran Maktabah Wahbah, Kaherah.
Sikap melampau ini muncul akibat pertentangan kepentingan atau nilai antara dua kelompok atau lebih, di mana setiap kelompok merasa paling benar sedangkan orang lain dianggap salah.
Menurut kajian, ada empat perkara yang menyebabkan munculnya sikap melampau iaitu:
PERTAMA :
Jurang perbezaan antara dua generasi yang muncul dalam satu keluarga besar. Seorang anak merasa berbeza jauh dengan ibu bapanya dalam banyak aspek kehidupannya boleh melahirkan sikap melampau dari si anak.
KEDUA :
Keretakan keluarga yang timbul akibat kesibukan ibubapa sehingga tidak sempat mendidik anak-anak, memerhatikan serta mengawasi semua aktiviti mereka juga akan  membentuk sikap melampau kepada si anak, samada sikap melampau ke kanan mahupun ke kiri.
KETIGA :
Tiadanya suri tauladan yang baik di sekolah di mana para guru tidak lagi mendidik murid-muridnya selain hanya mencampakkan ilmu ke dalam otak dan tidak mengetahui permasaalahan yang melingkari muridnya.
KEEMPAT :
Terdapat jurang yang ketara antara apa yang dikatakan atau diberitahu kepada para remaja berbanding dengan realiti sebenar tanpa ada usaha untuk menyingkap hakikat yang sebenarnya melalui media massa. Ini ditambah pula dengan adanya usaha-usaha untuk merosakkan para remaja dengan menggunakan semboyan-semboyan yang palsu dan kosong.
Sikap-sikap melampau ini sering muncul juga akibat kurang faham seseorang terhadap ajaran Islam yang penuh rahmat. Mereka tidak faham bahwa Islam diturunkan untuk menebarkan kasih sayang ke seluruh alam.
Rasulullah saw diutus ke dunia ini untuk menebarkan rahmat ke seluruh alam semesta sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah swt :
"Tidaklah kami utus engkau (Muhammad) kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam." (QS Al Anbiyaa' : 107)
Rahmat yang dipancarkan melalui ajaran-ajaran Islam yang dibawanya ini tidak sahaja diperuntukkan kepada manusia semata-mata tetapi juga meliputi seluruh makhluk ciptaan Allah.
Baginda saw pernah bersabda :
"Orang-orang yang menebarkan rahmat (kasih sayang) akan dilimpahi rahmat oleh Allah. Oleh sebab itu tebarkanlah kasih sayang kepada semua yang di bumi ini supaya dianugerahi kasih sayang oleh yang ada di langit." (HR Ahmad, Al Hakim, Abu Daud dan Tirmizi)
Untuk menepis tuduhan sikap melampau dari Islam, kita perlu menampilkan inti ajaran Islam dan menyusuri jejak perilaku Nabi, para sahabat dan tabi'in serta para pengikutnya yang benar-benar mengamalkan Islam secara konsisten sepanjang sejarah.
Kalau kita menyusuri ajaran-ajaran Islam secara utuh, banyak sekali ayat atau hadits Nabi yang secara tersurat atau tersirat menyuruh kita untuk menebarkan rahmat ke seluruh alam ini dan menjauhkan semua bentuk sikap melampau.
Berikut adalah beberapa contoh :
PERTAMA : Kita disuruh menebarkan kasih sayang antara sesama muslim :
"Seorang muslim adalah orang yang menjaga keselamatan muslim lainnya dari kejahatan tangan dan lisannya."
"Tidaklah beriman seorang yang tetangganya yang tidak aman dari kejahatannya.".
"Tidaklah sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR Ahmad dalam kitab Musnad)
KEDUA : Kita diperintahkan untuk menebarkan kasih sayang dan kebaikan kepada seluruh umat manusia termasuk bukan Islam :
"Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk tidak berbuat adil." (QS Al Maidah : 8)
"Sesungguhnya Allah menyuruh untuk berbuat adil dan berbuat baik." (QS An Nahl : 90)
KETIGA : Kita dianjurkan untuk menebarkan kasih sayang kepada binatang dan semua yang ada di muka bumi ini.
Rasulullah saw menyatakan :
"Sesungguhnya Allah mencatat semua bentuk kebaikan yang diberikan kepada sesuatu apapun. Oleh sebab itu bila menyembelih binatang hendaklah menyembelihnya dengan baik-baik, meringankan beban binatang sembelihannya dan hendaknya mempertajam pisau yang akan digunakan." (HR Ahmad, Muslim dan Imam yang Empat)
Islam adalah agama rahmah, penuh kasih sayang dan jauh dari sikap berlebihan dan melampaui batas.
Perkara ini boleh dilihat dari beberapa sudut :
  1. Sifat kasih sayang dijadikan Islam sebagai salah satu akhlak utama yang mesti dimiliki oleh setiap umat Islam.
  2. Islam melarang keras umatnya untuk bersikap melampau, melakukan tindakan kekerasan dan ta'asub buta.
  3. Islam menyuruh kita untuk bertoleransi kepada bukan Islam selagi mana mereka tidak menampakkan permusuhan dan adu domba kepada kita.
Di samping itu, Islam dikenali sebagai agama yang :
  1. mudah.
  2. Sederhana.
  3. Penuh kasih sayang.
  4. Pemaaf.
  5. Jauh dari sikap pendendam.
  6. Tidak membenarkan prinsip "tujuan menghalalkan segala cara".
Islam menyuruh kita semua untuk sentiasa berlapang dada, berperasaan halus, berakhlak mulia dan mahu mendengarkan pendapat orang lain. Sikap dan perilaku melampau bertentangan dengan ajaran Islam yang sederhana dan penuh kasih sayang.
Ada suatu fakta yang tidak dapat dibantah. Dalam suatu negara yang penduduknya majoriti muslim, kita dapati orang bukan Islam hidup aman dan mendapat perlindungan yang sebaik-baiknya, ada yang menjawat jawatan tinggi bahkan ada yang boleh menjadi menteri dan sebagainya.
Tapi sebaliknya, bila umat Islam sebagai minoriti, biasanya mereka akan tertindas dan dihadapi dengan sikap diskriminasi. Perkara ini telah terbukti di negara-negara yang majoriti penduduknya bukan Islam.
Benarlah firman Allah swt :
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS Al Baqarah :120)
Ya Allah, berilah kekuatan kepada kami untuk kami realisasikan nikmat Islam sebagai rahmah bukan sahaja kepada manusia tetapi juga kepada seluruh makhluk yang wujud di alam semesta ini. Jauhkanlah diri kami dari sikap berlebihan dan melampau samada dalam memahami ajaran Islam yang suci atau perlaksanaan dan pengamalannya dalam kehidupan kami serta jadikanlah kami umat pertengahan yang menjadi saksi ke atas seluruh manusia.
Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS
0

Bangkitlah Al-Aqsa As-Syarif

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Sejak Al-Quds dijajah pada tahun 1967, bangsa Zionis telah berusaha dengan segala kemampuanya untuk mencelup kota Al-Quds dengan celupan Yahudi dan cuba menghapuskan semua bukti-bukti kebudayaan Islam di kota tersebut.

Sementara itu, penggalian di bawah Masjid Al-Aqsha dan sekitarnya terus mereka lakukan. Penggalian ini akan merobohkan sejumlah bangunan bersejarah di Al-Quds. Untuk mempercepatkan tujuannya, Israel menggunakan bahan kimia bagi menghancurkan tiang-tiang yang berada di bawah Al-Aqsha.

Pemerintah Israel terus melakukan pembaharuan dalam projek meyahudikan Al-Quds terutama di wilayah timurnya seperti :

1. Membangun tempat parkir kereta setinggi 7 tingkat yang dapat menampung ribuan kenderaan.

2. Memasang portal di pintu Al-Asbath menuju Kota Lama bagi menghalang warga Palestin masuk ke kawasan tersebut.

3. Membangun jambatan layang-layang dari Jabal Zaitun melalui gerbang Al-Rahmah tembus hingga ke Barat Al-Quds di Silwan.

4. Membangun terowong kereta dari pintu Hebron menuju tembok ratapan di dinding Al-Buraq.

Kesemua pembangunan ini jelas mengancam sejumlah wilayah bersejarah di Kota Lama Al Quds.

Di sisi lain, serbuan bertubi-tubi terhadap Masjid Al-Aqsha hasil kerjasama antara pemerintah Israel dan kelompok radikal Zionis tidak lagi dilakukan dengan sembunyi-sembunyi tapi secara terang-terangan dan diketahui oleh masyarakat ramai.

Penggalian yang mereka lakukan secara "marathon" dan bukan lagi tersembunyi  bahkan terang-terangan itu belum juga menemui kesan-kesan Haikal yang mereka dakwa berada di dalamnya. Walaupun sudah terbongkar, tidak ada bukti-bukti yang sahih berupa "Bekas Kerajaan Daud" yang mereka dakwa sebagai Haikal Sulaiman yang dikatakan berada di atas tapak Masjid Al-Aqsha, namun pemerintah Israel tidak pernah berhenti melakukan penggalian tersebut.

Ini tiada tujuan lain melainkan mereka ingin sekali menghancurkan bangunan-bangunan bersejarah milik umat Islam termasuk di dalamnya kiblat pertama umat Islam iaitu Masjid Al-Aqsha.

Persoalannya sekarang, apakah Allah akan memberikan kesempatan bagi Zionis untuk menghancurkan Al-Aqsha???

Sebahagian orang mungkin berkata, tidak mungkin Al-Aqsha dapat dihancurkan oleh Israel kerana Al-Aqsha merupakan kiblat pertama umat Islam. Dengan kedudukan yang tinggi dalam agama, tidak mungkin Zionis dapat menghancurkanya sebagaimana Abrahah dahulu tidak dapat menghancurkan Ka'bah.

Nabi Muhammad saw pun pernah berbicara tentang fitnah yang akan berlaku di akhir zaman dan tidak disebutkan tentang kehancuran Al-Aqsha.

Inilah yang sering kita dengar dari sebahagian besar kaum muslimin. Dalam setiap kesempatan mereka mengatakan, bagi Al-Aqsha ada pemeliharanya iaitu Allah swt.

Betul, memang tidak ada khabar atau hadits yang menyatakan kehancuran Al-Aqsha tetapi itu tidak bererti ia tidak akan berlaku. Tidak semestinya semua yang tidak ada nashnya tidak akan berlaku. Banyak sekali peristiwa yang berlaku, tetapi tidak ada nash yang menjelaskanya, walaupun hanya sekadar hadits dhaif.

Ka'bah dahulu pernah dihancurkan pada zaman Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafi. Ia menggempurnya dengan lastik raksasa untuk menghancurkan Abdullah bin Zubair ra. Begitu juga dengan kaum Qaramithah yang mencuri Hajarul Aswad pada tahun 293 H. Selama 22 tahun, Hajarul Aswad berada dalam kekuasaan Qaramithah.

Bukan itu sahaja, disebutkan dalam Shahih Bukhari, Rasulullah saw mengatakan ;

"Ka'bah akan dirosakkan oleh kelompok Dzu Suwaiqatan dari Habsyah, ia akan dirampas perhiasannya serta dicabut kelambunya. Akan tetapi aku hanya melihatnya membiarkannya ia terlepas dipukul dengan penyodok dan cangkulnya".

Dari sini jelaslah, Ka'bah atau Baitullah Al-Haram akan dihancurkan dan yang menghancurkanya adalah seseorang dari keturunan Habsyah (Ethiopia).

Jika Baitullah pun akan hancur, maka bagaimana dengan Masjid Al-Aqhsa yang darjat dan kedudukannya lebih bawah dari Masjid Al-Haram???

Dr Abdul Aziz Kamil mengatakan :

"Tidak ada nash yang dapat dijadikan pegangan yang menunjukkan bahwa penghancuran Masjid Al-Aqsha adalah sesuatu yang mustahil dan perkara tersebut bukan salah satu syarat dari peristiwa fitnah akhir zaman. Lebih dari itu, banyak peristiwa yang berlaku tanpa disebutkan dalam ayat mahupun hadits. Sebahagiannya telah dikhabarkan dan sebahagiannya terhapus dari ingatan".

Tinggal satu lagi pertanyaan iaitu kenapa Baitullah Al-Haram dilindungi oleh Allah ketika pasukan Abrahah mahu menghancurkanya tetapi Allah tidak melindunginya ketika dihancurkan oleh Hajjaj bin Yusuf atau ketika dicuri batunya oleh golongan Qaramithah atau tidak akan dilindungi ketika nanti
dihancurkan oleh orang Habsyah?

Jawabannya mungkin, ketika raja Abrahah datang hendak menghancurkan Ka'bah, di sana tidak ada orang yang dibebani secara syar'i untuk melindunginya.

Bangsa Arab dahulu mengagungkan Ka'bah kerana bangunan tersebut dibangun oleh datuk mereka Ibrahim dan Ismail alaihimassalam. Namun, setelah datangnya Islam, ada yang dibebani secara agama untuk melindungi dan mempertahankan Baitullah Al-Haram untuk menumpahkan segala kemampuanya bagi melindunginya, iaitu umat Islam.
Di sanalah akan terlihat siapa yang bersusah payah dalam melindunginya dan siapa yang melalaikannya.

Kesimpulannya, jika umat Islam tidak membelanya maka tidak menghairankan apabila suatu hari apabila kita bangun dari tidur sementara bangsa Yahudi sudah menghancurkan Masjid Al-Aqsa.

Inilah yang ditulis oleh As-Syahid Abdul Aziz Al-Rantisi dalam sebuah makalahnya yang ia tulis setelah gugurnya As-Syahid Syaikh Ahmad Yasin.

Ia mengatakan ;

"Saya mengira bahwa Allah akan memberi kesempatan bagi Zionis untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsha sebagaimana mereka dibiarkan membunuh As-Syahid Ahmad Yasin".

Sebenarnya, masalah Al-Aqsha sama dengan Masjid Al-Haram dari segi kemungkinan penghancurannya.

Mungkin Yahudi dapat menghancurkan al-Aqsha. Kenapa tidak?

Mereka telah membakarnya pada tahun 1969 sementara Al-Aqsha sekarang berdiri di atas sejumlah terowong hasil dari aktiviti penggalian di mana ketika ini Al-Aqsha tidak mempunyai asas untuk menguatkan bangunannya ke dalam tanah.

Namun ada yang berhujjah dengan hadits Nabi saw yang mengatakan :

"Aku peringatkan kamu dengan fitnah Dajjal. Tidak ada seorang Nabipun, kecuali telah memberikan peringatan kepada umatnya (tentang Dajjal). Ia adalah keturunan Nabi Adam yang mata kirinya buta (tidak dapat melihat), pohon-pohon tidak tumbuh. Ia menguasai satu jiwa kemudian membunuhnya lalu menghidupkanya kembali. Ia pun tidak menguasai yang lainya. Bersamanya ada syurga, neraka, sungai, air, gunung dan roti. Sesungguhnya syurganya adalah neraka. Dan nerakanya adalah syurga. Ia akan hidup bersama kamu selama 40 malam. Ia dapat berpindah dan mengunjungi semua tempat kecuali empat masjid, Masjid Al-Haram, Masjid Madinah, Masjid Tursina dan Masjid Al-Aqsha. Potongan tubuhnya seperti kamu dan sesungguhnya Allah tidak buta".

Inilah hadits yang dijadikan alasan namun mungkin juga boleh berlaku selain dari itu di mana mungkin sahaja Al-Aqsha dihancurkan lalu dibangunkan kembali atau yang dimaksudkan dengan masjid di sini adalah tempat di mana dibangunnya Masjid Al-Aqsha.

Rasulullah saw pun pernah solat mengimami para Nabi di Masjid Al-Aqsha pada malam Isra' dan Mi'raj padahal di sana belum ada bangunan Masjid Al-Aqsha ketika itu.

Bangunan Masjid Al-Aqsha hanya dibangunkan pada pemerintahan Amirul Muminin, Umar Ibnu Al-Khattab ra.

Walaubagaimana tingginya kedudukan Al-Aqsha, namun tentu tidak melebihi kedudukannya dari Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Haram tidak lebih tinggi kedudukannya dari kehormatan darah seorang muslim.
Rasulullah saw pernah bersabda dalam khutbah haji wada' :

"Ketahuilah, semulia-mulia hari adalah hari ini, semulia-mulia bulan adalah bulan ini, semulia-mulia negeri adalah negeri ini. Ketahuilah, sesungguhnya darah kamu, harta kamu terhormat, sebagaimana terhormatnya hari ini, bulan ini dan negeri ini".

Dan dalam riwayat yang lain dari Abdullah bin Umar ia berkata, aku melihat Rasulullah saw thawaf mengelilingi Ka'bah dan berkata :

"Sebaik-baik wangian adalah wangimu, seagung-agung kehormatan adalah kehormatanmu. Demi jiwa Muhammad yang ada dalam genggamanNya, kehormatan seorang mu'min lebih agung daripada kehormatanmu di sisi Allah. Lebih terhormat darimu darahnya dan hartanya dan berbaik sangkalah kepadanya".

Jika kehormatan darah seorang muslim lebih tinggi daripada kehormatan Baitullah Al-Haram, maka tidak ragu lagi, darah seorang muslim lebih terhormat di sisi Allah berbanding Masjid Al-Aqsha, walaubagaimana tinggi pun sekalipun kedudukan Masjid Al-Aqsha di sisi umat Islam.
Kaum muslimin ketika ini, di manapun mereka, berada dalam kongkongan kesombongan dunia dan kezaliman antarabangsa. Bangsa Palestin berkubang dalam penjajahan Zionis yang zalim. Mereka dibunuh setiap hari, tanpa perikemanusiaan. Tidak dibezakan antara anak kecil, orang tua, laki-laki mahupun perempuan. Mereka diperlakukan sama. Kesalahan mereka hanya satu iaitu kerana mereka adalah seorang muslim.

Besarnya kehancuran dan kerosakan serta darah yang mengalir dari para syuhada', anak-anak, wanita dan warga awam merupakan hasil dari peperangan yang ditebarkan oleh Zionis secara zalim dan keji ke atas Gaza dan Al Aqsha yang mulia menegaskan bahwa Zionis jika menguasai umat Islam dan dunia akan melakukan apa sahaja terhadap umat Islam dan umat manusia sesuai dengan kehendak mereka tanpa:

1. Mempertimbangkan dan menghormati perjanjian yang telah mereka buat.
2. Mempedulikan penderitaan yang dialami oleh umat Islam.
3. Merasa bersalah terhadap perbuatan yang telah mereka lakukan.
4. Mempedulikan pelanggaran hak ke atas warga yang tidak berdosa.

Bahkan kerana kerasnya hati mereka dan didorong oleh kebencian dan kemurkaan, dengan berleluasa mereka melakukan pelanggaran lebih besar jika mereka mampu melakukannya, sebagaimana yang firman Allah swt :

"Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu) ; dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir". (QS Al-Mumtahanah : 2)

Mereka tidak akan pernah terlambat melakukan pembantaian terhadap umat Islam tanpa ada belas kasihan sedikitpun kecuali jika mereka dalam keadaan lemah. Dan perkara ini bukanlah suatu kecelakaan atau sesuatu yang sifatnya sementara, namun ianya bersifat kekal dan sepanjang masa kerana permusuhan mereka terhadap kebenaran dan pembawa kebenaran dalam sepanjang waktu dan masa dari sejarah umat manusia adalah kekal tanpa terkecuali!
Allah swt berfirman :

"Bagaimana boleh (ada Perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), Padahal jika mereka memperolehi kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang Fasik (tidak menepati perjanjian). Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu. Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mu'min dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. dan mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas". (QS At-Taubah : 8-10)

Oleh kerana itu, mereka adalah kaum yang sentiasa :

a. Melakukan kezaliman.
b. Melakukan pembangkangan dan pelanggaran.
c. Tidak pernah menghargai nilai-nilai kesucian dan tempat-tempat yang disucikan.
d. Tidak pernah menghargai harga diri dan kehormatan manusia.
e. Menginjak-injak segala sesuatu yang diagungkan dan dihormati oleh manusia seperti etika dan akhlak, agama dan keyakinan.

Allah swt berfirman :

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik". (QS Al-Maidah : 82)

Lihatlah pasukan angkuh AS telah menghancur leburkan Irak padahal dulunya ia sebagai pusat kebudayaan dan kekhalifahan Islam. Bahkan kita melihat, bagaimana tentera AS melakukan sesuatu di atas semua bentuk kejahatan terhadap saudara kita.
Di antara mereka ada yang :

a. Dibunuh.
b. Dipenjara.
c. Dicabul kehormatannya.

Bukankah ini lebih besar di sisi Allah berbanding Masjid Al-Aqsha???

Apakah ia belum cukup untuk membangkitkan umat Islam???

KEWAJIBAN UMAT ISLAM

Sesungguhnya kewajiban kita sebagai umat Islam terhadap Palestin dan peranan kita dalam membela sangatlah penting.

KEWAJIBAN PERTAMA

a. Meluruskan niat kita.
b. Memperbarui iman kita.
c. Mengikatkan diri kita kepada Allah.
d. Meminta pertolongan kepadaNya.
e. Bertawakal kepadaNya di setiap amal dan jihad serta pengorbanan kita.
f. Meyakini bahwa jihad adalah puncak dari tingkatan Islam dan di sanalah harga diri dan kemuliaan kita.

KEWAJIBAN KEDUA

a. Setiap keluarga muslim mesti menanamkan dalam hatinya dan hati anak-anaknya bahwa masalah utamanya, cita-citanya yang terbesar dan yang paling menyibukkannya adalah membebaskan Palestin.

b. Mereka mesti dididik sejak dalam kandungan lagi untuk cinta kepada Allah, RasulNya serta cinta jihad di jalan Allah.
c. Mengajarkan kepada mereka bahwa cinta kepada Palestin dan masjid Al-Aqsha adalah sebahagian dari iman.

d. Mereka mesti diajarkan bahwa tidak ada persamaan antara jihad dan terorisma di mana jihad adalah pengorbanan untuk mengembalikan hak yang dirampas, membela kehormatan dan mengusir penjajah sehingga kalimah Allah menjadi yang tertinggi.

e. Mereka mesti diajarkan bahwa terorisma adalah penjajahan terhadap negeri orang lain, merampas secara paksa kekayaan alam negeri lain, mengusir warganya yang aman, mengalirkan darah orang-orang yang tidak bersalah, wanita dan anak-anak dari negeri mereka.

KEWAJIBAN KETIGA

a. Wajib membantu dan mendukung bangsa yang terkepung dengan segala kemampuan bagi setiap muslim. Dulu Ikhwanul Muslimin di Mesir menyebutnya sebagai tindakan "1 Qirsy (jenis mata wang Mesir dulu) untuk Palestin" manakala hari ini, setiap muslim mesti menyediakan sebahagian hartanya untuk membantu saudara mereka di Palestin yang terkepung dengan nama "1 Junaih (mata wang Mesir sekarang) untuk Palestin" atau juga 1 Ringgit, 1 Dollar bagi setiap matawang masing-masing setiap bulan secara minima atau lebih.

b. Mesti melatih anak-anak untuk menabung wang sakunya untuk mendukung dan membantu anak-anak yatim Palestin yang terusir.

KEWAJIBAN KEEMPAT

Barangsiapa yang tidak mampu berjihad dengan harta maka kewajibannya adalah dengan :

a. Memenuhi hatinya dengan cinta kepada para mujahidin.
b. Cinta melihat keadilan kepada sebuah bangsa.
c. Menolong mereka.
d. Mendorong manusia untuk berinfak demi mereka.
e. Bangun malam dengan berdoa di tengah malam dengan segenap hati yang tulus agar Allah mengangkat penderitaan mereka serta menolong mereka kerana panahan di tengah malam sangat tepat dan tidak akan tersalah bidikan.

"Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperolehi apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan RasulNya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS At-Taubah : 91)

KEWAJIBAN KELIMA

Ikut serta dalam demonstrasi massa dan sokongan padu dalam mendukung bangsa Palestin yang terkepung dan mereka yang membela masjid Al-Aqsha dan tempat suci lainnya.


KEWAJIBAN KEENAM

Menghubungi saudara-saudara kita di Palestin dengan telefon atau melalui jaringan informasi untuk mendukung mereka dan memberikan segala sokongan yang diperlukan untuk menghadapi musuh sambil berdoa.

Ya Allah, sesungguhnya Al-Aqsha dulu pernah ditawan oleh tentera salib selama 90 tahun namun bangunan sejarah dan Masjidnya masih tersergam tetapi kini ia mengalami bahaya keruntuhan dan kemusnahan setelah terjajah oleh rejim Zionis Yahudi selama 44 tahun. Datangkanlah hamba-hambaMu yang akan membebaskan Al-Aqsha As-Syarif dan hancurkanlah penguasaan mereka terhadapnya serta kembalikanlah ia ke tangan umat Islam.

Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS

Alamat Perhubungan

Pertubuhan IKRAM Malaysia (IKRAM) Daerah Kuala Langat
No. A-2-08, Blok A, Tingkat 2,
Jalan Bunga Pekan 9,
Pusat Perniagaan Banting Uptown,
42700 Banting, Selangor.

GPS: 2.811313,101.503486


Back to Top